Kelola

EN

|

ID

UNTUK SENI DAN BUDAYA

EN

|

ID

KELOLA

UNTUK SENI DAN BUDAYA

Penari Kecak Menggugat Bali

Penari Kecak Menggugat Bali

BALI sekarang sangat ruwet gara-gara pariwisata yang masif. Turisme berlebihan atau overtourism memicu masalah sosial dan ekonomi, kerusakan lingkungan, lonjakan harga tanah, kemacetan lalu lintas, hingga hilangnya budaya lokal.

Masyarakat Bali pun terbelah antara yang mendukung pariwisata dan yang menolak. Namun tak bisa dimungkiri bahwa pariwisata memang telah memajukan Pulau Dewata.

Mulawali Institute dari Bali berkolaborasi dengan Kelompok Pojok, grup teater di Jakarta, mementaskan pertunjukan teater-tari The Voices After Cak! sebagai upaya untuk membincangkan kembali masalah Bali dalam konteks pariwisata.

Pentas ini merupakan bagian dari Djakarta International Theater Platform, ruang eksperimentasi artistik dan wacana kritis tentang teater serta penyelenggaraan pertunjukan yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta pada 5-12 Agustus 2025 di kompleks Taman Ismail Marzuki.

Pertunjukan ini memasukkan unsur game dan biografi aktor dalam bingkai tari kecak. Ini bukan pertunjukan tari kecak seperti yang ditampilkan dalam iklan pariwisata atau tontonan untuk wisatawan. Mulawali Institute lebih menekankan pada aspek getaran, unsur penting dalam kecak selain nyanyian kecak.

Tari kecak selalu dilakukan dengan menggetarkan tubuh, terutama dada bagian atas. Dalam pertunjukan ini, tubuh para aktor bergetar terus sambil menyanyikan kecak dalam tempo sekitar 1,5 jam. Tubuh yang berpeluh dan kelelahan tampak nyata pada para pemain.

Sumber : https://www.tempo.co/teroka/tari-kecak-bali-dalam-teater-2058311

Penari Kecak Menggugat Bali

Penari Kecak Menggugat Bali

BALI sekarang sangat ruwet gara-gara pariwisata yang masif. Turisme berlebihan atau overtourism memicu masalah sosial dan ekonomi, kerusakan lingkungan, lonjakan harga tanah, kemacetan lalu lintas, hingga hilangnya budaya lokal.

Masyarakat Bali pun terbelah antara yang mendukung pariwisata dan yang menolak. Namun tak bisa dimungkiri bahwa pariwisata memang telah memajukan Pulau Dewata.

Mulawali Institute dari Bali berkolaborasi dengan Kelompok Pojok, grup teater di Jakarta, mementaskan pertunjukan teater-tari The Voices After Cak! sebagai upaya untuk membincangkan kembali masalah Bali dalam konteks pariwisata.

Pentas ini merupakan bagian dari Djakarta International Theater Platform, ruang eksperimentasi artistik dan wacana kritis tentang teater serta penyelenggaraan pertunjukan yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta pada 5-12 Agustus 2025 di kompleks Taman Ismail Marzuki.

Pertunjukan ini memasukkan unsur game dan biografi aktor dalam bingkai tari kecak. Ini bukan pertunjukan tari kecak seperti yang ditampilkan dalam iklan pariwisata atau tontonan untuk wisatawan. Mulawali Institute lebih menekankan pada aspek getaran, unsur penting dalam kecak selain nyanyian kecak.

Tari kecak selalu dilakukan dengan menggetarkan tubuh, terutama dada bagian atas. Dalam pertunjukan ini, tubuh para aktor bergetar terus sambil menyanyikan kecak dalam tempo sekitar 1,5 jam. Tubuh yang berpeluh dan kelelahan tampak nyata pada para pemain.

Sumber : https://www.tempo.co/teroka/tari-kecak-bali-dalam-teater-2058311

Scroll to Top