Oleh: M. Aan Mansyur
“Perahu adalah heterotopia par excellence. Dalam peradaban tanpa perahu, mimpi menjadi kering, spionase menggantikan petualangan, dan para polisi mengambil peran bajak laut.” — Michel Foucault
SAYA mengingat kutipan Michel Foucault di atas ketika duduk di beranda belakang Kedai KopiNta, Jl. Milono No. 09, Tanjung Redeb, Berau, dan menyaksikan perahu-perahu melintas di sungai persis di belakang kedai itu. Di ruang tersebut terpasang instalasi di mana warga bisa menggantungkan benda-benda personal, arsip hidup yang mengingatkan mereka pada kawasan di mana kedai tersebut berada. Di sana kita bisa melihat barang-barang seperti helm, senter, kacamata, jaring dan kail, hingga gelas. Di bagian dalam, di dinding ruangan yang menghubungkan bagian utama kedai dan beranda tersebut, juga terpasang berbagai lukisan cat air dan peta—semacam kolase; guntingan koran dan jalah yang ditempelkan di atas kain—yang dibikin oleh warga.
Pameran instalasi, gambar cat air, dan peta-kolase ini adalah bagian dari Eskapade Utopia, proyek seni ziarah kota, perjalanan menelusuri titik-titik historis dan spekulatif di Kota Berau yang dibayangkan sebagai jalan dan ruang untuk merangkai ulang narasi kota melalui tubuh, pengalaman, dan imajinasi warga. Presentasi yang diberi tajuk ‘Pameran: Yang Terjaring, Teringat, Tersisa’ adalah Situs #1 ziarah kota yang diinisiasi oleh Tepian Kolektif bekerja sama dengan Ruang Perupa dan Kosa Gerak.
Proyek penelusuran artistik ini berangkat dari Kawasan Jalan Milono, di mana mereka mencoba menyelami tegangan antara ingatan masa lampau dan bayangan masa depan warga. Mereka melakukan pengamatan atas kehidupan sehari-hari, mencatat narasi-narasi kecil warga, menggali dan menginterogasi ingatan-ingatan atas luka-luka dan peristiwa-peristiwa traumatis—seperti kebakaran yang kerap terjadi di kawasan ini—dan kecemasan akan ancaman tergusur, serta saling berbagi siasat bertahan di tengah pertumbuhan kota tidak selalu berpihak kepada mereka.
Selain pameran, Eskapade Utopia juga menghadirkan pertunjukan di Tepian Segah (Situs #2) dan proyeksi arsip di Perempatan KFC (Situs #3).
TEPIAN SEGAH adalah ruang penting dan bersejarah. Kawasan ini, hingga sekarang, menjadi titik pertemuan dan ruang interaksi berbagai komunitas di Berau, dari masyarakat Suku Banua, kelompok migran Bugis, Banjar, Jawa, hingga keturunan Tionghoa. Di Kawasan bersejarah inilah, delapan penari mempertunjukkan ‘Koreografi: Pada Tubuh yang Berjalan’.
Para penari tersebut yang rata-rata berusia remaja sebelumnya, selama empat bulan, melakukan riset dengan menyimak cerita para tetua dan melalukan percakapan dengan mereka. Hasil riset tersebut kemudian menjadi materi penciptaan dalam lokakarya. Mereka mengintrenalisasi kisah- kisah yang mereka dapatkan bersama pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri menjadi gerak tubuh dan pikiran.
Mereka, delapan penari itu, di tengah keramaian Car Free Day, peristiwa rutin Minggu pagi warga selama beberapa tahun terakhir, menari di anjungan—dari Dermaga Rajatta, dermaga kecil, perlahan-lahan bergerak menuju dermaga berisi kapal-kapal besar—sepanjang kurang lebih 400 meter. Gerakan mereka adalah tafsir artistik dari beragam pengetahuan dan pengalaman, ingatan dan impian, kekecewaan dan harapan warga Berau. Kadang mereka melingkar dan menampilkan gerakan seolah sedang melakukan transaksi jual beli. Kadang mereka membentuk formasi, seakan- akan menyusun tubuh mereka menjadi monumen, untuk mengenang atau merayakan peristiwa tertentu di masa lampau. Kadang mereka melilitkan tubuh mereka di pembatas anjungan, bangku taman, atau tiang-tiang lampu dan bendera, seolah melakukan percakapan intim dan berbagi emosi dengan tempat tersebut.
Pertunjukan tersebut berlangsung di tengah hiruk-pikuk peristiwa di sekitarnya: gelak tawa para remaja, gerak dan suara ritmis orang-orang tua yang sedang melakukan senam, pagelaran topeng monyet, transaksi jual beli di bawah tenda di sepanjang jalan. Pertunjukan tersebut tampak sebagai bagian dari peristiwa rutin warga dan sekaligus sebagai satu peristiwa asing sama sekali. Menyatu dan terpisah. Jauh dan dekat. Riuh dan lengang.
‘PROYEKSI ARSIP: Rekreasi di Seberang Jalan’, fragmen ketiga ziarah kota ini, berlangsung pada malam hari selepas pertunjukan koreografi di Tepian Segah. Foto-foto lama Kota Berau diintervensi secara artistik, kemudian dipantul-tayangkan di ruang-ruang publik—salah satunya, di Perempatan KFC, di videotron LED besar milik pemerintah kota, terhimpit video berdurasi panjang berisi promosi destinasi wisata dan perayaan Hari Bayangkara di mana para aparat negara sibuk melakukan pencitraan.
Rangkaian Eskapade Utopia, oleh Eka Wahyuni dan Azwar Ahmad (seniman), serta Linda Mayasari (produser) disebut sebagai pintu masuk, ruang dialog, dan medan spekulatif untuk menulis ulang
kota—di mana pengalaman, tubuh, dan imajinasi warga sebagai materi dasarnya. Namun, lebih dari itu, proyek seni ini, kendati temporer—hanya berlangsung dua hari, juga memiliki sejumlah karakteristik yang memungkinkannya untuk dibaca dan dialami sebagai heterotopia, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh Michel Foucault.
MICHEL FOUCAULT mengawali Of Other Spaces: Utopias and Heterotopias dengan pernyataan deskriptif mengenai kegilaan dan obsesi paling besar abad ke-19 adalah sejarah. Namun, kedatangan abad ke-20 membawa serta tema atau penekanan baru. Ia mendefinisikan era ini sebagai pergeseran fokus dari waktu ke ruang. Ia mencirikannya sebagai abad yang berorientasi pada hubungan spasial; era yang ditandai oleh keserempakan dan penyejajaran; simultanitas dan jukstaposisi. Menurutnya, pengalaman kurang dipahami sebagai ‘kehidupan panjang yang berkembang seiring waktu’, melainkan sebagai jaringan yang menghubungkan titik-titik dan berpotongan dengan jalinannya sendiri.
Foucault menyimpulkan bahwa ‘kecemasan zaman kita’ berputar di sekitar ruang, memposisikan waktu hanya sebagai salah satu dari sekian banyak ‘operasi distributif’ yang berlaku untuk elemen- elemen yang tersebar pada ruang. Intinya, waktu dianggap sebagai faktor yang memengaruhi penataan situs, alih-alih kekuatan yang mencakup semuanya.
Terlepas dari formalisasi berbagai teknologi yang dirancang untuk mengapropriasi ruang, Foucault mengamati bahwa ruang kontemporer mungkin masih belum sepenuhnya terdesakralisasi, tidak seperti waktu. Meskipun waktu pernah dianggap sakral, status tersebut sebagian besar telah hilang; namun, era kontemporer masih memandang ruang sebagai sesuatu yang sakral.
Hakikat ruang melampaui sekadar netralitas; ruang secara aktif membentuk identitas dan pengalaman kita. Dengan menggambarkan ruang ini heterogen, Foucault mencatat bagaimana ruang ‘menarik kita keluar dari diri kita sendiri’. Keberadaan kita terjalin rumit ke dalam jaringan relasi spasial.
Foucault menyarankan bahwa kita dapat mengkarakterisasi situs-situs yang berbeda dengan memeriksa jaringan relasi yang mendefinisikannya. Untuk mengilustrasikan hal ini, ia menggunakan contoh situs-situs yang berkaitan dengan transportasi, termasuk jalan raya dan kereta. Menurut Foucault, kereta adalah ‘sekumpulan relasi yang luar biasa’ yang memiliki banyak fungsi; ia adalah sarana perjalanan, ruang tempat orang-orang bergerak, dan entitas yang bergerak.
Dengan mengembangkan pendekatan ini, Foucault mengusulkan untuk menggambarkan berbagai situs melalui ‘gugusan relasi yang memungkinkan mereka untuk didefinisikan’. Walaupun Foucault menguraikan metode untuk membedakan dan mendeskripsikan berbagai tempat, minat khususnya terletak pada subset ruang. Ia menulis: “Saya tertarik pada tempat-tempat tertentu
yang memiliki sifat unik karena berhubungan dengan semua tempat lain, tetapi sedemikian rupa sehingga mencurigainya, menetralkan, atau menciptakan rangkaian relasi yang kebetulan mereka tunjuk, cerminkan, atau pantulkan.”
Secara sederhana, tempat-tempat ini menimbulkan ketidakpastian mengenai rangkaian relasi yang diantisipasi. Dengan demikian, mereka menantang ekspektasi konvensional tentang hubungan, membuka jalan bagi pengenalan keterhubungan yang baru dan tidak lumrah. Foucault melanjutkan: “Ruang-ruang ini, sebagaimana sebelumnya, terhubung satu dengan yang lainnya, yang bagaimana pun juga berseberangan dengan yang lainnya pula, dan mereka memiliki dua tipe yang berbeda.”
Dua jenis ruang berbeda ini adalah utopia dan heterotopia. Proyek Eskapade Utopia bisa kita baca sebagai keduanya.
UNTUK memahami heterotopia, Foucault memulai dengan deskripsi tentang apa yang membentuk sebuah utopia.
“Utopia adalah situs tanpa tempat nyata. Utopia adalah situs yang memiliki hubungan umum analogi langsung atau terbalik dengan ruang nyata masyarakat. Utopia menyajikan masyarakat itu sendiri dalam bentuk yang disempurnakan, atau masyarakat yang terbalik, tetapi bagaimanapun juga, utopia-utopia ini pada dasarnya adalah ruang yang tidak nyata.”
Utopia tidak memiliki eksistensi nyata karena tidak pernah menjadi lokasi yang terwujud. Utopia mencerminkan unsur-unsur masyarakat sebagaimana adanya saat ini, tetapi tidak dapat membentuk masyarakat secara harfiah.
Meskipun utopia digambarkan oleh Foucault sebagai ‘situs tanpa tempat nyata’, ia mengamati keberadaan lokasi-lokasi konkret dalam setiap peradaban. Tempat-tempat ini, yang disebut ‘situs- kontra’, merepresentasikan utopia yang terwujud secara efektif. Namun, situs-kontra berada ‘di luar semua tempat meskipun lokasinya dapat ditunjukkan dalam realitas’. Situs-situs inilah yang ia identifikasi sebagai heterotopia—ruang untuk mewujudkan cita-cita utopis.
Foucault mengkarakterisasi ranah perantara antara utopia dan heterotopia sebagai ‘pengalaman bersama’ yang bisa diilustrasikan seperti cermin. Di satu sisi, cermin melambangkan utopia, ‘tempat tanpa tempat’. Saat kita menatap cermin, kita menyaksikan diri kita sendiri dalam dimensi alternatif. Sebaliknya, cermin merepresentasikan heterotopia sebagaimana adanya secara material, mendorong kita sebagai pengamat untuk menyadari ketidakhadiran kita sendiri.
“Dari sudut pandang cermin, saya menemukan ketidakhadiran saya dari tempat saya berada karena saya melihat diri saya di dalam cermin. Berawal dari tatapan yang seakan- akan tertuju padaku, dari dasar ruang virtual di balik kaca, saya kembali pada diri saya
sendiri; saya mulai lagi untuk mengarahkan mata saya ke pada diri saya sendiri dan untuk mengkonstitusikan diri saya di mana saya berada.”
Untuk memperjelas, cermin berfungsi sebagai heterotopia karena memiliki eksistensi fisik, yang memungkinkan tindakan bercermin membentuk realitas nyata yang terjalin dengan ruang di sekitarnya. Namun, cermin juga menunjukkan aspek yang tidak nyata, karena persepsinya mengharuskan melintasi titik virtual yang terletak di luar batas fisiknya.
SELAIN bisa dibaca dan dialami sebagai cermin, Eskapade Utopia juga bisa dipandang sebagai perahu atau kapal. Foucault, di akhir Of Other Spaces: Utopias and Heterotopias, menggunakan perahu untuk menggambarkan heterotopia:
“Perahu terapung adalah sebidang ruang mengambang, sebuah tempat tanpa tempat, yang ada dengan sendirinya, yang tertutup bagi dirinya sendiri dan pada saat yang sama menyerahkan diri kepada lautan yang tidak terbatas dan, dari pelabuhan ke pelabuhan, dari satu tempat ke tempat lain, dari rumah bordil ke rumah bordil lainnya, ia menjangkau koloni-koloni dalam pencarian harta karun paling berharga yang pernah mereka tanam di kebun mereka. Kau akan paham mengapa perahu bagi peradaban kita, dari abad keenambelas hingga kini, bukan sekadar instrumen utama pertumbuhan ekonomi (saya tidak membicarakan hal ini hari ini), tetapi sekaligus sumber imajinasi bagi kita.”
Pada hakikatnya, kapal secara fisik terpisah dari daratan, berada di hamparan laut atau sungai. Namun, ia merupakan ruang mandiri: kapal itu terpisah dari dunia luar, namun pada saat yang sama terpapar luas perairan. Karena kemampuannya untuk berlayar, kapal itu selalu mengalami transformasi.
Kapal-kapal itu, bagi warga Berau, bisa jadi membawa harapan menjauh dan mendekat, datang dan pergi. Kapal-kapal itu pula barangkali yang melayarkan dan mengibarkan luka-luka ekologis mereka.
SEBELUM mengakhiri catatan ini, saya ingin mengenang sekali lagi ziarah saya—perjalanan pertama saya—selama beberapa hari di Berau untuk mengalami Eskapade Utopia. Dari jendela mobil, saya senantiasa melihat kota ini sebagai tempat yang asing dan akrab secara serentak. Saya menyaksikan Mie Gacoan, Mixue, Momoyo, Janji Jiwa, Indomaret, serta gerai-gerai serupa yang ada di kota saya dan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi. Saya menyimak bahasa yang sama berlepasan dari lidah orang-orang di Berau dengan bahasa yang digunakan orang-orang di tempat saya lahir dan tumbuh.
Saya ingin selalu mengingat percakapan-percakapan bersama teman-teman selepas pertunjukan Eskapade Utopia. Saya ingin mencatat dengan baik kecemasan, kekecewaan, kemarahan, cinta, serta mimpi-mimpi mereka atas tempat tinggal mereka yang tidak henti-hentinya dirusak dan dijarah atas nama kemajuan, atas nama pertumbuhan ekonomi, yang mengabaikan mereka. Dalam percakapan-percakapan itu Berau kerap memantulkan wajah yang mengerikan; ia menunjukkan dirinya sebagai distopia.
Namun, dari percakapan-percakapan itu pula hadir keberanian untuk senantiasa mengupayakan kerja-kerja kesenian sebagai jalan-jalan alternatif untuk mengubah ruang hidup mereka sebagai utopia dan heterotopia yang nyata. Dari sana, tentu saja, kita bisa berharap benih-benih kedaulatan geo-kultural bisa tumbuh, kedaulatan yang lahir dari tubuh, suara, dan imajinasi warga Berau sendiri.
Makassar, Akhir Juli 2025
