Hari-Hari Yang Indah

Kata Panggung dari Pementasan Hari-hari Yang Indah oleh Citra Pertiwi sebagai Peraih Hibah Seni Karya Inovatif 2016

Dicatat oleh Ikun Sri Kuncoro [mahasiswa S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Sekolah PascasarjanaUGM Yogyakarta]

 

Hari-hari Yang Indah karya Citra Pertiwi ini digelar dua hari [25-26 Nopember ‘16] di gedung Societed Militer Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukan hari pertama disaksikan sekitar 150 penonton, hari kedua 100an penonton. Meski bertumpu pada dialog, pertunjukan berdurasi sekitar 50an menit ini berhasil menahan penonton untuk tetap menjalani peristiwa panggung yang hampir beku itu, karena tak ada progresi peristiwa yang diadegankan.

Gea, seorang mahasiswi semester 7 di jurusan Teater ISI Yogyakarta mengaku menikmati pertunjukan itu, “Dialog para pemain bisa diikuti dengan jernih” kilahnya.

Ketiadaan progresi peristiwa, diakui oleh Citra –penuis lakon dan sutradara—sebagai sebuah eksperimen yang diujicobakan ketika panggung teater lebih banyak dipenuhi oleh praktik teater tubuh. Oleh Citra, teater seperti hendak diingatkan lagi bahwa ia adalah juga ruang bahasa di mana kata-kata bias tumbuh dan mengalir mengantarkan cerita. Dengan sangat ekstrim, Citra kemudian menaruh dua tokoh ceritanya sebagai terbenam dalam pasir sehingga tak memberi kemungkinan untuk memainkan blocking dalam pola lantai permainannya. Malah, tokoh pria, dibenamkannya sampai di bahu sehingga tak memungkinkan untuk sekedar memainkan tangan.

Peristiwa bahasa di atas pentas ini pernah dimainkan dengan sangat memukau, meski dalam tradisi dramatic reading, oleh Arifin C Noer di Auditorium RRI Yogyakarta pada 90, ketika dia –seorang diri– membabat habis naskah Kapai-kapai, hanya dengan duduk di atas kotak setinggi dan selebar 50cm, bahkan tanpa sedikit ilustrasi musik sedikitpun dan dengan hanya satu lampu yang datang dari arah atasnya. Tentu, Citra harus menyebut pertunjukannya yang menumpu pada bahasa sebagai eksperimen karena bagaimanapun kedua aktor yang dipilihnya belumlah setua Ipin di tahun 90an itu. Atau, semacam kekurangajaran Landung Simatupang yang pernah merekam suaranya dalam membaca cerpen, lalu menggunakannya sebagai playback di atas pentas, sementara dia bergaya layaknya seorang yang sedang mendengarkan siaran radio sembari makan kacang dan minum teh.

Keberhasilan eksperimentasi Citra di wilayah pementasan bahasa ini bisa dilacak sejak pemiihan aktornya. Setidaknya, pengakuannya dalam cara memilih pemeran yang tanpa audisi tapi berdasar pengalamannya berproses bersama dengan dua aktor yang ditunjuknya menekankan kesiapan pertunjukannya. Citra tahu pasti bahwa aktornya akan mampu mewujudkan gagasannya. Maka menjadi tidak mengherankan bila warna bariton Muhamad Khan dengan nada rendah dan ritme yang lambat telah menjadi orkestrasi tersendiri ketika dipertemukan dengan warna sopran Nunung Deni Puspitasari yang cenderung cepat dan tinggi. Vibrasi vokal ini telah menciptakan progresi dramatik tersendiri di wilayah auditif yang dirujuk oleh konsep pertunjukan. Memang progresi dramatik ini jadi terlalu lembut, bahkan mungkin hampir tak terasa. Kelembutan progres dramatik ini jadi mengingatkan bacaan Rendra pada lakon Menunggu Godot dalam bukunya Tentang Bermain Drama ketika sejumlah pembaca Menunggu Godot mengatakan lakon itu datar, tanpa konflik, tanpa dramatik dan adagium teater Indonesia mengatakan no conflict no drama.

Pertunjukan Hari-hari Yang Indah harus dikatakan sangat minimalis dari aspek visual. Di latar belakang scenary memampang tayangan video yang beku dari awan putih dan langit biru. Sepanjang pertunjukan gambar awan dan langit itu tak berubah apalagi berganti. Gambar itu hanya hilang sesaat karena adanya kilat yang lewat bersama datangnya hujan, yang dibarengi wajah-wajah terperangah dari dua tokoh: semacam gambar dengan teknik freeze dalam film.  Selebihnya hanyalah permainan pemeran wanita dengan beberapa property: payung, sikat gigi. Cahaya yang menerangi panggung pun tak berubah untuk memberi aksentuasi tertentu. Perihal cahaya panggung ini, Ficky aktor Mime dari Bengkel Mime Theatre Yogyakarta, menandainya sebagai ceroboh karena tidak membantu menandai pergerakan waktu cerita yang berlangsung dari pagi hingga petang.

Hal yang mengagumkan dari proses ini, justru, pada tahap pra-produksi: sesuatu yang tidak terlihat di atas panggung. Naskah yang ditulis Citra, diinspirasi [istilah yang digunakan Citra] dari sebuah naskah lain: Happy Days karya Samuel Beckett. Boleh dikatakan praktik penulisan naskah ini sebagai inovasi karena karakter karya/naskah yang kemudian dimunculkan bukanlah terjemahan, saduran, tapi bukan juga adaptasi sebagaimana umumnya terjadi. Orang bisa menemukan Antigone versi Jean Anouilh yang hampir utuh secara plot tetapi memiliki perbedaan karena kontekstualitas jaman ketika terjadi penulisan ulang. Atau mungkin Makbett dari Ionesco yang memporak-porandakan Machbet menjadi sangat sarkastik: gambaran tubuh Makbett tetaplah utuh sebagaimana Machbet kecuali anasir kekejamannya yang makin liar.

Karena inovasi itu maka menonton Hari-hari Yang Indah karya Citra tidaklah harus merujukkannya pada Happy Days karya Beckett. Ia lebih meminta untuk dirujukkan pada dirinya sendiri. Happy Days bukanlah reference dalam tradisi hermeneutika Ricoeur bagi Harihari Yang Indah. Inovasi ini sekaligus juga mengingatkan bahwa penulisan naskah adalah –pertama-tama– milik tradisi seni pertunjukan bukan milik seni bahasa atau sastra. Jika seni pertunjukan menolak tradisi penulisan naskah sebagai miliknya maka seni pertunjukan di Indonesia akan kembali ke wilayah lisan dan salah satu dokumentasinya –untuk menyelamatkan sejarahnya– akan meminjam tradisi film.

Hal yang akan sangat menantang adalah bagaimana tradisi penulisan naskah seni pertunjukan ini memasuki disiplin tari. Intinya, bagaimanakah tari mendeskripsikan, melukiskan, visualitas karyanya sebelum pertunjukan? Beckett pernah menuliskan lakon pendeknya yang nir-dialog. Dan itu bukan pantomim. Apalagi tari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *