en id

I Nyoman Sura


Lahir di di Kesiman, Denpasar, Bali, 10 April 1976, I Nyoman Sura tumbuh di lingkungan keluarga petani. Sejak kecil, Sura senang menonton para penari berlatih di balai banjar dan kerap meniru gerakannya. Karena kegemarannya itu, sang pelatih mengizinkannya ikut latihan. Semenjak itu, Sura rajin ngayah menari di berbagai pura di desa kelahirannya. Selepas SMA, ia pun melanjutkan pendidikan tari secara formal di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar (sekarang ISI Denpasar). Kemudian, ia menempuh pendidikan S-2 Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Semasa kuliah, Sura mulai mengenal ragam bentuk dan wacana seni, baik tradisi, modern maupun kontemporer. Sejak saat itu, Sura bercita-cita menjadi koreografer andal. Tari tradisi Bali tetap menjadi sumber inspirasinya dalam menghasilkan karya, baik dari sisi gerak, kostum, cerita, sejarah dan lain sebagainya. Namun sebagai koreografer, ia fokus menggarap karya tari kontemporer. Bagi Sura, tari kontemporer membuatnya lebih bebas berekpresi dalam mengembangkan ide.

Sura dikenal sebagai koreografer yang kontroversial dengan karya-karya bertema lingkungan dan kemanusiaan. Salah satu karyanya bertajuk “Ritus Legong” (2002) memanfaatkan sampah sebagai kostum penari. Selain itu, Sura pernah mendapat protes keras saat mementaskan karya “That Time” di Medan karena beradegan telanjang sebagai wujud representasi kelahiran, kehidupan dan kematian. Protes ini muncul karena saat itu pro-kontra RUU Pornografi dan Pornoaksi sedang ramai dibicarakan publik.

Sejak tahun 1996, Sura sempat mengajar di almamaternya, ISI Denpasar. Sepanjang karirnya, ia banyak memperoleh motivasi dari koreografer idolanya, seperti I Wayan Dibia, Boi G. Sakti dan Lin Hwai-min, koreografer dari Taiwan. Sura kerap menguji kemampuannya dengan terlibat dalam berbagai pementasan, perlombaan dan festival tari, baik di tingkat lokal hingga internasional. Pada tahun 2005, Sura pernah menjadi pemantau peraih Hibah Seni Kelola kategori Pentas Keliling di Denpasar. Keikutsertaannya di Malaka Art Performance and Festival (Mapfest) 2012 di Malaysia menjadi penampilan terakhirnya sebelum meninggal dunia pada pertengahan tahun 2013.

Sign Up For Our Newsletter

Stay update and get our latest news right into your inbox