Cati di Sungai Tarab

Ditulis oleh Heru Joni Putra

Kata Panggung dari Pementasan Pinto Anugrah, “Cati”, Peraih Hibah Seni Karya Inovatif 2014

Bendang, begitu orang Sungai Tarab menyebutnya, adalah sebuah daerah yang tak terlalu luas, agak tersuruk tapi tenang, serta penuh pohon rindang, dan kicauan burung, meskipun sebenarnya lokasinya tak jauh dari pasar Sungai Tarab, tempat bus antar kota lewat, orang-orang pergi ke pasar, dan pedagang bersorak di tepi-tepi jalan, apalagi di hari Rabu, yang mereka sebut dengan Hari Pekan. Di Bendang, berdiri sebuah Rumah Gadang, tempat berkumpulan kaum pesukuan Bendang. Rumah Gadang itu menghadap ke hamparan sawah, dan setiap hari, jalan kecil di depan Rumah Gadang itu menjadi tempat silih-bergantinya aktivitas manusia, seperti anak-anak pulang-pergi sekolah, tempat melintas orang ke sawah, atau jalur pulang para penyabit rumput. Bila malam, jalan kecil di kawasan tersebut hanya diterangi cahaya bulan, atau sedikit lampu-lampu yang menyala dari rumah penduduk.
Karena jauh dari keramaian, bukan tempat jalur utama orang ramai lewat, dan hanya diterangkan oleh cahaya bulan, maka serasa tak mungkin akan ada acara semacam pamenan (permainan) kampung di sana. Tapi hari itu, 9 Oktober 2015, sekitar pukul 20.00 WIB, warga Bendang dan tak hanya warga Bendang, berbondong-bondong ke Rumah Gadang itu, untuk menonton sebuah pertunjukan. “Ada acara apa itu?” kata seorang penyabit rumput bersorak dari tepi jalan kepada seorang perempuan yang mengembangkan tikar, pada sore hari, sebelum acara dimulai malamnya. “Ada teater,” jawab perempuan itu. Lalu penyabit rumput itu mengacungkan jempol seraya mengangguk dan terus melanjutkan perjalanannya menjunjung setengah karung rumput gajah. Teater mungkin kata yang tak lumrah bagi masyarakat umum, dan lebih akrab dengan sandiwara. Tapi malam hari, ketika pertunjukan berlangsung, seorang penonton anak kecil bertanya pada ayahnya, “apa yang dilakukan orang-orang itu, Ayah?” dan karena penonton banyak berdiri, ayah itu mengangkat anaknya dan menggendong di kuduknya, “ada tampak orang main sandiwara?” kata ayah itu.
Selepas sholat Isya, para pengisi musik pertunjukan sudah mulai memanggil-manggil warga dengan meniup saluang, yang dikeraskan melalui toa. Sebagaimana ketika ada sandiwara kampuang, atau bentuk pamenan anak nagari lainnya, para warga pun berdatangan ketika mendengar musik penghimbau itu. Lebih kurang 100 penonton menyaksikan pertunjukan tersebut dari berbagai sisi. Beberapa ibuk-ibuk tampak berpakaian bagus, memakai baju kurung sederhana, menuju ke halaman Rumah Gadang tersebut, dan beberapa laki-laki tak kalah gagahnya dengan memakai peci serta kain sarung. Sementara beberapa muda-mudi, tampak melihat-lihat dari jauh, lalu akhirnya mendekat ke acara itu. Tak kalah semarak, anak-anak pun langsung berebutan di hamparan tikar bagian ke depan. Di sepanjang jalan kecil itu, berpuluh obor dari buluh dihidupkan, tak hanya sebagai pengiring warga menuju lokasi pertunjukan, tetapi juga sebagai lampu untuk panggung. “Sudah lama tak seperti ini,” kata seseorang bapak bergelumun kain sarung ikut berjalan ke sana. Tak hanya bentangan tikar untuk penonton, tetapi juga suguhan goreng pisang, dan penerang dengan obor itu juga membuat beberapa orang teringat kenangan akan menonton sandiwara kampuang berpuluh tahun silam. “Ada silat juga nanti?” kata seorang lelaki paruh baya pada rekannya. Tak silat, pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam malam itu juga menghadirkan bentuk-bentuk drama serta sastra tradisional Minangkabau, seperti petatah-petitih, dendang, permainan tupai janjang, sehingga para penonton tampak betah, dan juga tak kalah pentingnya, beberapa dari penonton juga ikut mengomentari beberapa adegan yang mereka tonton, sebagaimana lumrahnya dalam pertunjukan pamenan anak nagari di Minangkabau, apalagi malam itu menghadirkan Tambo pula.
Bagi orang Minangkabau, Tambo adalah sumber energi dialektika masyarakat Minangkabau. Setiap generasi menciptakan perdebatan sendiri, dan Tambo senantiasa menjadi bagian di dalamnya, meski dengan intensitas yang berbeda. Tapi setidaknya, antar sesama peserta kebudayaan Minangkabau, ada tiga isu sentral yang sering dijadikan perdebatan perihal Tambo, baik secara instrinsik maupun ekstrinsik. Pertama, perdebatan tentang posisi Tambo sebagai sejarah asal-usul orang Minangkabau. Bagi sejarawan, yang berpijak pada kaidah sejarahnya sendiri, kebenaran sejarah yang terdapat dalam Tambo, hanya ada 2%, sedangkan 98% adalah dongeng, salah satu indikasinya karena narasi dalam Tambo penuh dengan piranti sastra, sehingga sangat tidak mungkin semerta-merta dijadikan fakta apa adanya. Tapi bagi sebagian pemuka adat, memahami Tambo sebagai sejarah, kalaupun penting dilakukan, mesti diiringi dengan pemahaman akan cara berbahasa sehari-hari orang Minang yang memang penuh dengan piranti sastranya sendiri, sehingga konsekuensinya pembacaan lebih dalam mengenai asal-usul Minangkabau dalam Tambo mesti dimulai dengan memecahkan kode-kode puitik itu sendiri. Meskipun zaman terus berubah, kedua perbedaan cara membaca Tambo tersebut tak pernah sudah. Namun, dalam menengahi konflik ini, Edward Djamaris, seorang pakar Tambo, memposisikan Tambo sebagai sastra-sejarah. Kategorisasi ini pada akhirnya lebih banyak dipakai, meskipun sampai hari ini, secara konten kultural, Tambo tetap dimaknai masyarakat Minangkabau sebagai sejarah sekaligus sumber gagasan, moral, dan estetika.
Kedua, perdebatan tentang keberbagaian versi Tambo Minangkabau. Ada begitu banyak Tambo di Minangkabau ditemukan filolog, di daerah yang berbeda dengan bentuk dan isi yang berbeda pula, meskipun pada sisi tertentu tetap menekankan aspek-aspek yang sama, seperti filosofi adat misalnya. Keberbagaian versi Tambo ini sebenarnya menjadi embrio bagi suburnya keberbagaian gagasan, cara berpikir, dan aktualisasi nilai moral dalam masyarakat Minangkabau sampai hari ini. Dan, meski dengan intensitas yang berbeda, kondisi tersebut menimbulkan ketidaktunggalan gagasan keminangkabauan itu sendiri. Implikasinya, ketika membicarakan kebudayaan Minangkabau, masyarakat hari ini senantiasa membatasi pembicaraan mereka dengan penegasan kembali akan kondisi ruang dan waktu yang spesifik dari Minangkabau yang akan dibicarakan, atau kemudian diperbenturkan. Dan ketiga, perdebatan yang berkaitan dengan relevansi setiap gagasan dalam Tambo Minangkabau terhadap kondisi zaman hari ini. Sebagai konsekuensi dari perubahan zaman dan perkembangan pemikiran manusia, perbenturan antara gagasan mapan dengan gagasan alternatif selalu terjadi, dan karena kebudayaan Minangkabau mempunyai aspek egaliternya sendiri, perdebatan pada wilayah ini kemudian menjadi begitu dinamis, bahkan hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui jalan kesenian.
Pertunjukan Cati karya/sutradara Pinto Anugrah beranjak dari wilayah perdebatan yang ketiga (perihal revelansi gagasan dalam Tambo ke zaman sekarang), namun tetap bersentuhan dengan perdebatan pada wilayah pertama (asal-usul orang Minangkabau) dan yang kedua (ketidaktunggalan gagasan keminangkabauan). Pinto Anugrah, dari sekian banyak tokoh dalam Tambo, menjadikan Cati Bilang Pandai sebagai tokoh utama dalam pertunjukan ini sekaligus berperan sentral dalam mengaduk-aduk ketiga wilayah perdebatan itu dalam konflik ceritanya. Dalam Tambo Minangkabau, Cati Bilang Pandai berposisi sebagai intelektual. Berbeda dengan tokoh lain yang hanya hadir di zamannya masing-masing, ia justru selalu hadir sebagai di setiap zaman. Sebagai intelektual, ia memiliki fungsi fundamental dalam setiap konflik zaman, meskipun begitu ia sesungguhnya tidak mendapat peran sentral, dan hanya berlaku sebagai tokoh minor. Pinto Anugrah, dalam pertunjukan Cati, memberikan tempat yang lebih luas, dan juga kontekstual, bagi kehadiran Cati Bilang Pandai, yaitu tak hanya dengan menggambarkan kehadiran Cati dari zaman ke zaman seperti dalam Tambo, tetapi juga membawa Cati ke zaman sekarang. Tapi, dalam memberi konteks hari ini pada tokoh Cati, Pinto Anugrah tidak menghadirkannya sebagai intelektual, yang katakanlah aspek personalitasnya, seperti mental, emosional, tindak-tanduk dimunculkan secara kompleks.
Tokoh Cati memang tak bisa dipahami sepenuhnya sebagai tokoh dengan diri-personalitas seperti itu. Meskipun tetap menggunakan aspek personalitas, ia justru lebih hadir sebagai diri-gagasan, yang mana segala perilaku sekaligus perkataan aktor lebih cenderung tampak sebagai kongkretisasi dari gagasan-gagasan perihal Cati itu sendiri. Gagasan-gagasan perihal Cati Bilang Pandai itu, dalam pertunjukan Cati, juga sebagaimana disebut Pinto Anugrah, berhubungan dengan oposisi biner antara akal dan alam. Sebagaimana yang termakhtub dalam Tambo, akal direpresentasikan melalui tokoh Cati sedangkan alam oleh berbagai tokoh, seperti Suri Marajo, Puti Indo Jalito, Datuk Katumanggungan. Ketegangan antara alam dan akal yang ditampakkan melalui ketegangan antara Cati dan Suri Marajo serta tokoh lainnya, adalah ketegangan antara yang terus bergerak dengan yang selalu diam. Alam sebagai sesuatu yang diam dengan pengertian bahwa alam dengan konfliknya, pada suatu masa, hanya ada pada masa itu. Sedangkan akal, sebagai sesuatu yang bergerak, bisa hadir, keluar-masuk, dari suatu masa ke masa lain, dari suatu alam ke alam yang berbeda. Dengan kata lain, melalui model penokohan diri-gagasan, tokoh Cati tak hanya menghadirkan Cati Bilang Pandai secara konten, tetapi juga bentuk, sebagaimana tampak dari aktor yang memerankan Cati yang tak terikat oleh pembagian babak, ia justru hadir di setiap babak pertunjukan, dan berhadapan dengan tokoh yang berbeda.
Meskipun tak terikat ruang-waktu, Cati diikat oleh satu fungsi, yaitu dalam setiap zaman yang ada dalam Tambo, ia selalu hadir dengan solusi. Apakah kehadiran Cati di zaman sekarang juga membawa solusi atas setiap masalah yang mengemuka, sehingga fungsinya dari masa ke masa tetap berjalan sebagaimana adanya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu dilihat kembali masalah apa yang dihadapi Cati di zaman sekarang. Sebagaimana yang sedikit disinggung tadi, masalah yang dikemukakan pada Cati di zaman sekarang menyentuh ketiga wilayah konflik yang digambarkan secara umum di di bagian sebelumnya: perihal relevansi gagasan dalam Tambo ke zaman sekarang, asal-usul orang Minangkabau, dan ketidaktunggalan gagasan keminangkabauan. Oleh karena itu, pada sisi tertentu, sesuatu hal yang tak dapat dihindarkan juga, Cati harus bercerita, bahkan menggugat dirinya sendiri. Dan sebagai jawaban dari pertanyaan sebelumnya, Cati hadir di zaman sekarang adalah tanpa solusi dari masalah yang disampaikan itu. Dengan kata lain, ia tak lagi dibangkitkan sebagaimana gambaran tentang dirinya dibangun. Tapi di akhir pertunjukan, pemeran Cati menutup adegan dengan melakukan tupai janjang, suatu bentuk monolog-berdendang tradisional Minangkabau, yang mana isi dendang itu adalah penegasan kembali bahwa ia akan selalu ada, sebagaimana seharusnya, di setiap konflik pada setiap masa. Maka penegasan itu menutup adegan secara paradoks: Cati berusaha menggambarkan dirinya sebagaimana seharusnya meski pada kenyataan bahwa ia tak lagi seperti apa seharusnya itu, dan itulah kemudian yang turut mengundang respon penonton.
Dalam diskusi sehabis pertunjukan, Pinto Anugrah Dt. Rajo Pangulu, yang juga datuk pucuk di Rumah Gadang pesukuan Bendang itu, mengakui bahwa ia sengaja membawa pertunjukan Cati itu ke kampungnya setelah sebelumnya ditampilkan di ruang pertunjukan Nan Jombang, Balai Baru, Padang, 5 Oktober 2015 lalu. Salah satu tujuan dihadirkannya Cati di Sungai Tarab, katanya, untuk melihat bagaimana respon masyarakat terhadap tafsir yang dilakukannya atas tokoh Cati Bilang Pandai tersebut, apalagi tafsir tersebut dalam bentuk pertunjukan teater, yang juga mengeksplorasi berbagai bentuk seni tradisi Minangkabau. Seperti yang diharapkan Pinto Anugrah, memang berbagai respon muncul. Selain menyampaikan kekaguman, beberapa penonton juga menyampaikan harapannya atas pertunjukan tersebut. “Kalau bisa ditampakkan juga konflik antara Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang,” kata seorang lelaki paruh baya. Sehabis diskusi, para penonton kembali berbondong-bondong ke rumah masing-masing, dan seorang lelaki yang menggendong anaknya dari tadi mengulang-ngulang irama dendang tupai janjang yang dijadikan penutup pertunjukan Cati itu kepada anaknya, tapi dengan bahasa yang diubahnya sendiri, yang kira-kira maksudnya, “pulanglah kita lagi, oi, anak oi, hari sudah malam…”***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *