Kelola

EN

|

ID

UNTUK SENI DAN BUDAYA

EN

|

ID

KELOLA

UNTUK SENI DAN BUDAYA

PUBLISHED BY.
Kelola
SHARE
8. Web Banner - Sinsigus

Semesta “E” dalam Eksperimentasi Olah Vokal dan Olahraga: Sebuah Catatan Atas Pertunjukan Sinsigus in 4#

Oleh: Bob Edrian

Pertunjukan Sinsigus in 4# karya sutradara/komponis Fioretti Vera yang berkolaborasi dengan B.M. Anggana sebagai produser/dramaturg diselenggarakan pada tanggal 11 dan 12 Juli 2025 di Kedai Kebun Forum, Jl. Tirtodipuran No.3, Kota Yogyakarta. Pengamat menghadiri kedua pementasan yang dimulai pada pukul 19.30 WIB setiap malamnya dengan ekspektasi yang menyesuaikan keterangan publikasi pertunjukan, sebuah sajian yang mengetengahkan eksperimentasi vokal dan bunyi “E” tanpa pengeras suara.

Hadir kurang lebih satu jam sebelum pertunjukan hari pertama dilangsungkan, pengamat melakukan registrasi ulang dan menerima sebuah amplop cokelat berisikan nomor tempat duduk yang tertera di atas cakram padat kecil (sepertinya dengan bentuk dan corak berbeda-beda untuk setiap penonton). Apakah medium cakram padat merupakan upaya untuk menandai bahwa pertunjukan ini beririsan dengan kultur bunyi dan musik yang populer didistribusikan melalui medium tersebut hingga setidaknya dua dekade lalu? Yang jelas, cakram padat tersebut menjadi sebuah memorabilia atau penanda kehadiran yang cukup menarik.

Pengamat kemudian diminta untuk menunggu di area samping meja registrasi atau di sekitar area Kedai Kebun Forum. Area yang berada tepat di depan pintu ruang pertunjukan telah dipenuhi dengan para pemain sekaligus tim produksi yang duduk dan berlalu lalang melakukan persiapan. Penonton nampaknya dimungkinkan untuk dapat berinteraksi dengan para pemain dan tim produksi untuk memunculkan nuansa yang cair sebelum pertunjukan dimulai. Terlihat beberapa pemain mengenakan setelan olahraga, mengingatkan pada kiriman pesan singkat dari panitia yang menyarankan untuk mengenakan pakaian mengikuti imaji hendak ke Pantai Sanur atau main badminton bersama teman sebagai bagian dari dramaturgi pertunjukan.

Menjelang pertunjukan dimulai, seluruh penonton diminta untuk melepas alas kaki sebelum duduk di atas matras sesuai nomor yang sudah diterima dalam amplop cokelat. Pengamat duduk di matras nomor 18, baris kedua di tengah mendekati ujung dalam komposisi tempat duduk yang membentuk huruf “U” mengitari panggung tanpa level. Terlihat pula enam pemain berseragam olahraga ikut duduk di tengah-tengah penonton pada barisan ketiga, masing-masing berpasangan di tiga sisi area penonton. Matras tempat penonton duduk mengindikasikan bahwa penonton diposisikan per dua orang. Sekilas, sempat terpikir apakah duduk dalam posisi berpasangan juga merupakan bagian dari pertimbangan konseptual pertunjukan. Setelah semua penonton duduk mengisi ruangan, lampu ruang pertunjukan dimatikan, menyisakan cahaya remang di tengah panggung.

Pertunjukan dimulai dengan kehadiran karakter utama yang membawa semacam buku notasi musik. Buku tersebut ditempatkan pada tiang partitur sebelum sang pemeran utama menyanyikan komposisi opera dengan akapela. Terdapat bagian yang mengindikasikan bahwa komposisi tersebut merupakan bagian dari komposisi Wolfgang Amadeus Mozart bertajuk The Magic Flute. Penonton kemudian bertepuk tangan selepas potongan komposisi opera tersebut dinyanyikan. Pemeran utama lalu mengambil botol minum dan melepas dahaga sebelum kembali berdiri di tengah panggung sambil beberapa kali menarik napas

dan berdeham seolah sedang bersiap untuk kembali bersuara. Babak pertama barusan sepertinya juga dapat dibaca sebagai bagian peregangan dan pemanasan secara harfiah, yang sekaligus juga menunjukkan kualitas olah vokal sang pemain utama.

Dalam adegan berikutnya, pemeran utama berbicara dan berupaya memaparkan sesuatu kepada penonton dengan hanya membunyikan “E” dalam berbagai intonasi dan ekspresi tubuh. Sesuai dengan deskripsi dalam publikasi, bagaimana jika “E” menjadi satu-satunya suara atau bahasa yang tersisa di dunia. Paparan tersebut kemudian diselingi dengan ajakan kepada penonton di tiga sisi berbeda untuk mengucapkan “E” secara bersama-sama. Penonton mengikuti ajakan tersebut tanpa bantuan instruksi selain variasi pengucapan “E” dan ekspresi tubuh pemeran utama. Adegan tersebut dilanjutkan dengan adegan interaktif ketika pemeran utama memilih salah satu pengunjung untuk berdialog dengannya. Setelah berdialog dengan sekitar tiga penonton secara acak, adegan interaktif ditutup dengan obrolan antara pemeran utama dengan salah satu karakter yang mengenakan setelan olahraga.

Dialog antar keduanya diawali dengan perkenalan malu-malu, bergosip tentang sesuatu, menirukan sebagian nyanyian opera di awal pertunjukan, hingga gurauan dan (sepertinya) upaya negosiasi untuk meminjam kacamata sang pemeran berbaju olahraga. Adegan tersebut diakhiri dengan teriakan “E” yang nampak menandai sebuah kesepakatan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama. Ragam bunyi nada “E” dalam format notasi musik lantas ditampilkan pada layar di latar panggung. Sang pemeran utama membunyikan peluit dan menunjuk salah seorang berseragam olahraga untuk membunyikan ragam nada “E” pada layar berdasarkan instruksi pemeran utama yang memegang penunjuk laser.

Pemeran utama menunjuk satu per satu notasi nada “E” secara acak yang kemudian dibunyikan oleh karakter terpilih. Sesekali, penonton juga berkesempatan untuk ditunjuk dan mengikuti instruksi pemeran utama untuk membunyikan ragam notasi “E” tersebut.

Intensitas ketegangan di babak ini terasa sedikit meningkat apabila dibandingkan dengan adegan interaktif di babak awal. Tidak bisa dipungkiri, notasi musik yang ditampilkan pada layar dapat dilihat sebagai semacam aturan tertulis yang tidak semua orang bisa membacanya. Gagasan “E” sebagai satu-satunya bebunyian yang ‘diperbolehkan’ dalam pertunjukan terasa semakin menyulitkan. Entah mengapa, tidak ada satupun penonton yang berkeinginan untuk membunyikan bunyi lain selain “E” di setiap babak interaktif. Pertunjukan ini nampaknya berhasil menghipnotis penonton untuk tetap berpijak pada bunyi “E”. Dunia yang dibayangkan oleh konsep pertunjukan ini semakin mewujud.

Di luar aspek yang disebutkan di atas, babak instruksional notasi “E” sedikit banyak juga memunculkan nuansa humor yang cukup kental melalui keragaman respons dan interpretasi bebunyian, baik yang dilakukan oleh pemeran pertunjukan maupun penonton. Babak ini sekali lagi mengingatkan bahwa hampir keseluruhan pertunjukan ini sarat dengan simbol dan keteraturan (mungkin juga aturan) komposisi musik Barat. Pemeran utama yang berperan sebagai instruktur pada babak ini seolah merepresentasikan upaya-upaya menjaga kaidah komposisi musik Barat dengan ketat dan cenderung otoritatif. Dalam bagian akhir babak instruksional, pemeran utama membunyikan sendiri ragam notasi “E” tersebut, seolah ingin menunjukkan cara membunyikan nada-nada “E” secara baik dan benar.

Babak berikutnya ditandai dengan ragam gerak olahraga di atas matras yang diperagakan oleh pemeran utama. Setelah beberapa saat, keenam pemeran berseragam olahraga yang berada di tengah-tengah penonton mulai melakukan aktivitas berbisik dengan rekan di sebelahnya. Bagian ini menggambarkan situasi tatapan mata yang fokus pada gerak olahraga pemeran utama yang diselingi distraksi bisikan-bisikan sebagai representasi fenomena tatapan pria terhadap perempuan. Pemeran utama kemudian merasa terganggu dengan bisikan-bisikan tersebut dan babak ini diakhiri dengan ekspresi marah sang pemeran utama sambil membunyikan peluit. Keenam pemeran berseragam olahraga lantas berdiri dan melepas jaket mereka. 

Berdiri dalam pantauan sang pemeran utama yang nampak kesal, keenam pemeran berbaju olahraga lalu melakukan aktivitas berolahraga secara berpasangan yang berganti posisi setiap peluit pemeran utama dibunyikan. Bebunyian napas dan desah serupa ekspresi lelah dan mengeluh dari keenam pemeran berbaju olahraga perlahan berganti menjadi bebunyian “E” yang sekilas berupaya untuk harmonis. Layar kemudian memunculkan bermacam rumus matematis yang direspons dengan bebunyian “E” oleh pemeran pertunjukan. Pergantian simbol dan rumus-rumus pada layar juga menandai pergantian jenis harmonisasi nada “E” tersebut. Di babak penutup, pemeran utama melakukan gerakan lari di tempat sambil menyuarakan kata ‘lemper,’ ‘tempe,’ dan ‘lempeng.’ Ketiga kata tersebut kemudian secara perlahan diikuti oleh keenam pemeran berseragam olahraga. Secara berkala, gerakan lari di tempat sambil menyuarakan tiga kata berulang dilakukan semakin cepat hingga keseluruhan pemeran berlari, berteriak, dan kelelahan.

Keseluruhan pertunjukan jelas merujuk pada ragam pemahaman terhadap eksperimentasi bebunyian sekaligus pembacaan pada kaidah-kaidah musik. Seluruh pemeran pertunjukan juga merupakan penyanyi yang sebagian di antaranya piawai dalam membaca notasi musik. Menekankan aspek spasial ruangan yang juga bersinggungan dengan bebunyian di luar ruangan, hari kedua pertunjukan sedikit banyak melahirkan nuansa yang sama sekali berbeda. Hal tersebut berkaitan dengan riuhnya suara, bebunyian, serta gemuruh musik yang terjadi di tempat-tempat keramaian sekitar Kedai Kebun Forum. Di satu sisi, bebunyian luar ruangan tersebut memunculkan kompleksitas bebunyian yang menarik dalam menikmati pertunjukan Sinsigus in 4#. Di sisi lain, bebunyian luar ruangan justru mengurangi kekuatan gagasan spekulatif atas bunyi “E” sebagai satu-satunya bunyi dan suara yang tersisa di dunia.

Pengamat merasakan lompatan-lompatan gagasan yang cukup membingungkan di setiap babak. Diawali dengan gagasan presentasi olah vokal yang dilanjutkan dengan sesi perkenalan dan pengenalan bunyi “E”, hingga perihal sosok otoritatif dan pembongkaran aturan yang telah lama disepakati. Urutan gagasan tersebut dibuat semakin kompleks melalui adegan atau babak yang mengindikasikan adanya tatapan pria (male gaze).

Menjelang bagian penutup, gagasan perihal harmoni dibangun sekaligus dihancurkan, begitu pula dengan gagasan bunyi “E” yang diruntuhkan melalui pengucapan (atau penemuan?) kata-kata berbasis bunyi “E” seperti lemper, tempe, dan lempeng. Apakah susunan gagasan-gagasan tersebut mengarah pada sebuah iterasi penciptaan bahasa yang diawali dengan penemuan bunyi “E”? Atau keseluruhan gagasan tersebut merupakan representasi atas semesta perilaku interaksi antar manusia di mana bahasa menjadi perekat sekaligus sumber persoalan?

Representasi manusia dalam dunia Sinsigus in 4# dihadirkan melalui penempatan penonton yang mengitari panggung. Penempatan tersebut jelas memungkinkan ragam persepsi terhadap suara dan bebunyian. Ditampilkan tanpa pengeras suara, karakter spasial ruangan ditambah dengan posisi duduk yang berbeda akan menghasilkan sensasi mendengar yang bervariasi di masing-masing telinga penonton. Material matras sebagai tempat duduk penonton bisa jadi merupakan pertimbangan artistik yang juga berkaitan dengan olah akustik ruangan, dalam hal ini sebagai upaya meredam atau mengurangi pantulan bebunyian.

Dalam wilayah artistik lainnya, kehadiran pemeran pertunjukan dalam kostum olahraga agaknya cukup membingungkan. Meskipun begitu, dapat dipahami bahwa olah vokal jelas menekankan disiplin terkait pengaturan napas seperti halnya berolahraga. Namun, korelasi antara keduanya nampak begitu berjarak apabila dikembalikan pada poros gagasan “E” sebagai satu-satunya suara dan bebunyian yang tersisa di dunia. Di lain pihak, penonton pun tampaknya urung untuk turut serta mengenakan pakaian ‘bermain badminton bersama teman.’ Hal tersebut membuat pemeran berseragam olahraga menjadi begitu berbeda dan berjarak dengan penonton meskipun duduk di tengah barisan penonton.

Pertunjukan Sinsigus in 4# merupakan pertunjukan dengan eksperimentasi bebunyian dan suara yang cukup menantang. Dimulai dari pemilihan judul yang mungkin saja hanya dipahami oleh sebagian orang yang akrab dengan simbol-simbol musikal (4# yang berarti tangga nada dalam nada dasar E misalnya), berpadunya elemen musik dan olahraga yang berporos pada olah pernapasan, hingga aspek artistik dan spasial ruangan yang teratur sekaligus terbuka. Gagasan “E” sebagai satu-satunya bunyi dan suara yang berlaku dalam pertunjukan nampaknya dapat dijalankan dengan baik meskipun perpindahan gagasan di setiap babak perlahan-lahan memunculkan kecanggungan.

Secara umum, Sinsigus in 4# menawarkan pengalaman menonton/mendengar yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memunculkan banyak kegelisahan. Kegelisahan atas aturan, kuasa, hingga spekulasi terkait dunia yang dibatasi oleh bahasa.

8. Web Banner - Sinsigus

Semesta “E” dalam Eksperimentasi Olah Vokal dan Olahraga: Sebuah Catatan Atas Pertunjukan Sinsigus in 4#

Oleh: Bob Edrian

Pertunjukan Sinsigus in 4# karya sutradara/komponis Fioretti Vera yang berkolaborasi dengan B.M. Anggana sebagai produser/dramaturg diselenggarakan pada tanggal 11 dan 12 Juli 2025 di Kedai Kebun Forum, Jl. Tirtodipuran No.3, Kota Yogyakarta. Pengamat menghadiri kedua pementasan yang dimulai pada pukul 19.30 WIB setiap malamnya dengan ekspektasi yang menyesuaikan keterangan publikasi pertunjukan, sebuah sajian yang mengetengahkan eksperimentasi vokal dan bunyi “E” tanpa pengeras suara.

Hadir kurang lebih satu jam sebelum pertunjukan hari pertama dilangsungkan, pengamat melakukan registrasi ulang dan menerima sebuah amplop cokelat berisikan nomor tempat duduk yang tertera di atas cakram padat kecil (sepertinya dengan bentuk dan corak berbeda-beda untuk setiap penonton). Apakah medium cakram padat merupakan upaya untuk menandai bahwa pertunjukan ini beririsan dengan kultur bunyi dan musik yang populer didistribusikan melalui medium tersebut hingga setidaknya dua dekade lalu? Yang jelas, cakram padat tersebut menjadi sebuah memorabilia atau penanda kehadiran yang cukup menarik.

Pengamat kemudian diminta untuk menunggu di area samping meja registrasi atau di sekitar area Kedai Kebun Forum. Area yang berada tepat di depan pintu ruang pertunjukan telah dipenuhi dengan para pemain sekaligus tim produksi yang duduk dan berlalu lalang melakukan persiapan. Penonton nampaknya dimungkinkan untuk dapat berinteraksi dengan para pemain dan tim produksi untuk memunculkan nuansa yang cair sebelum pertunjukan dimulai. Terlihat beberapa pemain mengenakan setelan olahraga, mengingatkan pada kiriman pesan singkat dari panitia yang menyarankan untuk mengenakan pakaian mengikuti imaji hendak ke Pantai Sanur atau main badminton bersama teman sebagai bagian dari dramaturgi pertunjukan.

Menjelang pertunjukan dimulai, seluruh penonton diminta untuk melepas alas kaki sebelum duduk di atas matras sesuai nomor yang sudah diterima dalam amplop cokelat. Pengamat duduk di matras nomor 18, baris kedua di tengah mendekati ujung dalam komposisi tempat duduk yang membentuk huruf “U” mengitari panggung tanpa level. Terlihat pula enam pemain berseragam olahraga ikut duduk di tengah-tengah penonton pada barisan ketiga, masing-masing berpasangan di tiga sisi area penonton. Matras tempat penonton duduk mengindikasikan bahwa penonton diposisikan per dua orang. Sekilas, sempat terpikir apakah duduk dalam posisi berpasangan juga merupakan bagian dari pertimbangan konseptual pertunjukan. Setelah semua penonton duduk mengisi ruangan, lampu ruang pertunjukan dimatikan, menyisakan cahaya remang di tengah panggung.

Pertunjukan dimulai dengan kehadiran karakter utama yang membawa semacam buku notasi musik. Buku tersebut ditempatkan pada tiang partitur sebelum sang pemeran utama menyanyikan komposisi opera dengan akapela. Terdapat bagian yang mengindikasikan bahwa komposisi tersebut merupakan bagian dari komposisi Wolfgang Amadeus Mozart bertajuk The Magic Flute. Penonton kemudian bertepuk tangan selepas potongan komposisi opera tersebut dinyanyikan. Pemeran utama lalu mengambil botol minum dan melepas dahaga sebelum kembali berdiri di tengah panggung sambil beberapa kali menarik napas

dan berdeham seolah sedang bersiap untuk kembali bersuara. Babak pertama barusan sepertinya juga dapat dibaca sebagai bagian peregangan dan pemanasan secara harfiah, yang sekaligus juga menunjukkan kualitas olah vokal sang pemain utama.

Dalam adegan berikutnya, pemeran utama berbicara dan berupaya memaparkan sesuatu kepada penonton dengan hanya membunyikan “E” dalam berbagai intonasi dan ekspresi tubuh. Sesuai dengan deskripsi dalam publikasi, bagaimana jika “E” menjadi satu-satunya suara atau bahasa yang tersisa di dunia. Paparan tersebut kemudian diselingi dengan ajakan kepada penonton di tiga sisi berbeda untuk mengucapkan “E” secara bersama-sama. Penonton mengikuti ajakan tersebut tanpa bantuan instruksi selain variasi pengucapan “E” dan ekspresi tubuh pemeran utama. Adegan tersebut dilanjutkan dengan adegan interaktif ketika pemeran utama memilih salah satu pengunjung untuk berdialog dengannya. Setelah berdialog dengan sekitar tiga penonton secara acak, adegan interaktif ditutup dengan obrolan antara pemeran utama dengan salah satu karakter yang mengenakan setelan olahraga.

Dialog antar keduanya diawali dengan perkenalan malu-malu, bergosip tentang sesuatu, menirukan sebagian nyanyian opera di awal pertunjukan, hingga gurauan dan (sepertinya) upaya negosiasi untuk meminjam kacamata sang pemeran berbaju olahraga. Adegan tersebut diakhiri dengan teriakan “E” yang nampak menandai sebuah kesepakatan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama. Ragam bunyi nada “E” dalam format notasi musik lantas ditampilkan pada layar di latar panggung. Sang pemeran utama membunyikan peluit dan menunjuk salah seorang berseragam olahraga untuk membunyikan ragam nada “E” pada layar berdasarkan instruksi pemeran utama yang memegang penunjuk laser.

Pemeran utama menunjuk satu per satu notasi nada “E” secara acak yang kemudian dibunyikan oleh karakter terpilih. Sesekali, penonton juga berkesempatan untuk ditunjuk dan mengikuti instruksi pemeran utama untuk membunyikan ragam notasi “E” tersebut.

Intensitas ketegangan di babak ini terasa sedikit meningkat apabila dibandingkan dengan adegan interaktif di babak awal. Tidak bisa dipungkiri, notasi musik yang ditampilkan pada layar dapat dilihat sebagai semacam aturan tertulis yang tidak semua orang bisa membacanya. Gagasan “E” sebagai satu-satunya bebunyian yang ‘diperbolehkan’ dalam pertunjukan terasa semakin menyulitkan. Entah mengapa, tidak ada satupun penonton yang berkeinginan untuk membunyikan bunyi lain selain “E” di setiap babak interaktif. Pertunjukan ini nampaknya berhasil menghipnotis penonton untuk tetap berpijak pada bunyi “E”. Dunia yang dibayangkan oleh konsep pertunjukan ini semakin mewujud.

Di luar aspek yang disebutkan di atas, babak instruksional notasi “E” sedikit banyak juga memunculkan nuansa humor yang cukup kental melalui keragaman respons dan interpretasi bebunyian, baik yang dilakukan oleh pemeran pertunjukan maupun penonton. Babak ini sekali lagi mengingatkan bahwa hampir keseluruhan pertunjukan ini sarat dengan simbol dan keteraturan (mungkin juga aturan) komposisi musik Barat. Pemeran utama yang berperan sebagai instruktur pada babak ini seolah merepresentasikan upaya-upaya menjaga kaidah komposisi musik Barat dengan ketat dan cenderung otoritatif. Dalam bagian akhir babak instruksional, pemeran utama membunyikan sendiri ragam notasi “E” tersebut, seolah ingin menunjukkan cara membunyikan nada-nada “E” secara baik dan benar.

Babak berikutnya ditandai dengan ragam gerak olahraga di atas matras yang diperagakan oleh pemeran utama. Setelah beberapa saat, keenam pemeran berseragam olahraga yang berada di tengah-tengah penonton mulai melakukan aktivitas berbisik dengan rekan di sebelahnya. Bagian ini menggambarkan situasi tatapan mata yang fokus pada gerak olahraga pemeran utama yang diselingi distraksi bisikan-bisikan sebagai representasi fenomena tatapan pria terhadap perempuan. Pemeran utama kemudian merasa terganggu dengan bisikan-bisikan tersebut dan babak ini diakhiri dengan ekspresi marah sang pemeran utama sambil membunyikan peluit. Keenam pemeran berseragam olahraga lantas berdiri dan melepas jaket mereka. 

Berdiri dalam pantauan sang pemeran utama yang nampak kesal, keenam pemeran berbaju olahraga lalu melakukan aktivitas berolahraga secara berpasangan yang berganti posisi setiap peluit pemeran utama dibunyikan. Bebunyian napas dan desah serupa ekspresi lelah dan mengeluh dari keenam pemeran berbaju olahraga perlahan berganti menjadi bebunyian “E” yang sekilas berupaya untuk harmonis. Layar kemudian memunculkan bermacam rumus matematis yang direspons dengan bebunyian “E” oleh pemeran pertunjukan. Pergantian simbol dan rumus-rumus pada layar juga menandai pergantian jenis harmonisasi nada “E” tersebut. Di babak penutup, pemeran utama melakukan gerakan lari di tempat sambil menyuarakan kata ‘lemper,’ ‘tempe,’ dan ‘lempeng.’ Ketiga kata tersebut kemudian secara perlahan diikuti oleh keenam pemeran berseragam olahraga. Secara berkala, gerakan lari di tempat sambil menyuarakan tiga kata berulang dilakukan semakin cepat hingga keseluruhan pemeran berlari, berteriak, dan kelelahan.

Keseluruhan pertunjukan jelas merujuk pada ragam pemahaman terhadap eksperimentasi bebunyian sekaligus pembacaan pada kaidah-kaidah musik. Seluruh pemeran pertunjukan juga merupakan penyanyi yang sebagian di antaranya piawai dalam membaca notasi musik. Menekankan aspek spasial ruangan yang juga bersinggungan dengan bebunyian di luar ruangan, hari kedua pertunjukan sedikit banyak melahirkan nuansa yang sama sekali berbeda. Hal tersebut berkaitan dengan riuhnya suara, bebunyian, serta gemuruh musik yang terjadi di tempat-tempat keramaian sekitar Kedai Kebun Forum. Di satu sisi, bebunyian luar ruangan tersebut memunculkan kompleksitas bebunyian yang menarik dalam menikmati pertunjukan Sinsigus in 4#. Di sisi lain, bebunyian luar ruangan justru mengurangi kekuatan gagasan spekulatif atas bunyi “E” sebagai satu-satunya bunyi dan suara yang tersisa di dunia.

Pengamat merasakan lompatan-lompatan gagasan yang cukup membingungkan di setiap babak. Diawali dengan gagasan presentasi olah vokal yang dilanjutkan dengan sesi perkenalan dan pengenalan bunyi “E”, hingga perihal sosok otoritatif dan pembongkaran aturan yang telah lama disepakati. Urutan gagasan tersebut dibuat semakin kompleks melalui adegan atau babak yang mengindikasikan adanya tatapan pria (male gaze).

Menjelang bagian penutup, gagasan perihal harmoni dibangun sekaligus dihancurkan, begitu pula dengan gagasan bunyi “E” yang diruntuhkan melalui pengucapan (atau penemuan?) kata-kata berbasis bunyi “E” seperti lemper, tempe, dan lempeng. Apakah susunan gagasan-gagasan tersebut mengarah pada sebuah iterasi penciptaan bahasa yang diawali dengan penemuan bunyi “E”? Atau keseluruhan gagasan tersebut merupakan representasi atas semesta perilaku interaksi antar manusia di mana bahasa menjadi perekat sekaligus sumber persoalan?

Representasi manusia dalam dunia Sinsigus in 4# dihadirkan melalui penempatan penonton yang mengitari panggung. Penempatan tersebut jelas memungkinkan ragam persepsi terhadap suara dan bebunyian. Ditampilkan tanpa pengeras suara, karakter spasial ruangan ditambah dengan posisi duduk yang berbeda akan menghasilkan sensasi mendengar yang bervariasi di masing-masing telinga penonton. Material matras sebagai tempat duduk penonton bisa jadi merupakan pertimbangan artistik yang juga berkaitan dengan olah akustik ruangan, dalam hal ini sebagai upaya meredam atau mengurangi pantulan bebunyian.

Dalam wilayah artistik lainnya, kehadiran pemeran pertunjukan dalam kostum olahraga agaknya cukup membingungkan. Meskipun begitu, dapat dipahami bahwa olah vokal jelas menekankan disiplin terkait pengaturan napas seperti halnya berolahraga. Namun, korelasi antara keduanya nampak begitu berjarak apabila dikembalikan pada poros gagasan “E” sebagai satu-satunya suara dan bebunyian yang tersisa di dunia. Di lain pihak, penonton pun tampaknya urung untuk turut serta mengenakan pakaian ‘bermain badminton bersama teman.’ Hal tersebut membuat pemeran berseragam olahraga menjadi begitu berbeda dan berjarak dengan penonton meskipun duduk di tengah barisan penonton.

Pertunjukan Sinsigus in 4# merupakan pertunjukan dengan eksperimentasi bebunyian dan suara yang cukup menantang. Dimulai dari pemilihan judul yang mungkin saja hanya dipahami oleh sebagian orang yang akrab dengan simbol-simbol musikal (4# yang berarti tangga nada dalam nada dasar E misalnya), berpadunya elemen musik dan olahraga yang berporos pada olah pernapasan, hingga aspek artistik dan spasial ruangan yang teratur sekaligus terbuka. Gagasan “E” sebagai satu-satunya bunyi dan suara yang berlaku dalam pertunjukan nampaknya dapat dijalankan dengan baik meskipun perpindahan gagasan di setiap babak perlahan-lahan memunculkan kecanggungan.

Secara umum, Sinsigus in 4# menawarkan pengalaman menonton/mendengar yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memunculkan banyak kegelisahan. Kegelisahan atas aturan, kuasa, hingga spekulasi terkait dunia yang dibatasi oleh bahasa.

Scroll to Top