Memorable “Memorabilia”

Catatan Pementasan Memorabilia oleh Melati Suryodarmo sebagai Peraih HIbah Seni Inovatif 2008
Oleh Mella Jaarsma
Karya Melati Suryodarmo “Memorabilia” bisa dikatakan berhasil dalam hal memberi pengalaman yang berarti dan menarik kepada penonton. Pengalaman yang didapatkan dari ‘Memorabilia’ berbeda dengan persepsi ‘performance’ dan’ teater’ yang kita kenal di Indonesia. Bahasa visual , dihubungkan dengan unsur waktu, ruang nyata, tubuh, suara, gerak, sinar dan teks, diolah menjadi sesuatu lebih bergabung dengan publik dibanding sekedar memamerkan benda atau obyak seni. Melati berhasil menarik konsentrasi publik selama tiga jam dan menjaga agar mereka tetap merasa penasaran pada publik dengan perkembangan dan kejadian yang relatif sedikit dan minimal dalam waktu panjang ini. Tujuan Melati supaya penonton ada di dua ‘ruang’. Ruang nyata dengan performancenya dan ruang lain yang berhubungan dengan latar belakang masing masing penonton. Ruang lain inilah yang ’memproyeksikan’ lapis ingatan, pikiran, pengetahuan dan interpretasi pribadi penonton pada performancenya.

Dengan desain panggung yang menampilkan karpet merah, beberapa benda saja dan pemain dengan kostum khusus, dan gerakan dan suara yang diulangi, kami mendapat banyak waktu untuk berpikir dan sibuk dengan ‘dirinya’ sebagai penonton. Kami tidak saja dihiburkan dan mendapat ruang untuk melupakan diri, tetapi juga kami dikonfrontasikan dengan eksistensi kami melalui performance ini. Semua gerakan, suara dan benda punya arti dan ‘fungsi’ dan tidak ada suatu ‘kebetulan’ pun kecuali gerakan dan perilaku dari ayam jago, dan dari publik yang ‘berinteraksi’.

Hal “kebetulan’ dan hal yang ‘dilatih’, semua dipikirkan dan disutradarai oleh Melati. dengan ‘blocking’ yang baik dan seimbang.

Unsur waktu dan kata-kata yang bertumpang tindih mengundang publik untuk berasosiasi. Arus kata-kata seperti mantra dipotong oleh musik klasik dipenggal setiap setengah jam. Pada potongan waktu ini kami juga mengobservasikan visual yang berbeda. Pada waktu itu tiga pemain atau aktor akhirnya berkomunikasi dengan kontak mata atau mendekati secara fisik. Karena ada hubungan anatara pemain, perilaku ayam jago juga berubah. Irama berubah. Saya suka kostum Fitri yang aneh, dengan semacam belalai atau kantung belakangnya dengan gergaji kayu di dalam kantung ini. Inovasi ada pada kekuatan Melati untuk mencipta imaji-imaji (image building) seperti stil foto yang tumpah di atas memori dan asosiasi kami.

Tidak ada banyak properti yang dipakai. Hanya beberapa dan karena sedikit semua benda punya fungsi yang jelas. Hanya dengan demikian setiap obyek dapat makna atau simbolisasi yang kuat. Seluruh ruang ditutup karpet merah. Merah ini ada maksud tertentu. Apa artinya merah untuk Melati dan untuk kita? Kostum, obyek dan ruang semua berwarna merah, hitam dan putih. Yang satu berhubungan dengan yang lain. Suara kata-kata berhubungan dengan buku-buku, jalan-jalan Fitri dengan kostumnya berhubungan dengan jagonya. Panjang tali merah di antara kaki Melati dan kaki jago sesuai ukuran ruang kaca., dan ruang kaca itu persis dua langkah Melati, dll.

Soundsystem yang dipakai bagus dan rekaman juga bagus, supaya suara tidak jadi dominan tetapi jadi faktor yang menghubungkan semuanya.

Tata panggung. Melati berharap publik bergerak dan pindah tempat pada waktu performance berlanjut. Itu tidak terjadi karena meskipun kursi-kursi ditutup kain hitam, orang-orang tetap pilih posisi di baris depan kurs. dan karena memang publik hanya sedikit, semua dapat posisi di depan, Ada layar dengan loop video tepat di atas kebanyakan orang duduk dan tidak bisa dilihat kalau penonton tidak berganti posisi. Saya melihat itu sebagai usaha Melati supaya orang-orang berpindah tempat, tapi tidak banyak orang melakukannya, mereka menonton dari satu sisi saja. Tata cahaya yang digunakan baik karena memilih netral.

Ada satu hal yang saya merasa agak mengacaukan performancenya .
Kami terima brosur dan sepotong kertas yang menjelaskan beberapa aturan mainnya sebelum pentas dimulai.

Disitu di tulis bahwa boleh merespons karya / performance asal tidak menyentuh obyeknya.
Boleh masuk keluar dari ruangnya dan boleh berinteraksi. Selama pertunjukan ada dua orang (sepertinya teman Fitri) yang masuk ruang arena dan ‘mengacaukan’. Melati atau 2 aktor lainnya tidak berinteraksi sama sekali dengan publik selama tiga jam. Mereka hanya menampilkan diri dan asyik bermain dengan dirinya sendiri atau di antara aktor, tapi, mereka dalam dunia sendiri. Melihat ke publik saja tidak.

Dengan dua orang dari publik masuk arena menjadi faktor yang sangat menganggu menurut saya. Tidak cocok dengan sifat performance ini. Tidak berhubungan dan merusak konsentrasi dari kami penonton maupun aktor2.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *