Liukan Tari Nasi Padang

Oleh Sadakeling

Catatan pementasan Rantau Berbisik oleh Nan Jombang Dance Company sebagai Peraih Hibah Seni Pentas Keliling 2011

 

Saat layar terkembang perlahan cahaya temaram mulai mempertegas sesosok lelaki berkepala pelontos, bertubuh atletis. Si kepala pelontos meringkuk diatas sebuah meja makan. Tiga wanita berpakaian merah dengan formasi segitiga perlahan masuk mendekati rak piring yang mirip etalase sebuah rumah makan. Di tangannya bergantung sebuah lentera.

Perlahan si kepala pelontos dengan celana sarawa galambuang berwarna merah dan bertelanjang dada mulai meliuk- liuk seiring suara lantunan mirip irama saluang. Bersamaan dengan itu tetabuhan alat dapur mulai mengalun dengan dinamis mirip irama talempong.

Saat si pelontos mulai meliuk berputar dan melakukan gerakan akrobat dan akhirnya memukul mukul meja mirip pukulan pada perkusi,  tiga wanita mulai berpencar dari etalase dengan membawa piring. Dua diantara mereka menari piring dan satu diantaranya mendekati meja dengan tangan penuh piring dan menyusunnya di atas meja,  mirip  pelayan dirumah makan padang. Si plontos duduk seolah menikmati hidangan yang sedang disajikan.

Saat itu kita mulai melihat panggung bukan sebagai sebuah ruang yang sunyi. Tiga penari dan si kepala pelontos mulai memukul mukul meja dan tiga buah kursi yang ada di sekeliling meja sambil menari mengelilinginya. Gerak melingkar dan tetabuhan nampaknya menggambarkan hiruk pikuk sebuah aktifitas sebuah rumah makan, seperti yang ingin disampaikan oleh Ery Mefri sang koreografer.

Pencahayaan mulai membagi panggung seolah olah menjadi tiga ruang utama. Dapur, meja dan sebuah ruang terbuka dengan dua bentuk cahaya melingkar dan persegi empat  memantul di lantai pangggung. Koreografer seolah ingin memberikan gambaran mengenai para perantau minang-terutama para pengusaha rumah makan, akan rutinitas, kerinduan dan harapan kampung halaman kedalam tiga ruang ekspose.

Eksplorasi di ruang utama dengan properti satu buah meja makan, tiga buah kursi dan beberapa buah piring menandakan kerja keras dan semangat untuk terus berusaha serta beradaptasi dengan ruang dimana para perantau berada. Hal itu terlihat dan terdengar dari ritme gerakan sederhana yang dimanis dan bunyi tetabuhan diselingi lantunan suara tipis yang mengalir lirih.

“Sebagai sebuah pertunjukan tari kontemporer, ‘Rantau Berbisik’ menyajikan sebuah pertunjukan yang manis. Dari segi gerak, tata panggung dan tata suara, repertoar ini tampil minimalis namun dengan sangat efektif,”ujar Hermana AMT, penggiat seni dari Bandung MOUI, menyanjung.

Dengan mengambil latar rumah makan padang, Ery mencoba menggambarkan tradisi merantau lelaki-lelaki Sumatera Barat sebagai sebuah “perjalanan budaya”. Nasi padang menjadi “bahasa” universal menjadi tempat bertemu sesama perantau, semacam “langit yang dijunjung” bersama, walau ada kepiluan dan kerinduan di belakangnya.

“Eksplorasi  Ery sangat luar biasa tubuh, ruang, bunyi dan benda. Dimana piring jadi sebuah kehidupan dan meja makan menjadi sebuah kerinduan. Wanita menjadi sosok kuat meski dan tidak tereksploitasi,” papar Hermana.

Kesederhanaan ini membantu para penonton untuk menangkap pesan dan menikmati pertunjukan tari kontemporer secara utuh dalam durasi 60 menit dari pukul 15.00-16.00 WIB. Penonton anteng di kursi mereka.

“Saya bisa menikmati pertunjukan ini dari awal hingga akhir dan mengerti pesan kerinduan para perantau yang disampaikan. Biasanya pertunjukan tari kontemporer cenderung membosankan dan saya tidak menonton sampai selesai. Yang ini tidak,”ungkap Rangga Maulana, Mahasiswa STSI, Bandung.

Dari segi pertunjukan yang efektif dan menarik masih terselip sedikit kekurangan seperti diungkapkan Nandanggawe, seniman dan praktisi artistik. Dia menyinggung soal teknis panggung.

”Pertunjukan ini akan sangat dasyat bila tata kelola cahaya dimaksimalkan. Cahaya nampaknya kurang di garap maksimal. Bila cahaya ditata baik gestur tubuh dan gerak penari akan menjadi detail dan ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa,” paparnya.

Nandang menambahkan. Penggunaan warna lampu yang dominan merah justru mengurangi nilai dramatik dari pertunjukan ini, karena para penari telah menggunakan pakaian serba merah gerak tubuh mereka menjadi kurang terekspos. Pembagian ruang dengan cahaya merupakan sesuatu yang menarik hanya sayang kurang berimbang sehingga kecendrungan secara artistik berat ke sebelah kanan panggung.

“Secara audio pertunjukan ini menarik dengan tidak hanya memaksimalkan properti yang ada. Para penari diberi kemampuan untuk mengeksplorasi bunyi dari tubuh dan suara di padu dengan olah gerak tubuh yang mantap. Ini menjadi sebuah pertunjukan yang menarik secara keseluruhan,”ungkapnya.

Nandang menambahkan bahwa tari kontemporer membutuhkan sebuah totalitas yang berbeda dengan seni tradisi lain, meski akan menggunakan energi yang sama dalam prosesnya. Ini yang jarang ada di Bandung.

Tiba tiba ruangan menjadi sunyi. Si plontos mulai meliuk diata meja dengan gaya mirip penari balet dengan sesekali diiringi suara piring yang disusun. Dua orang wanita keluar dari formasi etalase. Satu menuju jajaran kursi dan mulai melantunkan sura lirih, sedangkan yang satu mulai naik ketas meja dan mulai melakukan gerakan kombinasi layaknya penari balet. Mereka saling bergantian diatas panggung mengisi ruang. Sambil mengeksplosai bunyi dari pukulan pada tubuh dan sarawa galambuang.

Perlahan seorang penari menarik sebuah kursi kedekat mejadan mendudukinya. Sementara sipelontos mengeksplorasi ruang sekitarnya dengan gerak dan kemudian berhenti diseberang meja dengan berhadapan langsung dengan penari yang duduk. Sesaat kemudian penari yang duduk mulai naik keatas meja dan melakukan gerakan meliuk liuk sambil menengadah keatas dan berusaha melepas ikatan rambutnya.

Hingga rambut panjang itu terurai sang penari mulai mengibas ngibaskan rambutnya dengan liar. Seolah ingin membebaskan sebuah beban yang terus membebaninya. Kemudian semua itu terhenti. Penari turun dan duduk tertunduk sunyi diatas kursi dengan tangan terkulai diatas meja. Si pelontos mulai bergerak kembali. Masuk ke kolong meja dan perlahan mulai menarik meja. Pertunjukan usai bersama jatuhnya tangan wanita dari atas meja di kegelapan.

Riuh tepuk tangan penontonpun membahana di gedung Sunan Ambu STSI 3 Juni 2011 lalu itu. Tampak sekitar 200 penonton menempati 400 kursi yang tersedia. Diantara penonton nampak para pelajar muda, pengamat seni, seniman, dosen, komunitas masyarakat minang di Bandung, Para mahasiswa, mahasiswi dan beberapa mahasiswa asing yang sedang belajar di STSI. Mereka memberikan apresiasi positif terhadap pertunjukan para penari Nan Jombang itu.

Kejujuran

Ery menekankan bahwa gerak harus sesuatu yang berakar dari rutinitas. Dengan gerak yang bersumber dari keseharian tubuh akan menyesuaikan dengan jiwa sehingga menghasilkan suatu kenikmatan dalam melakukan gerak.

“Bila kita mampu menikmati semua gerak dilakukan maka penonton akan ikut menikmati pertunjukan,” ujar Ery Mefri, koreografer Rantau Berbisik. Ery memaparkan kosep tari yang ia tampilkan satu hari sebelumnya pada para peserta workshop yang terdiri dari, para mahasiswa dan mahasiswi STSI Bandung, Mahasiswa dan Mahasiswi UNPAD, Siswa Sekolah Menengah Karawitan (SMKI) Bandung, dosen dan civitas akademi STSI Bandung.

Dalam kesempatan workhsop di STSI Bandung, Ery memaparkan kenikmatan tari muncul dari sebuah kejujuran. Kejujuran akan apa yang ingin disampaikan. Dengan kejujuran semua akan nampak natural dan tidak berlebihan sehingga sebuah pertunjukan akan mempunyai jiwa dan bernilai. Penari, koregrafer dan semua seniman harus jujur sehinga dapat mempersentasikan karyanya tidak berlebihan. Dan dapat dinikmati oleh semua pelaku seni dan audiens-nya.

Kenikmatan gerak muncul dari eksplorasi gerak itu sendiri. Gerakan bisa muncul dalam berbagai variasi bila sang penari dan koreografer mempunyai kreatifitas. Keseharian dan rutinitas merupakan sumber utama dari referensi gerak. Gerak tidak terbatas biarkan ia mengalir seperti air.

Untuk melakukan gerak kombinasi secara berpasangan diperlukan chemistry bukan teknik. Sesama penari harus mempunyai kepercayaan yang tinggi diantara mereka, terutama saat melakukan teknik yang agak berbahaya. Dengan saling percaya resiko kecelakaan akan bisa dihindari, meski postur tubuh mereka berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Ini bisa dibangun dari kesepahaman akan tempo. Tempo identik dengan musik namun ini bukan berarti musik sedalam arti harafiah. Tempo dibangun berdasarkan ketukan yang mereka sepakati saat berlatih hingga kepertunjukan. Kepecayaan ini membutuhkan proses diantara penari, mereka harus terus berlatih untuk saling memahami.

Ery sendiri telah berproses sejak tahun 1983 dan baru mempunyai kesempatan untuk menampilkan karyanya dalam ruang skala besar pada tahun 2004. Dan baru ditahun 2006 ia memperoleh kepercayaan dari ruang berskala internasional. Hingga kini ia telah mentas di  enam negara.

Dari pengalamanya ini ia berinisiatif melakukan pertunjukan keliling di tiga kota Bandung, Lampung dan Bengkulu. Ia beserta kelompoknya ingin berbagi pengalaman dan jaringan sesama seniman. “Dulu kami bukan apa-apa, sekarang kami mulai dilirik. Dulu kami melarat dan tidak mempunyai akses, sekarang kami memiliknya. Maka saya ingin berbagi dengan yang lain,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *