Kelola

EN

|

ID

UNTUK SENI DAN BUDAYA

EN

|

ID

KELOLA

UNTUK SENI DAN BUDAYA

PUBLISHED BY.
Kelola
SHARE
7. Web Banner - Sound Objek Visual

Kesetiaan dan Keberanian

Oleh: Agung Hujatnikajennong 

Catatan Pengamat untuk pertunjukan “Robohnya Surau Kami: Sound & Visual Performance Berbasis Objek” karya Bulqini, yang merupakan bagian dari Produksi Karya Inovatif 

Ketika menyaksikan sebuah pertunjukan yang bertolak dari teks sastra, pertanyaan-pertanyaan laten seringkali muncul tak terbendung: Adakah perpindahan dari narasi yang semula mengandalkan imajinasi pembaca, yang notabene diberi kebebasan menenun dunia khayal melalui pencerapan bahasa verbal, mampu mengantar kita menuju pengalaman lain? Proses menonton pertunjukan niscaya melibatkan seluruh pancaindera dan terikat pada ruang-waktu serentak dan linier. Tapi sejauh mana sebuah pertunjukan dapat memberi peluang baru bagi teks yang dialihwahanakan untuk bisa bebas dan bernapas lebih lapang? Dan sejauh mana kebebasan yang dihasilkannya bisa benar-benar bermakna untuk penonton?

Rasanya tidak berlebihan jika saya katakan bahwa gagasan Collective Lab (CL) untuk mengadaptasi cerpen A.A. Navis, Robohnya Surau Kami (RSK) adalah sebuah langkah yang berani. Ketika pertama kali terbit pada tahun 1955 di majalah Kisah, dan kemudian dimuat dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama (1956), cerpen ini sudah mengundang perdebatan. Salah satu inti kisahnya adalah tentang kemunafikan Haji Saleh dalam cerita Ajo Sidi kepada seorang garin (penjaga surau) yang telah sepuh. Haji Saleh yang sangat taat beribadah dikisahkan berpulang, lalu bertemu dengan Tuhan. Karena ketaatannya, ia begitu yakin akan masuk surga. Walakin setelah melalui sebuah persidangan, Tuhan malah menjewer Haji Saleh dan mencemplungkannya ke neraka. Di hadapan Tuhan, Haji Saleh dinyatakan gagal, sebab seluruh amal ibadahnya hanya berkutat pada dirinya sendiri, tanpa menyentuh penderitaan dan kebutuhan orang lain. Cerita ini dituturkan Ajo Sidi ketika ia meminta si garin, yang memang sehari-hari mengasah alat-alat dan perkakas, untuk menajamkan bilah pisau cukurnya.

Cerpen RSK punya kekhasan dalam bertutur. Pembaca menelesuri cerita di dalam cerita yang silih berganti dihidupkan oleh para tokohnya. Ada sosok ‘aku’, narator utama yang tinggal sekampung dengan garin atau ‘si kakek’. Hidup kakek sebatang kara, dijalani dengan membangunkan orang untuk sembahyang, membaca kitab, serta memuji dan menyebut nama Allah dalam setiap keadaan. Sementara itu, meski cuma muncul sekelebat, Ajo Sidi adalah provokator utama dalam cerita ini. Ia digambarkan sebagai figur yang hidup tanpa beban dan suka melontarkan bualan-bualan yang malah menghibur orang-orang. 

Pertemuan dengan Ajo Sidi membuat si kakek murung. Pada suatu hari, dengan air mata yang menetes, si kakek menuturkan kembali kisah Ajo Sidi tentang Haji Saleh kepada tokoh aku. Di sini, Navis dengan luar biasa membawa pembaca lapis kisah berikutnya: Suatu suasana akhirat, di mana percakapan Haji Saleh dengan Tuhan mengguncang pengertian-pengertian umum tentang amal, ibadah, moral manusia dan kebermanfaatan hidup. Ada juga adegan-adegan surreal di mana Haji Saleh memimpin kawan-kawannya melakukan demonstrasi, memprotes keputusan Illahi. Semuanya berpuncak pada tragedi: Si kakek, yang larut dalam renungannya, memilih mengakhiri hidup dengan menggorok leher sendiri dengan pisau cukur.

Ketika terbit 70 tahun yang lalu, RSK memancing tanggapan dari kalangan religius yang saat itu menganggapnya melecehkan Islam (Navis sendiri pernah dicap sebagai komunis). Sementara kalangan yang lain melihatnya sebagai kritik yang relevan terhadap kondisi sosial-politik pasca-kemerdekaan. Tapi kenyataannya, pesan-pesan dalam RSK masih punya relevansi kuat dengan apa yang masih sering kita temui di sekitar kita hari-hari ini, ketika konsep kesalehan terjebak melulu dalam simbol dan ritual yang terlembagakan, namun tidak selalu sejalan dengan sikap peduli pada sesama. Saya duga alasan itu pula yang utamanya mendorong CL mengadaptasi cerpen ini ke dalam pertunjukan mereka.

RSK versi CL berlangsung di IFI Bandung, 10-11 Juli 2025. Meskipun diberi tajuk sound and object performance, yang secara terminologis dekat dengan seni rupa, saya menganggap bahwa adaptasi mereka tetap dekat dengan tradisi teater. Sebab, di balik segala eksperimen bunyi, penggunaan objek-objek serupa patung dan instalasi, pemanfaatan teknologi digital dan multimedia, inti gagasannya tetaplah dramaturgis: Menghadirkan kembali kisah, konflik, dan ketegangan yang terkandung dalam teks Navis. RSK versi CL tetaplah teater, atau sekurang-kurangnya sebuah pertunjukan yang tidak bisa diletakkan sepenuhnya di luar konteks teater. Penonton tidak hanya diajak mendengar bunyi atau melihat objek, dan gambar digital pada layar yang tersinkronisasi dengan gerak dan olah tubuh aktor Mohamad Wail di panggung, tetapi juga mengikuti alur dramatik yang mengikat pengalaman mereka. Dalam konteks ini, CL memperlihatkan bahwa elemen-elemen yang dianggap ‘dasar’ atau ‘khas’ dalam seni rupa, seni media, musik atau teater, ketika didorong untuk menyeberangi batas masing-masing, pada akhirnya bisa saling memperkaya satu sama lain. 

Saya tidak tahu seberapa banyak penonton pertunjukan malam itu cukup akrab dengan cerpen RSK. Akan tetapi, bagi saya yang pernah membacanya (pertama kali atas anjuran guru Bahasa Indonesia di bangku SMA) sulit rasanya menahan diri untuk tidak membanding-bandingkan teks Navis dengan pertunjukan. Terus terang, membaca cerpen sebagai tugas sekolah bukan pengalaman yang menempel di ingatan. Baru sehari sebelum memenuhi undangan Yayasan Kelola untuk menonton pertunjukan CL, saya kembali membacanya, dua sampai tiga kali. Ketika itu pula, saya baru tersadarkan oleh rasa getir sekaligus heran, bagaimana sebuah kisah sederhana bisa membuka percakapan besar tentang iman, pengabdian, dan absurditas hidup. Saya seperti dihadapkan kembali pada pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya terkutuk, dan apa arti sebuah pengabdian yang dianggap sia-sia.

Malam itu, ketika kisah yang sebelumnya saya pahami lewat kata-kata menjelma menjadi kehadiran tubuh, suara, objek-objek, cahaya lampu dan proyeksi gambar bergerak di atas panggung, perbandingan itu semakin tak terelakkan. Saya bukan penghayat sastra, tapi bisa mengatakan bahwa adaptasi CL atas RSK menunjukkan kesetiaan sekaligus keberanian. Kesetiaan pada teks Navis ibarat gerak planet untuk bertahan pada jalur orbitnya (kalau terlalu jauh, ia kehilangan panas dan kehidupan, tapi terlalu dekat juga beresiko hangus terbakar). Sementara dengan keberanian, saya merujuk pada eksplorasi alih wahana interpretasi, kontekstualisasi dan konversi-konversi yang CL upayakan, yang pada akhirnya menujukkan bagaimana hasil sebuah adaptasi mampu menemukan kehidupan barunya sendiri. 

Adegan-adegan dan pemandangan awal pertunjukan terasa realistis: Laki-laki plontos yang mengenakan sarung dan peci, melakukan gerakan-gerakan serupa tafakur, dzikir dan sembahyang dalam Islam. Posisinya ada di dekat penonton, berseberangan dengan layar besar yang menayangkan proyeksi video, aquarium berisi miniatur masjid dari tanah liat yang terendam air, dan Jack, kepala robot tak bertubuh ciptaan sang sutradara, Deden Bulqini. Ya, semuanya ditampilkan apa adanya bagaikan instalasi objek-objek yang tak berjarak dengan penonton di sebuah ruang galeri. Demikian halnya perangkat komputer, mikrofon dan synthesizer yang dioperasikan Vicky Mono. Kamera-kamera mini juga tidak mereka sembunyikan sama sekali.  

Memang, tak ada adegan horor di mana si garin menggorok lehernya sendiri. Namun, penokohan sang kakek tetap terasa hadir melalui adegan mengasah pisau. Dalam hitungan tak kurang dari sepuluh menit menit, pertunjukan melompat ke ruang transendental, memasuki adegan pengadilan di akhirat. Dalam cerpen, bagian ini berhasil membuat pembaca tercerabut dari dunia nyata ke ranah simbolik tanpa terasa dipaksa. CL bisa mengkonversi transisi itu dengan cukup meyakinkan. 

Wail melepaskan pakaian dan sarungnya, lalu berjalan membelah ruangan menuju panggung. Ia membungkus tubuhnya dengan kain putih, seakan menyiapkan diri bagi sebuah peralihan. Bersamaan dengan itu, layar besar menyala, menayangkan potongan video yang silih berganti: tayangan langsung ikan yang berenang dalam akuarium (yang makna kehadirannya tak sepenuhnya bisa saya tangkap) hingga citra dari kamera-kamera yang ditempatkan di beberapa sudut panggung. Gestur tubuh dan ekspresi wajah Wail diproyeksikan secara dramatis, bergantian dengan citra-citra digital dan algoritmis, membentuk lapisan visual yang bergerak, bertumpuk, dan saling mengganggu. Tangan yang meronta, kaki yang menegang, wajah yang menyeringai dan mengaduh tanpa suara tak lain adalah hasil interaksi tubuh sang aktor dengan kamera untuk menampilkan sakratul maut. Di bagian ini, kalimat-kalimat di layar dan musik yang menyertainya tampak berusaha keras membangun suasana. Walakin, mungkin karena terlalu berusaha, bagian yang seharusnya intens ini buat saya masih terasa datar saja. 

Saya tidak tahu motif apa yang mendorong CL menyatukan figur garin dan Haji Saleh ke dalam sesosok Wail sekaligus. Tapi keputusan itu justru membuka tafsir baru: Seakan-akan dosa sosial dan kesalehan ritual orang-orang bisa bertemu dalam satu tubuh yang sama. Di titik itu, si laki-laki plontos bukan hanya representasi tokoh-tokoh dalam cerpen, melainkan medium yang menanggung kontradiksi, antara iman yang tulus namun naif, dengan kesalehan yang sibuk bertransaksi dengan dunia. Alih-alih dua karakter yang saling berhadap-hadapan dan diadu domba oleh Ajo Sidi sang provokator, pertunjukan ini justru menampilkan paradoks itu dalam satu peran, seperti ingin menunjukkan bahwa garis batasnya tak lagi jelas: Siapa sesungguhnya yang terkutuk, dan siapa yang merasa lebih benar. 

Adegan runtuhnya masjid dalam akuarium yang diaduk-aduk si plontos terlalu lurus menyalin judul cerpen. Tapi tak lama berselang, sosok yang saya tunggu-tunggu datang juga: Jack! Saya sudah pernah menonton dua pertunjukkan CL sebelumnya yang menampilkan Jack sebagai ‘aktor’. Saya mengagumi ciptaan Deden itu pertama-tama sebagai suatu terobosan seni rupa. Meski tak pernah benar-benar mengamatinya dari jarak dekat, gubahan robotik ini punya wujud visual unik. Dan dari waktu ke waktu, memang Deden terus berusaha menyempurnakannya. Dalam RSK versi CL, Jack tampil dengan wujud mutakhirnya, mirip kepala manusia yang dikupas sebagaian otot dan kulit luarnya. Ia hadir pada layar besar dengan kedipan-kedipan mata yang tampak semakin natural.  

Fenomena objek robotik sebagai aktor di panggung tentu menghadirkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang sedang bermain peran? Apakah ‘benda’ itu sendiri, atau penciptanya yang memanipulasi gerak dan suara dari salah satu sudut ruangan? Saya paham, bahwa sampai pada titik ini, Deden belum bisa mengintegrasikan Jack dengan program yang memungkinkannya merespon berbagai elemen teater secara otonom. Tapi di sini Jack diberi peran dan karakter yang sangat sentral: Sebagai Tuhan yang menginterogasi Haji Saleh dan si garin yang serentak menyatu dalam Wail. Diiringi dentingan glokenspiel, Jack pun mengucapkan kalimat-kalimat Navis: “Masuk kau ke neraka!”

Bagi saya, bagian pertunjukan inilah yang benar-benar mengaduk-aduk pemikiran. Dalam RSK versi CL, Jack tak lagi sekadar perangkat kinetik atau mekanik yang bergerak oleh rangkaian kabel. Secara umum, robot bisa dilihat sebagai sebuah metafora dari dorongan purba manusia untuk mencipta. Saya melihatnya sebagai pantulan obsesi yang tak habis-habisnya, ketika manusia berusaha membayangkan dirinya kembali lewat tubuh, dan kini, kecerdasan buatan. Hari-hari ini, kita tahu bagaimana kecerdasan buatan terus diasah agar sanggup meniru kesadaran. Di situ, ada sesuatu yang menyerupai permainan peran manusia sebagai Yang Maha Kuasa. Dan dalam RSK, CL jelas-jelas sedang membalikkan posisi: manusia tampil rapuh, sedang Jack yang hanya mesin ditempatkan sebagai otoritas absolut. Seakan-akan ada ‘robot’ yang ingin berkata: Akulah yang berhak mengatur, aku pula yang sanggup menciptakan, akulah sang pengadil!

Mungkin itu sebabnya Jack terasa lebih menyeramkan dibandingkan sekadar boneka wayang atau topeng. Ia bukan simulasi sederhana. Ia mengandung niat penciptanya untuk tampil sebagai entitas dengan otonomi seakan-akan bebas. Dan di dalam ketegangan inilah, teater CL menemukan relevansinya: mengingatkan kita bahwa hubungan antara manusia, Tuhan, dan ciptaan selalu rawan pecah menjadi suatu tragedi. Saya membayangkan, andaikata Jack bisa benar-benar menghadirkan dan memerankan dirinya sendiri, maka ketika ia menginterogasi Wail dalam adegan pengadilan akhirat, yang terjadi di panggung adalah pengujian iman manusia oleh algoritma. Lantas, apa arti menjadi manusia jika ciptaannya mampu menirukan fungsi berpikir, berbicara, dan memberi perintah?

Meski hanya muncul sekejap, sosok Jack sungguh menghentak. Ia menjadi interupsi yang tajam, seolah menandai jalur bagi sesuatu yang lebih besar akan datang. Adegan-adegan selanjutnya bergerak ke arah musikal, ritmis, kontemplatif. Di tengah itu pula, eksplorasi Wail memuncak. Ia kembali berinteraksi dengan kamera. Tubuhnya jadi pusat pusaran, menampilkan eksplorasi gestur yang maksimal, menghanyutkan, tak memberi kesempatan saya untuk terpaku begitu saja. Pandangan saya menatap bergantian, antara tubuh yang bergerak dengan tampilan di layar. Ia membungkus kembali badannya dengan kain putih. Rekamannya, seketika diproyeksikan di layar, namun bukan sebagai pantulan yang setia. Manipulasi digital dan algoritma segera mengacaknya, menekuk, mendistorsi, mengecoh penonton. Kita tak lagi tahu apakah yang dilihat itu tubuh Wail atau tubuh lain, sebuah malih rupa.Transformasi itu bukan sekadar permainan efek visual. Ia menghadirkan paradoks: tubuh yang nyata, daging yang dibungkus kain, bersandingan dengan tubuh yang cair, terbentuk dari piksel, data, dan logika mesin. 

Pertunjukan ditutup dengan Wail yang merangkak kembali ke surau, diiringi rekaman puji-pujian dan shalawat. Adegan ini menghadirkan sejenis gema yang tidak berubah sejak masa Navis hingga kini: Surau, atau tempat ibadah, seperti tetap menjadi ‘pusat imajinasi’. Tubuh Wail telah dipertemukan dengan mesin, cahaya, komputer dan algoritma digital. Tapi ujung perjalanannya justru kembali pada sesuatu yang mendasar baginya. Di titik itu, saya seperti melihat bahwa betapapun zaman bergerak dan teknologi merasuk ke dalam kebudayaan, narasi besar kita masih berputar di sekeliling keyakinan religius yang terus mengikat kehidupan sehari-hari.

Dalam pengantar maupun tanggapan diskusi yang diberikan oleh dramaturg Akbar Yumni, ditegaskan bahwa pertunjukan ini berupaya mengusung semangat non-antroposentrik. Saya mengapreasiasi upaya untuk menghadirkan entitas insani dan non-insani, organik maupun non-organik, untuk hadir dalam pertunjukan (ikan, mesin, tanah liat, air, komputer, Wail, Vicky, Jack, dll.). CL mengupayakan semuanya agar menjadi bagian dari alur yang hidup. Mungkin sejalan dengan gagasan Latour tentang parliament of things, CL seperti ingin benda-benda mati dipanggil untuk berbicara. Dalam kerangka Latourian pula, idealnya pertunjukan ini bisa menunjukkan bahwa yang disebut peristiwa teater tak pernah semata-mata lahir dari niat manusia, melainkan dari jalinan interaksi antara manusia, objek-objek, teknologi, dan makhluk hidup lain. Tafsir CL terhadap RSK sangat mungkin membuka ruang eksplorasi baru, tentang bagaiamna teater dipahami bukan sebagai ekspresi manusia yang ingin menjelaskan dunia, tetapi segenap dunia (manusia dan non-manusia) yang bersama-sama menjelaskan teater.

7. Web Banner - Sound Objek Visual

Kesetiaan dan Keberanian

Oleh: Agung Hujatnikajennong 

Catatan Pengamat untuk pertunjukan “Robohnya Surau Kami: Sound & Visual Performance Berbasis Objek” karya Bulqini, yang merupakan bagian dari Produksi Karya Inovatif 

Ketika menyaksikan sebuah pertunjukan yang bertolak dari teks sastra, pertanyaan-pertanyaan laten seringkali muncul tak terbendung: Adakah perpindahan dari narasi yang semula mengandalkan imajinasi pembaca, yang notabene diberi kebebasan menenun dunia khayal melalui pencerapan bahasa verbal, mampu mengantar kita menuju pengalaman lain? Proses menonton pertunjukan niscaya melibatkan seluruh pancaindera dan terikat pada ruang-waktu serentak dan linier. Tapi sejauh mana sebuah pertunjukan dapat memberi peluang baru bagi teks yang dialihwahanakan untuk bisa bebas dan bernapas lebih lapang? Dan sejauh mana kebebasan yang dihasilkannya bisa benar-benar bermakna untuk penonton?

Rasanya tidak berlebihan jika saya katakan bahwa gagasan Collective Lab (CL) untuk mengadaptasi cerpen A.A. Navis, Robohnya Surau Kami (RSK) adalah sebuah langkah yang berani. Ketika pertama kali terbit pada tahun 1955 di majalah Kisah, dan kemudian dimuat dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama (1956), cerpen ini sudah mengundang perdebatan. Salah satu inti kisahnya adalah tentang kemunafikan Haji Saleh dalam cerita Ajo Sidi kepada seorang garin (penjaga surau) yang telah sepuh. Haji Saleh yang sangat taat beribadah dikisahkan berpulang, lalu bertemu dengan Tuhan. Karena ketaatannya, ia begitu yakin akan masuk surga. Walakin setelah melalui sebuah persidangan, Tuhan malah menjewer Haji Saleh dan mencemplungkannya ke neraka. Di hadapan Tuhan, Haji Saleh dinyatakan gagal, sebab seluruh amal ibadahnya hanya berkutat pada dirinya sendiri, tanpa menyentuh penderitaan dan kebutuhan orang lain. Cerita ini dituturkan Ajo Sidi ketika ia meminta si garin, yang memang sehari-hari mengasah alat-alat dan perkakas, untuk menajamkan bilah pisau cukurnya.

Cerpen RSK punya kekhasan dalam bertutur. Pembaca menelesuri cerita di dalam cerita yang silih berganti dihidupkan oleh para tokohnya. Ada sosok ‘aku’, narator utama yang tinggal sekampung dengan garin atau ‘si kakek’. Hidup kakek sebatang kara, dijalani dengan membangunkan orang untuk sembahyang, membaca kitab, serta memuji dan menyebut nama Allah dalam setiap keadaan. Sementara itu, meski cuma muncul sekelebat, Ajo Sidi adalah provokator utama dalam cerita ini. Ia digambarkan sebagai figur yang hidup tanpa beban dan suka melontarkan bualan-bualan yang malah menghibur orang-orang. 

Pertemuan dengan Ajo Sidi membuat si kakek murung. Pada suatu hari, dengan air mata yang menetes, si kakek menuturkan kembali kisah Ajo Sidi tentang Haji Saleh kepada tokoh aku. Di sini, Navis dengan luar biasa membawa pembaca lapis kisah berikutnya: Suatu suasana akhirat, di mana percakapan Haji Saleh dengan Tuhan mengguncang pengertian-pengertian umum tentang amal, ibadah, moral manusia dan kebermanfaatan hidup. Ada juga adegan-adegan surreal di mana Haji Saleh memimpin kawan-kawannya melakukan demonstrasi, memprotes keputusan Illahi. Semuanya berpuncak pada tragedi: Si kakek, yang larut dalam renungannya, memilih mengakhiri hidup dengan menggorok leher sendiri dengan pisau cukur.

Ketika terbit 70 tahun yang lalu, RSK memancing tanggapan dari kalangan religius yang saat itu menganggapnya melecehkan Islam (Navis sendiri pernah dicap sebagai komunis). Sementara kalangan yang lain melihatnya sebagai kritik yang relevan terhadap kondisi sosial-politik pasca-kemerdekaan. Tapi kenyataannya, pesan-pesan dalam RSK masih punya relevansi kuat dengan apa yang masih sering kita temui di sekitar kita hari-hari ini, ketika konsep kesalehan terjebak melulu dalam simbol dan ritual yang terlembagakan, namun tidak selalu sejalan dengan sikap peduli pada sesama. Saya duga alasan itu pula yang utamanya mendorong CL mengadaptasi cerpen ini ke dalam pertunjukan mereka.

RSK versi CL berlangsung di IFI Bandung, 10-11 Juli 2025. Meskipun diberi tajuk sound and object performance, yang secara terminologis dekat dengan seni rupa, saya menganggap bahwa adaptasi mereka tetap dekat dengan tradisi teater. Sebab, di balik segala eksperimen bunyi, penggunaan objek-objek serupa patung dan instalasi, pemanfaatan teknologi digital dan multimedia, inti gagasannya tetaplah dramaturgis: Menghadirkan kembali kisah, konflik, dan ketegangan yang terkandung dalam teks Navis. RSK versi CL tetaplah teater, atau sekurang-kurangnya sebuah pertunjukan yang tidak bisa diletakkan sepenuhnya di luar konteks teater. Penonton tidak hanya diajak mendengar bunyi atau melihat objek, dan gambar digital pada layar yang tersinkronisasi dengan gerak dan olah tubuh aktor Mohamad Wail di panggung, tetapi juga mengikuti alur dramatik yang mengikat pengalaman mereka. Dalam konteks ini, CL memperlihatkan bahwa elemen-elemen yang dianggap ‘dasar’ atau ‘khas’ dalam seni rupa, seni media, musik atau teater, ketika didorong untuk menyeberangi batas masing-masing, pada akhirnya bisa saling memperkaya satu sama lain. 

Saya tidak tahu seberapa banyak penonton pertunjukan malam itu cukup akrab dengan cerpen RSK. Akan tetapi, bagi saya yang pernah membacanya (pertama kali atas anjuran guru Bahasa Indonesia di bangku SMA) sulit rasanya menahan diri untuk tidak membanding-bandingkan teks Navis dengan pertunjukan. Terus terang, membaca cerpen sebagai tugas sekolah bukan pengalaman yang menempel di ingatan. Baru sehari sebelum memenuhi undangan Yayasan Kelola untuk menonton pertunjukan CL, saya kembali membacanya, dua sampai tiga kali. Ketika itu pula, saya baru tersadarkan oleh rasa getir sekaligus heran, bagaimana sebuah kisah sederhana bisa membuka percakapan besar tentang iman, pengabdian, dan absurditas hidup. Saya seperti dihadapkan kembali pada pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya terkutuk, dan apa arti sebuah pengabdian yang dianggap sia-sia.

Malam itu, ketika kisah yang sebelumnya saya pahami lewat kata-kata menjelma menjadi kehadiran tubuh, suara, objek-objek, cahaya lampu dan proyeksi gambar bergerak di atas panggung, perbandingan itu semakin tak terelakkan. Saya bukan penghayat sastra, tapi bisa mengatakan bahwa adaptasi CL atas RSK menunjukkan kesetiaan sekaligus keberanian. Kesetiaan pada teks Navis ibarat gerak planet untuk bertahan pada jalur orbitnya (kalau terlalu jauh, ia kehilangan panas dan kehidupan, tapi terlalu dekat juga beresiko hangus terbakar). Sementara dengan keberanian, saya merujuk pada eksplorasi alih wahana interpretasi, kontekstualisasi dan konversi-konversi yang CL upayakan, yang pada akhirnya menujukkan bagaimana hasil sebuah adaptasi mampu menemukan kehidupan barunya sendiri. 

Adegan-adegan dan pemandangan awal pertunjukan terasa realistis: Laki-laki plontos yang mengenakan sarung dan peci, melakukan gerakan-gerakan serupa tafakur, dzikir dan sembahyang dalam Islam. Posisinya ada di dekat penonton, berseberangan dengan layar besar yang menayangkan proyeksi video, aquarium berisi miniatur masjid dari tanah liat yang terendam air, dan Jack, kepala robot tak bertubuh ciptaan sang sutradara, Deden Bulqini. Ya, semuanya ditampilkan apa adanya bagaikan instalasi objek-objek yang tak berjarak dengan penonton di sebuah ruang galeri. Demikian halnya perangkat komputer, mikrofon dan synthesizer yang dioperasikan Vicky Mono. Kamera-kamera mini juga tidak mereka sembunyikan sama sekali.  

Memang, tak ada adegan horor di mana si garin menggorok lehernya sendiri. Namun, penokohan sang kakek tetap terasa hadir melalui adegan mengasah pisau. Dalam hitungan tak kurang dari sepuluh menit menit, pertunjukan melompat ke ruang transendental, memasuki adegan pengadilan di akhirat. Dalam cerpen, bagian ini berhasil membuat pembaca tercerabut dari dunia nyata ke ranah simbolik tanpa terasa dipaksa. CL bisa mengkonversi transisi itu dengan cukup meyakinkan. 

Wail melepaskan pakaian dan sarungnya, lalu berjalan membelah ruangan menuju panggung. Ia membungkus tubuhnya dengan kain putih, seakan menyiapkan diri bagi sebuah peralihan. Bersamaan dengan itu, layar besar menyala, menayangkan potongan video yang silih berganti: tayangan langsung ikan yang berenang dalam akuarium (yang makna kehadirannya tak sepenuhnya bisa saya tangkap) hingga citra dari kamera-kamera yang ditempatkan di beberapa sudut panggung. Gestur tubuh dan ekspresi wajah Wail diproyeksikan secara dramatis, bergantian dengan citra-citra digital dan algoritmis, membentuk lapisan visual yang bergerak, bertumpuk, dan saling mengganggu. Tangan yang meronta, kaki yang menegang, wajah yang menyeringai dan mengaduh tanpa suara tak lain adalah hasil interaksi tubuh sang aktor dengan kamera untuk menampilkan sakratul maut. Di bagian ini, kalimat-kalimat di layar dan musik yang menyertainya tampak berusaha keras membangun suasana. Walakin, mungkin karena terlalu berusaha, bagian yang seharusnya intens ini buat saya masih terasa datar saja. 

Saya tidak tahu motif apa yang mendorong CL menyatukan figur garin dan Haji Saleh ke dalam sesosok Wail sekaligus. Tapi keputusan itu justru membuka tafsir baru: Seakan-akan dosa sosial dan kesalehan ritual orang-orang bisa bertemu dalam satu tubuh yang sama. Di titik itu, si laki-laki plontos bukan hanya representasi tokoh-tokoh dalam cerpen, melainkan medium yang menanggung kontradiksi, antara iman yang tulus namun naif, dengan kesalehan yang sibuk bertransaksi dengan dunia. Alih-alih dua karakter yang saling berhadap-hadapan dan diadu domba oleh Ajo Sidi sang provokator, pertunjukan ini justru menampilkan paradoks itu dalam satu peran, seperti ingin menunjukkan bahwa garis batasnya tak lagi jelas: Siapa sesungguhnya yang terkutuk, dan siapa yang merasa lebih benar. 

Adegan runtuhnya masjid dalam akuarium yang diaduk-aduk si plontos terlalu lurus menyalin judul cerpen. Tapi tak lama berselang, sosok yang saya tunggu-tunggu datang juga: Jack! Saya sudah pernah menonton dua pertunjukkan CL sebelumnya yang menampilkan Jack sebagai ‘aktor’. Saya mengagumi ciptaan Deden itu pertama-tama sebagai suatu terobosan seni rupa. Meski tak pernah benar-benar mengamatinya dari jarak dekat, gubahan robotik ini punya wujud visual unik. Dan dari waktu ke waktu, memang Deden terus berusaha menyempurnakannya. Dalam RSK versi CL, Jack tampil dengan wujud mutakhirnya, mirip kepala manusia yang dikupas sebagaian otot dan kulit luarnya. Ia hadir pada layar besar dengan kedipan-kedipan mata yang tampak semakin natural.  

Fenomena objek robotik sebagai aktor di panggung tentu menghadirkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang sedang bermain peran? Apakah ‘benda’ itu sendiri, atau penciptanya yang memanipulasi gerak dan suara dari salah satu sudut ruangan? Saya paham, bahwa sampai pada titik ini, Deden belum bisa mengintegrasikan Jack dengan program yang memungkinkannya merespon berbagai elemen teater secara otonom. Tapi di sini Jack diberi peran dan karakter yang sangat sentral: Sebagai Tuhan yang menginterogasi Haji Saleh dan si garin yang serentak menyatu dalam Wail. Diiringi dentingan glokenspiel, Jack pun mengucapkan kalimat-kalimat Navis: “Masuk kau ke neraka!”

Bagi saya, bagian pertunjukan inilah yang benar-benar mengaduk-aduk pemikiran. Dalam RSK versi CL, Jack tak lagi sekadar perangkat kinetik atau mekanik yang bergerak oleh rangkaian kabel. Secara umum, robot bisa dilihat sebagai sebuah metafora dari dorongan purba manusia untuk mencipta. Saya melihatnya sebagai pantulan obsesi yang tak habis-habisnya, ketika manusia berusaha membayangkan dirinya kembali lewat tubuh, dan kini, kecerdasan buatan. Hari-hari ini, kita tahu bagaimana kecerdasan buatan terus diasah agar sanggup meniru kesadaran. Di situ, ada sesuatu yang menyerupai permainan peran manusia sebagai Yang Maha Kuasa. Dan dalam RSK, CL jelas-jelas sedang membalikkan posisi: manusia tampil rapuh, sedang Jack yang hanya mesin ditempatkan sebagai otoritas absolut. Seakan-akan ada ‘robot’ yang ingin berkata: Akulah yang berhak mengatur, aku pula yang sanggup menciptakan, akulah sang pengadil!

Mungkin itu sebabnya Jack terasa lebih menyeramkan dibandingkan sekadar boneka wayang atau topeng. Ia bukan simulasi sederhana. Ia mengandung niat penciptanya untuk tampil sebagai entitas dengan otonomi seakan-akan bebas. Dan di dalam ketegangan inilah, teater CL menemukan relevansinya: mengingatkan kita bahwa hubungan antara manusia, Tuhan, dan ciptaan selalu rawan pecah menjadi suatu tragedi. Saya membayangkan, andaikata Jack bisa benar-benar menghadirkan dan memerankan dirinya sendiri, maka ketika ia menginterogasi Wail dalam adegan pengadilan akhirat, yang terjadi di panggung adalah pengujian iman manusia oleh algoritma. Lantas, apa arti menjadi manusia jika ciptaannya mampu menirukan fungsi berpikir, berbicara, dan memberi perintah?

Meski hanya muncul sekejap, sosok Jack sungguh menghentak. Ia menjadi interupsi yang tajam, seolah menandai jalur bagi sesuatu yang lebih besar akan datang. Adegan-adegan selanjutnya bergerak ke arah musikal, ritmis, kontemplatif. Di tengah itu pula, eksplorasi Wail memuncak. Ia kembali berinteraksi dengan kamera. Tubuhnya jadi pusat pusaran, menampilkan eksplorasi gestur yang maksimal, menghanyutkan, tak memberi kesempatan saya untuk terpaku begitu saja. Pandangan saya menatap bergantian, antara tubuh yang bergerak dengan tampilan di layar. Ia membungkus kembali badannya dengan kain putih. Rekamannya, seketika diproyeksikan di layar, namun bukan sebagai pantulan yang setia. Manipulasi digital dan algoritma segera mengacaknya, menekuk, mendistorsi, mengecoh penonton. Kita tak lagi tahu apakah yang dilihat itu tubuh Wail atau tubuh lain, sebuah malih rupa.Transformasi itu bukan sekadar permainan efek visual. Ia menghadirkan paradoks: tubuh yang nyata, daging yang dibungkus kain, bersandingan dengan tubuh yang cair, terbentuk dari piksel, data, dan logika mesin. 

Pertunjukan ditutup dengan Wail yang merangkak kembali ke surau, diiringi rekaman puji-pujian dan shalawat. Adegan ini menghadirkan sejenis gema yang tidak berubah sejak masa Navis hingga kini: Surau, atau tempat ibadah, seperti tetap menjadi ‘pusat imajinasi’. Tubuh Wail telah dipertemukan dengan mesin, cahaya, komputer dan algoritma digital. Tapi ujung perjalanannya justru kembali pada sesuatu yang mendasar baginya. Di titik itu, saya seperti melihat bahwa betapapun zaman bergerak dan teknologi merasuk ke dalam kebudayaan, narasi besar kita masih berputar di sekeliling keyakinan religius yang terus mengikat kehidupan sehari-hari.

Dalam pengantar maupun tanggapan diskusi yang diberikan oleh dramaturg Akbar Yumni, ditegaskan bahwa pertunjukan ini berupaya mengusung semangat non-antroposentrik. Saya mengapreasiasi upaya untuk menghadirkan entitas insani dan non-insani, organik maupun non-organik, untuk hadir dalam pertunjukan (ikan, mesin, tanah liat, air, komputer, Wail, Vicky, Jack, dll.). CL mengupayakan semuanya agar menjadi bagian dari alur yang hidup. Mungkin sejalan dengan gagasan Latour tentang parliament of things, CL seperti ingin benda-benda mati dipanggil untuk berbicara. Dalam kerangka Latourian pula, idealnya pertunjukan ini bisa menunjukkan bahwa yang disebut peristiwa teater tak pernah semata-mata lahir dari niat manusia, melainkan dari jalinan interaksi antara manusia, objek-objek, teknologi, dan makhluk hidup lain. Tafsir CL terhadap RSK sangat mungkin membuka ruang eksplorasi baru, tentang bagaiamna teater dipahami bukan sebagai ekspresi manusia yang ingin menjelaskan dunia, tetapi segenap dunia (manusia dan non-manusia) yang bersama-sama menjelaskan teater.

Scroll to Top