Berita




CATEGORY

Agenda, Berita, Kata Panggung, Peluang






Balungan 2017; Sebuah Repertoir Kolaborasi

Komunitas Gayam 16 adalah merupakan sebuah komunitas yang berawal dari Jl. Gayam 16 Yogyakarta, alamat dimana Yogyakarta Gamelan Festival dibawah alm Sapto Raharjo berkantor. Sejak 1995 komunitas tersebut secara berkala setiap tahun menyelenggarakan Yogyakarta Gamelan Festival yang berkelas internasional, selain juga kegiatan lainnya yang berhubungan dengan gamelan. Selain sebagai sebuah komunitas yang giat menyelenggarakan acara festival gamelan. Komunitas Gayam 16 juga dipakai sebagai nama kelompok gamelan yang anggotanya adalah dari komunitas tersebut. Adapun repertoir yang sering dimainkan oleh kelompok gamelan Komunitas Gayam 16 terutama adalah karya-karya Sapto Raharjo, atau kolaborasi dengan sejumlah kelompok atau pemain musik dari luar negeri.

Dibawah pimpinan Setyaji Dewanto, Komunitas Gayam 16 dengan Hibah Seni Kelola, kali ini kembali membuat sebuah proyek kolaborasi dengan para musisi dari Prancis dan diberi nama Balungan. Para musisi yang pada saat Sapto Raharjo masih hidup selalu tampil berkolaborasi ataupun bekerjasama dengan Komunitas Gayam 16, baik di Yogyakarta maupun di Prancis.

Pementasan Balungan yang pertama kali ini bersamaan dan dijadikan satu dengan penyelenggaraan Yogyakarta Gamelan Festival di PKKH UGM tanggal 23 Juli 2017. Untuk pementasan kedua di IFI tgl 26 Juli 2017, penulis tidak bisa hadir.

Gedung PKKH yang berbentuk bangsal tersebut berkapasitas kurang lebih 700-1000 penonton. Malam itu cukup penuh. Sebagian duduk di kursi atau tikar, sebagian lagi di balkon.  Panggung PKKH cukup luas dengan tata panggung maupun tata cahaya digarap cukup bagus. Tata suara sesuai dengan akustik bangsal, artinya tidak terlalu memekakkan telinga. Karena bila bicara tentang produksi kualitas suara yang prima saat ini di Jogja memang susah, disamping peralatan yang harus memadai juga sounds engineering yang piawai sangat dibutuhkan.Apalagi gamelan merupakan instrument membrance yang sangat rumit penanganannya.

“Balungan” Komunitas Gayam 16 mendapat giliran pentas yang ketiga atau terakhir dari dua kelompok yang main sebelumnya. Malam ini mereka membawakan 10 buah repertoir dalam formasi, Komunitas Gayam 16 yang terdiri dari lima pemain, memainkan alat gamelan akustik seperti bonang, kendang, gong dan saron, sementara para musisi dari Prancis yang terdiri dari enam pemain,  memegang bass elektrik, guitar elektrik, keyboard, syntheziser,drum set, vocal dan loop machine.

Karya pertama adalah komposisi Guigou Chenevier (drum) berjudul “The Guy I am”. Dalam karya ini semua instrument masuk secara bersamaan. Saron memainkan beberapa phrase yang diulang, sementara instrumen lain mengisinya dalam irama 7/8.  Vokal tampil dengan membacakan syair serta memberi aksen dan memainkan looping. Komposisi ini tidak panjang durasi sekitar 2 menitan.

Karya kedua yang dimainkan adalah komposisi dari Franck Testud yang berjudul GAMELAND. Dalam karya ini vokal masuk membacakan sebuah teks bersama saron dan lead guitar elektrik memainkan sebuah patern yang diulang-ulang. Setelah beberapa kali baru drum dan bass masuk bersama keyboard dan bonang yang memainkan nada-nada arpegio. Dan vokal baru mulai memainkan seuatu phrase yang diulang-ulang.r

Karya ketiga berjudul Meet komposisi Laurent Frick dimulai dengan memproduksi harmonic yang dihasilkan dari bonang, guitar serta membuat bunyi-bunyian secara tidak beraturan dalam beberapa saat. Lalu bonang muncul dengan sebuah patern yang teratur disusul oleh peking mengikutinya dengan pola imbal-imbalan. Rhytm guitar mengisi dengan looping-looping dan bass serta drum menyusul memberikan patern pola ritme secara syncopasi. Tak lama kemudian lead guitar dan vocal memainkan phrase melodi yang diulang-ulang.

Karya keempat Niki Niku komposisi Tri Widiantoro dimana semua langsung main bersama dengan irama cepat. Vokal seperti biasa membawakan lyric dengan bahasa Prancis yang kadang pada bagian akhir dinyanyikan. Karya ini diakhiri dengan tutti. Warna rock sangat kental dalam karya ini.

Karya kelima berjudul Kethek Saronggon komposisi Azied Dewa. Diawali dengan teriakan saling bersautan, kemudian disusul tutti memainkan pola rytme syncopasi beberapa saat. Tak lama kembali celotehan kembali muncul. Kemudian setelah itu vokal dengan lyrik bahasa Jawa dan melodi yang dimainkan oleh saron, guitar muncul. Tak lama kembali muncul celotehan yang diucapkan oleh SP Joko dan diikuti oleh Laurent Frick (vokal). Dialog ini muncul dengan sebaliknya dimana vokal membawakan dialog berbahasa Prancis diikuti kemudian oleh SP Joko. Komposisi ini diakhiri dengan coda syncopasi yang dimainkan tutti. Karya ini mungkin dimaksudkan untuk berhumor ria dalam bermusik.

Karya keenam berjudul X?Y14 komposisi Lairent Luci diawali dengan sedikit lengkingan lead guitar lalu diikuti bass dan drums kemudian saron yang memainkan sebuah patern yang diulang-ulang. Kemudian vokal kembali membacakan text yang kadang di looping agak lama dan sering. Setelah beberapa saat pengulangan lalu  2 guitar elektrik muncul saling mengisi dan vokal membawakan syair secara dramatic. Tiba-tiba gamelan muncul dengan pola tradisi seakan lewat dan di timpa lagi dengan irama rock dari gitar elektrik dan drum. Terakhir satu nada Bb dari gitar seakan menutup karya ini bersama sebuah saron.

Karya ketujuh berjudul Bruit d’eclat komposisi Gilles Laval, karya ini diawali dengan permainan lead guitar yang memainkan sebuah motive yang diulang-ulang beberapa kali, sementara vocal membacakankan text dan melagukannya, bonang kemudian munyususul dengan mengikuiti pola yang dimainkan oleh lead guitar. Saron bersama instrument lainnya memberi aksen pada setiap akord. Kembali permainan loop-loop yang diulang-ulang. Irama komposisi ini cepat dan unsur rock sangat kuat.

Karya kedelapan Javanese TGF komposisi SP Joko, diawali dengan kata-kata yang huruf r nya dibuat extrim. Lalu suara peluit kereta terdengar.  Kemudian disusul dengan saron yang memainkan pola ritme 7/8 dalam irama cepat. Dalam karya ini banyak phrase tutti yang yang dimainkan secara syncopasi. Unsur rock juga kental terdengar kental setelah lead guitar masuk dengan lengkingannya.

Karya kesembilan berjudul Wewarah komposisi Sudaryanto.S.Sn. Karya ini diawali masuknya saron bersama guitar elektrik memainkan sebuah phrasse dalam irama cepat lalu berubah pelan. Kemudian instrumen lain masuk seakan suara siteran yang mengiringi vokal yang menyanyi ala macapatan. Karya ini berakhir dengan suara suling yang mengesankan suasana uyon-uyon.

Karya terakhir adalah Kangen, komposisi alm Sapto Raharjo. Kali ini karya tersebut dimainkan lebih cepat dari yang saya sering dengar, dan nuansa rock dibuat sangat kentara dengan vokal maupun lengkingan lead guitar serta hentakkan drum.

Dari semua karya yang ditampilkan malam ini, gaya rock hampir selalu muncul dalam setiap komposisi. Dan sejumlah komposisi mempunyai sukat atau pola ritme yang untuk pemain gamelan klasik jarang atau bahkan tidak pernah dikenal. Seperti halnya syncopasi dalam 7/8 dsb. Dan komposisi-komposisi tersebut diatas dimainkan secara rapih, rampak atau tertata. Walaupun kadang ada beberapa komposisi yang terlalu banyak menggunakan looping, sehingga terasa agak membosankan.

Dari kolaborasi antara Prancis dan Yogyakarta diatas, yang sedikit menggelitik penulis disini adalah, kombinasi instrumentasi. Dimana gamelan yang akustik dengan rancakan tradisi bermain bersama instrument modern yang bila tanpa listrik tidak akan berbunyi, kecuali drums. Andaikan suatu saat Komunitas Gayam 16 bisa membangun alat gamelan elektrik mungkin perpaduan diatas lebih seimbang. Karena dengan demikian gamelan bisa lebih dieksplorasi lagi untuk menghasilkan kekayaan bunyi seperti halnya guitar, maupun keyboard dsb. Namun bagaimanapun juga konser malam ini bisa dikatakan cukup menghibur. Penonton sebagian besar tetap setia dan tidak beranjak dari tempat duduknya.

Michael Asmara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *