en id

Dedek Wahyudi


Antonius Wahyudi Sutrisna atau yang akrab disapa Dedek adalah komponis kelahiran Klaten tahun 1960. Lingkungan keluarga kakeknya yang mayoritas dalang, sinden dan niyaga membuat Dedek akrab dengan gamelan sejak kecil. Bahkan, Dedek mampu menghafal gending karawitan dengan cepat hingga didaulat menjadi pemain kendang yang mengiringi pementasan Ki Suwandi, dalang terkenal dari Purworejo. Demi memantapkan keterampilannya, Dedek meneruskan pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta. Lalu, ia mengambil Jurusan Karawitan di Akademi Seni Karawitan Indonesia-ASKI (sekarang Institut Seni Indonesia) Surakarta.

Dedek memulai karirnya sebagai komponis sejak masih bersekolah di SMKI. Bermula dari keterlibatannya sebagai pengendang musik tari, ia mendalami komposisi iringan tari hingga melahirkan karya drama tari perdananya “Retno Dumilah”. Jelang lulus SMKI, ia telah menggarap lebih dari 10 garapan musik tari—di samping garapan untuk konser musik “Basulakardha” serta Gending “Mars Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta”. Ketika kuliah di ASKI, Dedek tekun mengamati, mempelajari, bahkan melibatkan diri dalam proses kreatif komponis Rahayu Supanggah, Blacius Subono, Aloysius Suwardi dan I Wayan Sadra.

Sebagai komponis yang dekat dengan dunia tari, karya-karya Dedek tampak “mengiringi” dan cenderung ilustratif. Kepiawaiannya dalam memainkan kendang menjadikan karyanya terdengar energik dan dinamis. Dedek aktif menciptakan musik untuk wayang, tari maupun teater. Ia pernah membuat komposisi musik untuk karya tari sejumlah koreografer, seperti Sardono W Kusumo, Mugiyono Kasido, Deddy Luthan dan Eko Supriyanto. Di bidang teater, ia juga pernah membuat musik iringan untuk Teater Gapit dan Bengkel Teater milik WS Rendra.

Dedek kerap diundang ke berbagai pementasan musik tradisional dan kontemporer, di dalam maupun luar negeri. Ia juga banyak berkolaborasi dengan musisi lintas budaya, salah satunya saat mengikuti program Asia Pasific Performing Exchange di Los Angeles, USA (2006). Berkat kepiawaiannya, ia banyak meraih penghargaan sebagai komposer terbaik hingga menerima penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas perannya sebagai Penata Musik Gamelan Coro Balen selama 36 jam, 36 menit, 36 detik dalam HUT TMII ke 36 (2011). Pada tahun 2000, ia mendirikan Dedek Gamelan Orchestra (DGO) yang aktif menggarap karya untuk konser musik, serta mengiringi tari, teater, film, sinetron, dan wayang.

Sign Up For Our Newsletter

Stay update and get our latest news right into your inbox