en id

Eko Supriyanto


Lahir di Astambul, Kalimantan Selatan, 26 November 1970, Eko Supriyanto dibesarkan di Magelang, Jawa Tengah. Sejak usia 7 tahun, Eko belajar silat dan tari Jawa dari kakeknya, Djojoprayitno, penari wayang orang Sri Wedari (Solo) 1960-an. Sepeninggal kakeknya, ia mulai belajar tari rakyat Kuda Lumping dan Kubro Siswo dari guru setempat, Kahari dan Alit Maryono. Eko semakin menekuni seni tari dan koreografi saat masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta tahun 1990. Kemudian, Eko melanjutkan kuliah di Department World Arts and Culture di UCLA, California (1998-2001) dan menempuh program S-3 Kajian Seni Pertunjukan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Eko mendapatkan banyak referensi tentang kompilasi unsur-unsur gerak dari sejumlah guru, antara lain Suprapto Suryodarmo dan Sardono W. Kusumo. Selama kuliah di UCLA, Eko mendalami teknik tari modern, improvisasi, dan koreografi dari David Rousseve, Simone Forti, Victoria Marks, dan Angelia Leung. Meski berawal dari tari tradisi Jawa, ia menganggap tradisi Jawa cukup menjadi bekal inspirasinya. Pengalaman berkuliah di Amerika Serikat dan berkolaborasi dengan sejumlah seniman memberinya pemahaman berbeda bahwa sebuah koreografi tidak hanya dilihat dari sisi panggung, melainkan gerak dan bentuk tarian.

Sejak mahasiswa, Eko telah aktif menggarap koreografi. Dua karya di antaranya Lah (1994) dan Leleh (1996) pernah tampil dalam Indonesian Dance Festival (IDF). Pada tahun 2013, Eko terlibat dalam penggarapan koreografi untuk Festival Teluk Jailolo, Halmahera Barat. Selepas festival, ia juga melahirkan karya trilogi yang ditarikan penari perempuan Jailolo, yaitu “Cry Jailolo”, “Balabala” dan “Salt”. Eko tak pusing memikirkan pesan dalam karyanya, tapi ia selalu mendapatkan inspirasi dari persoalan hidup sehari-hari, yang terkait masalah sosial, politik, agama, dan ekonomi.

Eko mendirikan Solo Dance Studio dan EkosDance Company di Surakarta. Ia juga mengajar koreografi di ISI Surakarta. Sebagai koreografer profesional, ia aktif menggarap koreografi untuk film serta perhelatan tingkat nasional dan internasional, misalnya koreografi untuk film Indonesia ”Opera Jawa” karya Garin Nugroho, Asian Games 2018 dan lain sebagainya.

Sign Up For Our Newsletter

Stay update and get our latest news right into your inbox