• DATE
  • PLACE

11 July 2018


Yayasan Kelola, RT.17/RW.2, South Cipete, South Jakarta City, Jakarta, Indonesia

2:30 pm -

Artist Talk dan Presentasi Project “Pencucian Nama (Name Laundering)”

“Ketika mata saya berlinang akibat asap, binatang yang punah dan menyadari siapa yang membuat dan memiliki lukisan ini”

11 Juli 2018, 14.30 Wib
Kelola HQ, Jalan Abdul Majid no 44R
Cipete, Jakarta Selatan.
Info&RSVP: 0813 8120 4946

Tentang Karya
Pencucian Nama (Name Laundering) merupakan narasi karya seni terbaru Irwan Ahmett dan Tita Salina berdasarkan hasil riset selama melakukan residensi di NTU CCA Singapore. Sebagai seniman yang tertarik dengan persoalan geopolitik di kawasan Lingkar Pasifik mereka menelaah kembali hubungan Indonesia dan Singapura di selat Malaka sebagai wilayah perairan paling penting di Asia Tenggara. Kontrol dan konflik di kawasan tersebut membentang sepanjang sumpah-sumpah sakral yang ditancapkan ke tanah Jantan hingga perjanjian perusahaan-perusahaan serakah. Pengembangan karya seni mereka berakar dari dampak-dampak kolonialisme, sabotase pasukan bersenjata saat konfrontasi dengan Malaysia, praktik para jagoan lautan yang secara kolektif membajak kapal, jalur smokelen (penyelundupan) dan kehancuran ekologi akibat pembukaan lahan untuk eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Irwan dan Tita merancang aksi ‘subversif yang santun’ untuk merespon kontrol negara yang dihantui kepentingan ekonomi semata dan kemasan agenda nasionalisme yang dogmatis.

Tentang Irwan Ahmett dan Tita Salina
Irwan Ahmett dan Tita Salina bekerja dan tinggal di Jakarta. Kuliah jurusan Desain Grafis di Institut Kesenian Jakarta dan mendirikan studio desain Ahmett Salina yang sudah berjalan 15 tahun. Sejak 2010, mereka perlahan mulai produktif sebagai seniman duo. Karya awal mereka fokus pada isu ruang publik perkotaan. Sebagai gelandangan kosmopolitan mereka sudah berpartisipasi dalam program residensi di Jepang, Korea, Selandia Baru, Taiwan, Belanda dan Polandia. Irwan dan Tita memanfaatkan mobilitas mereka yang tinggi sebagai kendaraan utama dalam praktik berkeseniannya. Karya jangka panjang mereka merefleksikan benturan geopolitik di Cincin Api Lingkar Pasifik mendorong karya seni mereka untuk bersentuhan dengan tema yang lebih kompleks terkait kemanusiaan, ketidakadilan dan ekologi. Ketika yakin bahwa seni adalah persoalan rasa maka disanalah eksplorasi dan imajinasinya diterapkan untuk mempertanyakan ulang konsepsi rupa dalam gesture ketidakpatuhan terhadap propaganda, ideologi, kekuasaan dan kecenderungan untuk mengklaim status quo di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *