en id

Posisi dan Narasi Tionghoa dalam Seni Pertunjukan Indonesia


Pasca dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia kembali diramaikan dengan seni pertunjukan barongsai. Pertunjukan barongsai bahkan kini tidak hanya dipertontonkan di kelenteng, namun juga pusat-pusat perbelanjaan dan ruang terbuka lain seperti jalan raya. Budaya masyarakat Tionghoa telah lama berakulturasi dengan budaya lokal Nusantara semenjak tahun 131 Masehi sebagaimana ditorehkan dalam sebuah catatan yang ditulis pada Dinasti Han. 

Posisi kebudayaan dan masyarakat Tionghoa dalam seni pertunjukan Indonesia sebenarnya tidak hanya terbatas pada barongsai. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, dunia seni pertunjukan Indonesia sempat mengenal Tan Tjeng Bok, seorang biduan dan aktor keturunan Tionghoa-Betawi. Pada masa kejayaannya, Tan Tjeng Bok menjadi seorang bintang panggung tonil dengan tergabung dalam kelompok Dardanella. Dardanella merupakan kelompok sandiwara yang didirikan di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 1926 dan dipercaya menjadi kelompok kesenian Indonesia pertama yang memiliki reputasi internasional sampai akhirnya tutup pada awal tahun 1940. 

Karier kesenian Tan Tjeng Bok tidak berakhir di Dardanella. Ia merambah dunia film dan menjadi seorang aktor dengan ketenaran yang sejajar dengan Sofia WD, Fifi Young, dan Aminah Cendrakasih. Si Item, julukan Tan Tjeng Bok, telah membintangi sejumlah film layar lebar, di antaranya Rela (1954), Melarat Tapi Sehat (1954), Djudi (1955), Si Bongkok dari Borobudur (1955), Neng Atom (1956). Tan Tjeng Bok wafat pada tahun 1985 dalam keadaan ekonomi yang sulit, terlepas dari peran dan posisinya yang signifikan dalam perkembangan seni pertunjukan dan perfilman Indonesia. 

Kekerasan budaya yang dialami masyarakat Tionghoa di Indonesia selama Orde Baru memaksa sejumlah tokoh, seniman, dan karya-karyanya tersingkir. Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 membatasi perkembangan kesenian Tionghoa dan menekan narasi-narasi tentang kebudayaan Tionghoa. Pencabutan peraturan tersebut terbukti mampu memberikan kesempatan bagi para seniman Tionghoa untuk kembali berkarya. Salah satunya adalah Agnes Christina, penerima Hibah Seni Yayasan Kelola kategori Karya Inovatif tahun 2012. 

Pertunjukan berjudul Kongkalikong yang dipentaskan di Kelenteng Eng An Kiong pada 21–22 September 2012 merupakan sebuah pementasan monolog yang menghadirkan kisah fiksi sejarah tentang tiga orang perempuan dari tiga generasi keluarga keturunan Tionghoa di Jawa yang pindah ke Singapura. Perjalanan yang dimulai sejak 1927 tersebut menghadapkan ketiga perempuan itu pada suka, duka, dan dinamika ekonomi serta politik yang terjadi pada zamannya. Judul dari karya pertunjukan itu, Kongkalikong, merupakan istilah bahasa Tionghoa yang diserap ke dalam bahasa Melayu, dan menyiratkan proses akulturasi budaya Tionghoa dengan budaya Melayu yang melibatkan sejumlah aspek termasuk bahasa. 

Malang sebagai lokasi pementasan memiliki kisah sejarah tersendiri terkait sejarah kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa yang sempat menjadi korban pembunuhan massal pada 1947. Semasa masa kolonial Belanda, masyarakat Tionghoa di Malang sempat dituduh sebagai pembela bangsa penjajah. Tuduhan tersebut berakhir tragis dengan peristiwa pembunuhan massal keturunan Tionghoa pada 13 Juli 1947 di bekas pabrik pembuatan mie di daerah Mergosono, Malang, yang kemudian dikenal dengan Tragedi Mergosono. Dua hari setelah peristiwa tersebut, 30 jenazah masyarakat keturunan Tionghoa ditemukan dalam keadaan mengenaskan dengan tanda-tanda kekerasan berat dan luka bakar di sekujur tubuh mereka. 

Pertunjukan Kongkalikong menghadirkan kembali wacana tentang sejarah interaksi lintas budaya Tionghoa dan Melayu dari kacamata tokoh perempuan. Pengangkatan narasi tersebut kembali menyadarkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan telah terjadi di Indonesia dalam proses akulturasi budaya tersebut. Selain itu, pementasan Kongkalikong menyiratkan pesan agar kejadian serupa jangan sampai terjadi lagi di masa mendatang. Peran dan posisi masyarakat Tionghoa serta narasi kebudayaan Tionghoa dalam seni pertunjukan Indonesia perlu diapresiasi sebagai bagian dari dunia kesenian Indonesia.

Oleh: Dhianita Kusuma Pertiwi

Daftar Untuk Buletin Kami

Tetap update dan dapatkan berita terbaru kami langsung ke inbox Anda