Cerita pendek “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis menggambarkan pergulatan manusia dengan Tuhannya, tentang pemaknaan ibadah yang berada dalam tegangan hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dalam masyarakat, relasi yang lebih menonjol biasanya adalah hubungan vertikal, namun Navis mengingatkan bahwa ibadah tidak akan bermakna tanpa juga membangun relasi kemanusiaan. Tegangan inilah yang menjadi inspirasi untuk dihidupkan kembali melalui sebuah pertunjukan Sound and Visual Performance berbasis objek, yang mengadaptasi naskah Navis dan menampilkan kontras dua dunia: antara yang manusia dan non-manusia, antara syariat dan kemanusiaan, antara tubuh dan objek, serta antara yang representasional dengan yang sensori di dalam seni pertunjukan.
Pertunjukan ini menghadirkan pendekatan artistik baru dengan memanfaatkan objek suara, gerak mikroba dan bakteri yang menghasilkan gerak kinetik, suara, serta visual melalui pengolahan media digital. Keterlibatan mikroba, bakteri, dan objek keseharian dalam dramaturgi bukan hanya sebagai upaya artistik non-antroposentris, melainkan juga sebagai pintu masuk untuk menyuarakan isu lingkungan. Dengan demikian, pertunjukan ini tidak sekadar menyajikan tafsir ulang terhadap ketegangan ibadah dalam karya Navis, tetapi juga memperluas wacananya ke ranah relasi manusia dengan dunia non-manusia dalam konteks ekologi dan keberlanjutan.
Sutradara: Deden Bulqini
Produser: Sugiyanti Ariani
Pentas Perdana: 10-11 Juli 2025, Auditorium IFI Bandung, Bandung
Catatan Pengamat: https://kelola.or.id/kesetiaan-dan-keberanian/
Liputan Media: https://tirto.id/collective-lab-garap-pentas-silang-media-robohnya-surau-kami-hdWJ
Video:
Galerei Foto:





