Akhir Manis untuk Menangis

Ditulis oleh Aris Setiawan

Kata Panggung dari Pementasan Lengger Laut oleh Otniel Tasman (Peraih Hibah Seni Karya Inovatif 2014)

Transgender telah mengakar dalam dunia seni pertunjukan kita. Kisah-kisah tentangnya tak semata bersentuhan dengan dimensi artistik namun juga kemanusiaan. Ia berada di wilayah yang abu-abu, antara masukilin dan feminin. Narasi tentang keberadaanya selama ini banyak ditempatkan pada stereotip negatif, abnornal dan produk dari budaya yang salah. Mereka seolah tak menemukan ruang eksistensi di wilayah sosial. Namun tidak di wilayah kesenian. Tansgender justru menjadi simbol yang mampu memberi warna dan unikum tersendiri. Setidaknya itulah yang dapat dipetik saat menyaksikan karya tari Otniel Tasman di Teater Arena Taman Budaya Surakarta pada 29-30 Agustus 2014. Otniel membawakan judul “Lengger laut” yang berkisah tetang lengger lanang (laki-laki) di wilayah Banyumas.

Inspirasi Lengger
Lengger merupakan tari pergaulan, semacam gambyong, gendrung dan tayuban. Tari-tarian semacam itu tersebar hampir di seluruh wilayah Jawa. Kisah menjadi menarik saat yang menarikan adalah laki-laki, bukan perempuan. Laki-laki itu merias dirinya secantik mungkin, angggun dan gemulai. Tak kalah dengan wanita sesungguhnya. Menarinya enerjik, tenaganya super, mampu bertahan dari sore hingga larut pagi. Di Banyumas dan sekitarnya, mereka biasa disebut dengan “Lengger Lanang”. Adapun Dariah adalah maestro lengger lanang yang masih hidup hingga saat ini. Di usianya yang ke 87 tahun, di saat pendengarannya mulai berkurang, ia masih mencoba untuk menari walau tertatih-tatih. Kisah dan jejak hidupnya tidak selalu indah, banyak dihujat dan dicaci. Hal itulah yang memberi inspirasi bagi Otniel untuk merekonstruksi kisah perjalanan Dariah dalam bentuk karya tari baru.
Di awal pertunjukan, penonton dihadapkan dengan kemunculan lima penari laki-laki. Mereka perkasa, jantan dan maskulin. Gerakannya gagah dan berwibawa. Desir suara musik calung seolah menandakan kultur dan wilayah di mana mereka hidup, Banyumas. Otniel di tahap ini mencoba mengisahkan anak laki-laki normal yang bermain dan bersosialisasi. Tak muncul sedikitpun bibit-bibit feminin dalam setiap langkah mereka. Justru sebaliknya, dengan setengah telanjang dada, para penari memamerkan otot-otot kekar dan jiwa kelelakian. Membuat mata para gadis dan perempuan melotot tajam. Siapa sangka, merekalah yang kelak ditakdirkan sebagai penari lengger. Otniel mencoba mendekonstruksi anggapan bahwa penari lengger lanang berasal dari laki-laki tak normal alias banci. Sebaliknya, mereka adalah laki-laki sejati yang tak ada beda dengan lainnya. Otniel berhasil membingkai tema tarinya menjadi lebih mudah difahami. Walaupun banyak mengeksplorasi gerak-gerak yang bertolak dari tradisi, namun kesan menghibur tetap saja mampu dimunculkan.
Terlebih komposisi musik calung begitu lekat dan mampu menyatu dengan gerakan tari. Waluyo sebagai penata musik seolah mengerti betul kehendak yang ingin dimunculkan Otniel. Kesamaan budaya kampung halaman antara koreografer dan komposer, Banyumas, menjadikan tari dan musik luruh, tak ada jarak. Seberapapun gerakan-gerakan yang dimunculkan begitu jauh menyimpang dari kultur tradisi tari lengger, namun komposisi musik calung menjaga denyut kesadaran tentang akar budayanya. Otniel mampu memunculkan inovasi, tentang hubungan yang kuat antara karya tari kontemporer dengan wilayah kultur sebagai ide, menempatkan musik sebagai pengikat. Hal ini jarang dijumpai pada karya tari kontemporer mutakhir, di mana koreografer justru lebih disibukkan dengan pencarian ujud baru, baik gerak maupun musik. Akibatnya gerak dan musik cenderung asing, aneh dan kadang kala tak jelas, membuat pusing.
Di pertengahan karya, laki-laki yang begitu jantan itu semakin nampak anggun dan gemulai. Gerakan-gerakan yang dipertontonkan memiliki nafas kewanitaan. Di sini transisi mulai terjadi, dari maskulin ke feminin. Menonton karya tari Lengger laut laksana menikmati film. Alur dan dramatikanya terstruktur, semakin lama justru semakin menegangkan. Para penari bercanda, saling mengejek lewat gerak. Mereka yang sebelumnya bertelanjang dada mulai memakai penutup. Malu jika dadanya terlihat. Pola-pola gerakan membuat penonton terpingkal-pingkal dibuatnya. Bahkan tak jarang penari mampu merespon tawa penonton dengan goyangan atau mimik muka. Otniel pada titik ini memberi kebebasan tafsir pada penari untuk mengeksplorasi gerak dan mimik muka. Artinya, dalam setiap gelaran pertunjukan tentu mampu memunculkan kesan kebaruan. Bisa jadi, dua hari digelarnya karya ini, dua kali pula mampu memunculkan hal yang berbeda. Otniel menempatkan karyanya sebagai laboratorium kreatif dalam mencari dan menemukan unsur baru, begitu seterusnya seolah tidak ada kata titik. Otniel sadar betul bahwa karya tari sebagai entitas seni pertunjukan terhubung erat oleh ruang dan waktu. Di tempat dan waktu yang berbeda, karya itu bisa menjadi berbeda pula. Inilah salah satu keberhasilan yang dimunculkan oleh Otniel. Satu-satunya kesan estetik yang belum mampu digapai Otniel adalah nyanyian lengger. Di beberapa bagian karya, Otniel sebagai koreografer mencoba menembang Banyumasan, namun suara yang dihasilkan belum mampu memberi imajinasi kuat tentang sosok lengger lanang. Di persoalan ini, agaknya Otniel masih perlu belajar lebih intens.
Puncak karya ini ditandai dengan para penari yang secara aklamasi menjadi lengger. Berdandan dan berbusana layaknya penari lengger tulen. Gending-gending Calung Banyumasan mulai dibunyikan, para penari bergerak disertai bunyi kendang. Namun sesaat sebelum menari, hujatan dan cacian terlontar. Bunyi-bunyi sumbang tersebut menandai awal kelahiran lengger lanang. Penari tak menghiraukan, umpatan justru ditanggapi dengan gerakan. Sensualitas dipertontonkan. Otniel berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Kadang tertawa terpingkal-pingkal, kadang justru terdiam penuh kontemplatif. Terlebih dengan materi penari yang sama, Otniel mampu memunculkan dua gaya gerak yang sangat berbeda. Di awal sajian, Otniel mempertontonkan keperkasaan seorang penari, gagah dan arogan, namun di akhir cerita justru mereka begitu gemulai dan “melambai” (istilah lain karakter kewanitaan). Penonton seolah tidak menyangka bahwa mereka adalah para penari yang sama. Profesionalitas dan proses yang panjang nampak dalam karya ini.
Mendekati akhir, penari lengger lanang mengajak penonton untuk berjoget bersama. Tak ubahnya dalam realitas kehidupan nyata, penonton adalah episentrum penting yang tak dapat dipisahkan dari kesenian lengger. Penonton dipilih secara acak, tidak ada skenario apalagi penonton bayaran yang dibuat-buat agar mampu mengimbangi tarian para lengger. Beberapa penonton nampak kikuk dalam menari, bahkan di antaranya adalah warga negara asing. Mereka tertawa bersama dan menari tanpa ragu. Keluguan dan kepolosan para penonton penari memberi warna lain dalam pertunjukan ini. Menjadi hiburan sekaligus ending yang manis. Dengan keikutsertaan penonton menari bersama, menandakan bahwa kisah lengger lanang mampu diterima dengan baik oleh masyarakat. Panggung tari kontemporer kemudian menjadi panggung kerakyatan.
Peristiwa yang paling menarik adalah kisah di akhir karya ini. Di saat para penari menari bersama dengan suka cita, dari sisi panggung sebelah kanan, Oteniel menuntun sesosok penari tua. Jalannya tertatih-tatih. Gending tiba-tiba berhenti. Penonton penasaran dan terdiam. Otniel memperkenalkan bahwa sesosok penari itu adalah Dariah, sang maestro yang selama satu jam dikisahkan pada karya itu. Gending kembali berbunyi, Dariah menari namun tak segemulai dulu lagi. Gerakannya kadang tak sesuai dengan irama gending. Membuat haru dan tangis para penonton. Usia tak menghalanginya untuk menari. Penonton terdiam dan terisak. Lampu pun padam, menandai akhir dan usainya pentas. Di saat lampu kembali terang dan diiringi tepuk tangan penonton, Dariah masih terlihat menari walau tanpa musik. Penonton berdiri, banyak yang kembali menangis atas perjuangan dan dedikasi Dariah. Akhir manis untuk menangis. Otniel sekali lagi telah berhasil. Ia bukan hanya mengambil ide dan gasasan dari laku hidup Dariah, sebagai penghargaan, ia bahkan menghadirkan Dariah secara nyata.

Aris Setiawan
Etnomusikolog

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *