en id

Bambang 'Besur' Suryono: In Memoriam


Lahir dan besar di Solo, kehidupan Bambang ‘Besur’ Suryono (1960–2020) tidak pernah jauh dari kesenian tari, terutama tari tradisional Jawa. Ia dikenal sebagai salah seorang penari yang menimba ilmu di Sardono Dance Theater, sebuah kelompok tari yang didirikan oleh Sardono Waluyo Kusumo di Solo pada 1970. Sardono memainkan peran penting dalam karier seorang Bambang ‘Besur’ dalam menjadikannya seorang penari dengan kemampuan berkesenian dan bersosial yang baik (Australian Dance Council, 2006). Salah satu jenis tari Jawa yang paling memengaruhi gaya berkesenian Bambang ‘Besur’ adalah tari bedhaya, bentuk tarian klasik Jawa yang dikembangkan di kalangan keraton Yogyakarta dan Surakarta. Hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari latar belakang keluarganya. Kakeknya, Duto Diprodjo, adalah seorang dalang di Keraton Kasunanan Surakarta, sementara neneknya, Ray Dipo Wiyoto, seorang penari bedhaya pada masa Raja Surakarta Paku Buwono XI (1939-1945) yang kemudian diteruskan oleh ayahnya, Raden Soetarso.

Di antara beberapa bentuk kesenian Jawa seperti wayang, karawitan, dan batik, Bambang ‘Besur’ memilih untuk mendalami ilmu tari karena sering diajak menonton pertunjukan tari di keraton oleh kakek dan neneknya. Saat duduk di bangku sekolah, tepatnya ketika menjadi siswa SMK 8 Surakarta pada tahun 1986, Bambang ‘Besur’ mulai nyantrik atau berguru kepada Sardono Waluyo Kusumo. Sardono dikenal selektif dalam memilih penarinya, sehingga Bambang ‘Besur’ pun harus menunggu selama dua tahun untuk menjadi penari latar dan baru lima tahun kemudian ditunjuk sebagai penari pembantu. Bambang ‘Besur’ kemudian baru menjadi penari utama setelah bergabung dalam Sardono Dance Theater selama 10 tahun. Beberapa penampilannya sebagai penari utama antara lain Opera Diponegoro di Art Summit Indonesia, Jakarta (1995), Passage Through The Gong  di Tanz Festival, Vienna, Austria (1996), dan Soloensis,  Jerman dan Korea Selatan (1997). Semenjak saat itu, Bambang ‘Besur’ aktif tampil di sejumlah acara kesenian dan festival tari internasional. Semenjak menempuh pendidikan di ISI Surakarta, ia mulai merintis kariernya sebagai koreografer.

Pada tahun 2004, Bambang ‘Besur’ menciptakan tari Bedhaya Layar Cheng Ho yang sampai hari ini dianggap sebagai salah satu karya terbaiknya sebagai seorang koreografer. Diawali dengan pertunjukan tari bedhaya sebagai pembuka, dalang wayang potehi kemudian muncul di atas panggung dan menuturkan cerita tentang perjalanan Cheng Ho di Nusantara. Properti penis yang bergantung dengan ketinggian beragam digunakan dalam pertunjukan tersebut sebagai simbol dari pangkat yang dimiliki oleh anak buah Laksamana Cheng Ho yang turut dalam ekspedisinya.

Penari berjumlah empat orang menunjukkan gerakan tubuh yang diombang ambingkan oleh ombak, mencerminkan perjalanan laut yang ditempuh oleh Cheng Ho dan anak buah kapalnya. Sebagai penutup bagian kedua ini, para penari tersebut menumbuk boneka Kaisar Ming di atas tubuh Cheng Ho. Puncak dari pertunjukan Bedhaya Layar Cheng Ho adalah saat para penari menarik-narik dan menggoyang-goyangkan penis yang bergantungan dengan gestur yang menyiratkan kemarahan sampai beberapa di antaranya jatuh. Bagian tersebut merupakan representasi utama dari kehidupan kasim atau pria yang dikebiri dalam pertunjukan tersebut.

Kastrasi atau pengebirian merupakan suatu insitusi yang dijalankan oleh kekaisaran Cina. Kabar pertama terkait keberadaan orang kasim dalam pemerintahan kaisar menyebutkan bahwa tradisi tersebut dilakukan paling tidak semenjak dari abad ke-8 SM pada masa Dinasti Zhou. Pengebirian merupakan sarana untuk mendapatkan pekerjaan di dalam istana dan melayani keluarga bangsawan. Hal tersebut dilakukan dengan anggapan bahwa orang-orang kasim yang tidak akan bisa memiliki anak lagi akan kehilangan keinginan untuk merebut kekuasaan atau bertindak amoral di dalam istana.

Bambang ‘Besur’ juga menyumbangkan karyanya pada perhelatan International Mask Festival 2018, yakni Tari Candika Ayu yang diciptakan dan juga ditampilkannya pada acara tersebut bersama penari dari Sanggar Semarak Chandra Kirana. Tari Candika Ayu menceritakan tentang kecantikan wanita dewasa yang diwujudkan melalui gerak tari yang lembut dan mengalir  tenang dengan vokal yang dilantunkan dengan nada dan ritme meditatif.

Bambang ‘Besur’ tidak hanya dikenal sebagai seorang penari dan koreografer, namun juga direktur artistik dari sejumlah kegiatan seni di Indonesia. Pada tahun 2010 dan 2010, ia menjadi manajer proyek Solo Batik Carnival (SBC) III dan IV di Surakarta. Selain itu, ia juga berperan penting dalam perhelatan pertama Tegal Pesisir Carnival (TPC), sebuah festival yang diadakan untuk memperkenalkan keragaman batik daerah pesisir Jawa seperti Cirebon, Brebes, Tegal dan Pekalongan.

Kepergian Bambang ‘Besur’ merupakan kehilangan yang besar bagi dunia seni pertunjukan Indonesia. Sampai akhir hayatnya, ia masih menciptakan kreasi-kreasi tari dan merancang program-program untuk festival kesenian bertaraf internasional di Indonesia, terutama di daerah Jawa Tengah.

Selamat jalan Bambang ‘Besur’ Suryono, terima kasih atas dedikasi dan sumbangan tak ternilai bagi dunia tari dan seni pertunjukan Indonesia.

Oleh: Dhianita Kusuma Pertiwi

Daftar Untuk Buletin Kami

Tetap update dan dapatkan berita terbaru kami langsung ke inbox Anda