Berita




CATEGORY

Agenda, Berita, Kata Panggung, Peluang






Menelusuri Bahasa Sebelum Kata

Catatan Pemantauan Pooh-Pooh Somatic, On Crowd of Biographies oleh Joned Suryatmoko
21 dan 22 Agustus 2017 – Pusat Kesenian Koesnadi Hardjosumantri (PKKH) UGM – Yogyakarta Produksi Kalanari Theatre Movement – Sutradara : Ibed Surgana Yuga (Peraih Hibah Seni Kelola 2017)

Tentang Dasar Pikiran
Ibed Surgana Yuga menjelaskan bahwa Pooh-pooh Somatic berangkat dari sebuah pertanyaan: “Bagaimana bahasa sebelum kata?”. Ia menambahkan bahwa pertanyaan itu berujung pada hipotesis – atau bahkan sekadar spekulasi – bahwa sebelum kata, manusia menggunakan gerak dan suara yang diekspresikan untuk maksud tertentu, baik untuk berkomunikasi dengan manusia lain maupun sekadar mengekspresikan emosi dalam diri.

Saya akan mulai dulu dengan kutipkan lebih komplet rangkuman karya yang ditulis Ibed dalam proposal: Pooh-pooh Somatic juga berusaha menggali lagi ekspresi-ekspresi emosional tubuh yang selama ini hilang dari laku keseharian tubuh kita sebagai manusia modern. Dengan kian bergegasnya dunia, manusia menjadi kian verbal dan kehilangan kosa gerak dan kosa bunyi yang dapat mengekspresikan emosi yang spesifik.

Pertannyan pertama yang muncul: benarkah ekspresi-ekspresi emosional tubuh selama ini hilang dari laku keseharian tubuh kita sebagai manusia modern? Atau sebenarnya justru ia semakin kompleks dan subtil karena tertumpuk dan saling sengkarut tertimbun konsumsi kita pada media (tivi dan internet/ social- media)? Bukankah tubuh manusia modern cenderung menjadi arena pertarungan produksi budaya?

Saya berangkat menonton pertunjukan dengan keyakinan pada yang kedua, bahwa emosi tubuh sebenarnya tidak hilang tapi justru semakin rumit. Karena hal inilah saya tidak berharap ada pertunjukan yang menyederhanakan tubuh. Bentuknya bisa sederhana tapi pijakan berpikirnya sulit disederhanakan. Dasar berpikir ini menjadi penting diunggah untuk mengingat bagaimana posisi manusia modern sebenarnya. Bahwa ia (justru) tidak lebih dari arena pertarungan ideologi.

Dasar pemikiran Ibed ternyata cukup kaya dieksplorasi dalam banyak keputusan pemanggungan. Secara gagasan Ibed memang memfokuskan pada tubuh-tubuh dan gerak yang ekspresif dan dasar (baca: purba). Meski begitu Ibed nampak sangat selektif dan jitu mendialogkan gagasan yang purba itu pada modernitas yang pasti juga dialaminya sendiri, yakni dimana tubuh sebagai arena pertarungan budaya.

Keputusan-keputusan untuk secara artistik memasang jemuran (dalam instalasi yang dominan), berganti sekaligus menggantung di jemuran baju, kolektivitas dalam barisan satu sarung, mengkonsumsi musik dangdut dan berjoget dangdut, semuanya menyimpan dialog kompleksitas itu. Pada titik ini Ibed sebenarnya sedang merevisi dirinya sendiri, apakah ekspresi emosi itu benar-benar hilang. Ataukah ia sedang bercampur dengan emosi lain?

Tentang Pertunjukan
Dalam booklet pertunjukan tertulis Pooh-pooh adalah salah satu teorinya (Max Muller-pen) tentang asal mula bahasa, yang mengungkapkan bahwa kata-kata awal manusia muncul dari bunyi-bunyi ekspresi emosional yang dipicu oleh rasa sakit, senang, terkejut dan lainnya. Teori ini kami sandingkan dengan somatic, sebuah term dari ranah biologi, sebagai sistem saraf sadar yang merangsang kontraksi otot; dan kini somatik juga digunakan dalam dunia seni dan studi gerak.

Kesetiaan dan kecermatan Ibed pada eksplorasi tubuh dan ruang masih nampak di bagian besar pertunjukan. Ibed sengaja menempuh banyak resiko untuk mengelaborasi capaian-capaian artistik yang selama ini didapatnya, dalam hal ini tubuh dan pengelolaan ruang. Halaman tengah PPKH disulap menjadi ruang pertunjukan dengan instalasi jemuran yang dihidupkan para aktor. Penonton duduk menyebar dan pertunjukan kerap kali sangat dekat di depan mata penonton. Hanya mungkin sejangkauan tangan.

Sayangnya kesempatan Ibed untuk naik kelas tidak dibarengi dengan kapasitas aktor (performer) yang memadai. Dari lima orang aktor, hanya Dinu Imansyah yang mampu berkontribusi pada dramaturgi pertunjukan. Mungkin karena ia tergolong senior dan cukup lama bergabung dengan Kalanari. Bagian pembuka dimana Dinu berjalan mengitari ruangan sambil seolah-olah bercerita pada penonton, merupakan bagian yang menyentuh dan secara imaginatif membawa suasana pada satu masa dimana kita tidak berbicara lewat bahasa (verbal).

Selebihnya, aktor yang lain terlihat masih sangat muda dan mentah. Gerak eksploratif dan geliat tubuh yang seyogyanya menteror, terlihat seperti dagelan. Saya membandingkan ini dengan sejumlah aktor yang sebelumnya pernah bergabung dengan Ibed misal Andika Ananda, Tita, Dian Wulansari maupun Rendra Bagus. Hal ini terasa tidak adil bagi Ibed yang ingin naik kelas, mencoba menaikkan eksplorasi estetikanya, tapi sumber daya manusia yang dia punya tidak memadai. Situasi seperti ini bisa saja terjadi di banyak sutradara
yang dinamika kelompok teaternya berubah, dimana ada pergantian anggota lama dan baru. Saya membayangkan jika Andika ada, Dinu tidak akan sendirian menyelamatkan pertunjukan itu.

Musik perkusi dipadu dengan pianika terkesan kurang mendukung imajinasi ‘sebelum penemuan bahasa’. Keritmisan senar drum mengingatkan kita pada marching band yang tentu bertabrakan dengan ekslorasi tubuh para aktor. Mungkin saja Ibed memang sengaja menabrakkan dua hal itu, antara yang ritimis (modern, terstruktur) dengan yang belum terstruktur sebelum bahasa.

Hal lain yang patut dicatat adalah melimpahnya penonton. Hari II relaif lebih banyak dari Hari I. Tidak terhitung oleh saya berapa jumlah secara pasti, namun yang jelas di Hari II malam, tim produksi Kalanari nampak perlu mengeluarkan tikar tambahan bagi penonton yang melimpah. Sebagian dari mereka adalah anak-anak muda yang hampir bisa dipastikan mahasiswa.

Terkait perkara ini, Ibed perlu diingatkan bahwa para mahasiswa itu akan meninggalkan Yogya empat tahun lagi setelah mereka lulus. Bagaimanapun Yogya adalah kota singgah terutama untuk kuliah. Pekerjaan membangun penonton harus dilakukan lagi setiap empat tahun. Pooh-pooh Somatic dengan begitu tidak hanya mengingatkan perlunya membangun kapasitas keaktoran pemain, tapi sekaligus persiapan membangun penonton yang terus-menerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *