Database Seniman

Agus “Mbendhol” Margiyanto



BIDANG SENI




KOTA ASAL

Kota Solo, Jawa Tengah

Agus “Mbendhol” Margiyanto lahir di Solo tanggal 16 Agustus 1981. Dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga non-seni. Ayahnya, Wiyoto (almarhum) adalah pengrajin gitar. Ibunya, Saminten, ibu rumah tangga biasa. Agus anak terakhir dari delapan bersaudara. Agus dan keluarganya tinggal di Dawung Wetan, RT 02 RW 11, Pasar Kliwon, Solo. Keluarga Agus menghormati perbedaan: Agus seorang Kristen Protestan, salah seorang kakaknya Islam.

Agus menempuh pendidikan formal di SD Negeri Sudiroprajan, Solo. Lalu dia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 27 Solo. Pendidikan lanjutan dia tempuh di SMEA Saraswati Solo, Jurusan Sekretaris. Pendidikan tari secara formal baru diperolehnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo Jurusan Tari, Jalur Koreografer.

Agus mengawali proses kreatif berkesenian justru di dunia teater. Ia anggota kelompok Teater Ruang, Solo pimpinan Joko Bibit Santosa. Dari tahun 1997-2002, ia terlibat sebagai aktor dalam beberapa produksi Ruang, a.l., Samadi, Pesta Bangkai-Bangkai, Aku Cinta Padamu, NAPOL, dan SEL. Teater Ruang adalah kelompok teater yang dalam penyajiannya banyak menggunakan teknik olah tubuh. Belajar dari senior pendekatan tubuh itu akhirnya menjadi kiblatnya dalam dunia tari.

Sebelum masuk ISI Solo (d/h Sekolah Tinggi Seni Indonesia/STSI) tahun 2001, Agus pernah bergabung dengan kelompok tari modern “Manira Tari” pimpinan Wied Sendjayani sekitar (1999). Di kelompok inilah Agus mendapatkan pelajaran berharga mengenai dasar-dasar menari.

Memulai karier sebagai penari beberapa beberapa koreografer a.l., Suprapto Suryosudarmo, Dedi Luthan, Jarot B. Darsono, S Pamardi, Eko Supriyanto, Wahyu SP, Fajar Satriadi, Eko Supendi, Nuryanto, Heri ‘Bod’nk”, Anggono W Kusumo, Saryuni, Kandi, Ni Kadek Y, Retno Sulistyorini, Rini Endah, Irawati Kusumorasri, M Guntur AS., Boby Ari S, Rianto, Dedi Satya A dan Muslimin (2002-2006).

Perlahan Agus mulai tertarik menata tari sendiri. Tahun 2002, dia bertemu beberapa teman sepaham, termasuk Boby A.R.–yang menjadi partner mendirikan kelompok Independen Expression.

Agus pernah terlibat dalam teater tari Pappatarahumara dari Jepang sebagai actor. Agus juga terlibat dalam repertoar Kembalinya Legenda Sawung Galing bersama Sawung Jabo (2004). Dia juga terlibat sebagai pemain dalam film-tari karya Garin Nugroho yang berjudul Opera Jawa (2006).

Agus Mbendhol Margiyanto menari di English National Opera London dalam sebuah pentas opera dengan sutradara Chen Shi-Zheng (2006-2007). Dia juga menari bersama kelompok IBS Dance Theater dengan koreografer Sen Hea Ha dari Korea Selatan (2008).

Sebagai koreografer, Agus menghasilkan beberapa karya tari. Di samping … &… (2001), Agus juga menciptakan karya Satu (2001), Day-Lama (2003), Tubuh dalam Tubuh (2003), Hari ke-50 (2006), Ya di Sini… (2007), Asmara Jinurung Puja (2007), Pergola (2009) dan Me-I (2009) yang merupakan edisi revisi dari Pergola.

Selain itu sebenarnya masih ada beberapa karya tari lain yang merupakan hasil dari proses pencarian secara pribadi maupun dengan Komunitas Independent Expression (IE). IE adalah kelompok penari muda yang didirikan di Solo pada Februari 2002 sebagai sebuah wadah kreatif yang berangkat dari kebersamaan dan keinginan untuk melakukan proses pembelajaran. Wadah ini sekaligus berfungsi sebagai ruang bebas pada fase perkembangan untuk pematangan diri menjadi seniman.

Niken Satyawati – Penulis
Sal Murgiyanto – Editor

Profil

Pengalaman berteater menuntun Agus Mbendhol Margiyanto ke ranah koreografi. Dalam karya pertamanya “….&….” (2001) nampak kuat ekspresi wajah, teriakan dan penekanan pada setiap bentuk gerak. Dalam karya tersebut, Agus mencoba menangkap permasalahan yang luas, dengan konteks yang multi-tafsir: seorang manusia dengan kondisi kejiwaan dan masalah sosial. Dia sendiri tidak mampu menanggungnya tapi tak tahu harus kemana. Setting batu di panggung menjadi simbol kebuntuan yang diam.

Tahun 2001 Agus menggarap Satu yang ditarikannya berdua dengan Dwi Windarti. Kali ini dengan iringan musik kolase. Karya ini lahir atas dorongan Eko Supriyanto, yang baru pulang dari menimba ilmu di UCLA, AS. Semangat Eko yang berapi-api menjalar pada Agus, menumbuhkan rasa percaya diri. Dalam Satu gerak penari lebih dinamis. Karya tersebut bertumpu pada teknik gerak yang dia dapat di Sanggar Maniratari asuhan Wied Senjayani.

Dua tahun kemudian Agus menggarap Day-Lama (2003) yang ditampilkan di Solo Dance Festival. Judulnya mengingatkan kita pada Dalai Lama, pemuka agama Budha di Tibet. Memang itulah yang ingin dia sampaikan: semangat beragama Dalai Lama. Dengan setting piramid bambu raksasa yang diciptakannya, Agus menari dan memanjat. Mencapai puncak piramid menjatuhkan diri bergantung dengan posisi kepala di bawah pada akhir pertunjukan.

Dalam karya ini Agus mulai mencari keindahan gerak dari bentuk-bentuk gerak fisikal untuk menggambarkan hubungan transendental manusia dengan Tuhan. Agus beranggapan hubungan manusia dengan Tuhannya diteguhkan melalui jalan berliku melewati hari-hari yang panjang, menuju ke titik puncak. Berbeda dari karya-karya sebelumnya, Agus memakai iringan musik live: gitar yang dipukul dengan lidi dan alat musik Brazil.

Tahun 2003, Agus menggarap Tubuh dalam Tubuh, sebuah duet yang ditarikannya dengan Astri tanpa iringan musik. Karya ini merupakan ungkapan kegelisahan sang penari, yang berpikir bahwa setiap pria mempunyai sisi-sisi feminin dan sebaliknya perempuan mempunyai sisi-sisi maskulin. Sepanjang pentas kedua penari bergerak saling tempel. Agus mengungkapkan bahwa secara naluriah laki-laki akan menjadi lembut ketika berhadapan dengan perempuan: membaur dan luluh.

Tema religi diangkat Agus a.l. dalam Ya di Sini… (2007). Agus membangun suasana gereja melalui setting panggung. Lebih 20 orang hadir di pentas sebagai jemaat. Karya ini berbicara tentang Tuhan yang penuh cinta-kasih. Agus resah melihat banyak orang bertindak mengatasnamakan agama namun berperilaku jauh dari ajaran agama. Kendati banyak “figuran”, penari sebenarnya dalam karya ini hanya tiga orang: Agus sendiri, Arif dan Yasinta.

Walau tak dibesarkan dalam lingkungan tradisi yang ketat, Agus cukup dekat dengan ranah tradisi. Asmara Jinurung Puja (2007) adalah penafsiran Agus atas tari tradisi Enggar-Enggar. Cinta tulus seorang istri, terwujud dalam doa yang menyelamatkan suami di medan laga. Inspirasi diambil dari kisah Anjasmara yang semula tak rela ditinggal Damarwulan. Tetapi ketika sadar suami harus berperang, Anjasmara berserah diri melalui doa keselamatan bagi suami.

Agus semakin kritis dalam Pergola (2009) taman tempat bersantai orang-orang kaya. Pergola bercerita tentang manusia yang tidak peduli dengan lingkungannya. Kesibukan duniawi menjauhkannya dari masyarakat. Akibatnya sebuah kesendirian yang membahayakan. Melalui koreografinya Agus mengangkat isu global warming mengkritisi kondisi dunia yang semakin panas akibat perbuatan para penghuninya. Iringannya musik jazz yang digarap Gusur, Jonathan, Subhan, dan Dolly.

Niken Satyawati – Penulis
Sal Murgiyanto – Editor

Karya

Me -I, Pergola (2009)
Asmara Jinurung Puja, Ya Disini (2007)
Hari Ke-50 (2006)
Tubuh Dalam Tubuh, Daylama (2003)
Satu, “…. & ….” (2001)

Kontak

Agus “Mbendhol” Margiyanto
Dawung Wetan Solo RT 02 RW 11, Serengan, Solo East Java
Email: margiyanto_agus@yahoo.com

Galeri