Kelola

EN

|

ID

UNTUK SENI DAN BUDAYA

EN

|

ID

KELOLA

UNTUK SENI DAN BUDAYA

PUBLISHED BY.
Kelola
SHARE
Catatan Panel Seleksi Lab Inkubasi Keproduseran

Catatan Panel Seleksi Lab Inkubasi Keproduseran

Melanjutkan komitmen untuk turut serta dalam pengembangan seni pertunjukan di Indonesia, pada tahun ke-27 ini Kelola memilih enam pasangan produser dan seniman untuk berpartisipasi dalam proses peningkatan kapasitas keproduseran karya seni pertunjukan. Sejak tahun 2025, Kelola berfokus pada penguatan peran produser, khususnya dalam konteks keterhubungan antara para pelaku kreatif dalam ekosistem seni pertunjukan di Indonesia. Peningkatan kapasitas keproduseran ini bertujuan mengoptimalkan peran produser dalam mengelola potensi gagasan, proses kreasi, strategi produksi, serta pengembangan dan distribusi karya. Melalui upaya ini, produser diharapkan menjadi pelaku kreatif yang mampu memetakan modalitas karya sekaligus mendorong suatu karya seni pertunjukan mencapai hasil yang optimal dalam seluruh aspeknya.

Dalam program ini, Kelola secara khusus memberi perhatian pada proposal karya yang telah mulai digarap dan sedang dalam proses bertumbuh (work-in-progress). Dengan menempatkan diri sebagai ruang inkubasi lanjutan (mid-development stage), program ini diharapkan bisa mendukung pengembangan gagasan karya seni pertunjukan melalui lensa keproduseran. Fokus tersebut terutama mencakup visi artistik dan produserial, strategi pemetaan sumber daya, distribusi karya, serta pendekatan karya terhadap publik.

Proyeksi seleksi menyasar rencana karya pertunjukan yang memiliki gagasan inovatif dan kontekstual, memiliki preseden pengembangan, serta menunjukkan potensi kolaborasi yang bermutu antara produser dan seniman. Selain itu, proposal juga diharapkan memiliki imajinasi atas strategi distribusi dan pengelolaan pendanaan yang terukur. Pengalaman produser dan seniman, persebaran wilayah, gender, dan kenyataan produksi di tingkat lokal turut menjadi pertimbangan penting. Di sisi lain, pendekatan programatik ini menempatkan Kelola tidak hanya dalam kerangka akses pendanaan, tetapi juga dalam penguatan peran produser dan seniman dalam produksi pengetahuan, sekaligus menopang keterlibatannya dalam ekosistem, termasuk dalam hubungan antara karya dan penonton.

Perspektif ini mengarahkan proses seleksi pelamar agar berfokus pada relasi antara seniman dan produser dalam proses penciptaan karya. Dengan mempertimbangkan potensi artistik yang ditawarkan, baik secara teknis maupun diskursif, kolaborasi antara produser dan seniman ini bukan hanya ditempatkan sebagai pasangan duet, tetapi juga sebagai kelompok belajar (cohort) yang produktif dan saling melengkapi dengan peserta program lainnya.

Melalui serangkaian diskusi dan observasi, panel seleksi meyakini bahwa produser-seniman peserta program Lab Inkubasi Keproduseran Kelola 2026 memiliki rekam jejak yang berpotensi tumbuh secara berkelanjutan. Mereka dinilai mampu memetakan relasi kerja secara jernih dan setara, menunjukkan kesadaran terhadap sumber daya secara berkesinambungan, serta memiliki integritas untuk menciptakan karya yang berkontribusi pada produksi pengetahuan seni pertunjukan di Indonesia.

Sejalan dengan perspektif tersebut, proses seleksi tahun ini memperlihatkan lanskap praktik keproduseran yang terus bergerak dan berkembang. Panel menjumpai beragam pendekatan, pengalaman, serta cara membayangkan peran produser dalam proses penciptaan karya. Keragaman ini menunjukkan bahwa praktik keproduseran seni pertunjukan di Indonesia tidak tumbuh melalui satu jalur yang seragam, melainkan melalui berbagai pengalaman, kebutuhan, dan kemungkinan yang saling berkelindan.

Dari berkas lamaran yang masuk, terlihat bahwa tidak semua pelamar membangun trajektori praktiknya sejak awal sebagai produser. Sebagian justru menggeser perannya dari dramaturg, kurator, maupun posisi kreatif lainnya untuk memperkuat dukungan terhadap pengembangan karya pertunjukan yang mereka ajukan. Pergeseran ini tidak hadir sebagai perpindahan profesi yang sederhana, melainkan sebagai proses reflektif yang mereka artikulasikan melalui pengalaman keterlibatan sebelumnya serta arah pengembangan proyek yang ingin ditempuh.

Bagi panel, kondisi tersebut bukan merupakan kekurangan, melainkan bukti kompleksitas praktik keproduseran seni pertunjukan di Indonesia, di mana peran produser berkembang melalui perjumpaan dengan berbagai praktik kreatif yang saling memperkaya. Pengalaman lintas disiplin ini menunjukkan bahwa seorang produser tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengelola produksi, tetapi juga pemahaman yang lebih utuh tentang proses artistik, dramaturgi, kuratorial, serta dinamika penciptaan karya. Atas dasar itu, panel memandang penting untuk memberikan ruang bagi para pelamar dengan trajektori semacam ini agar dapat mengeksplorasi praktik keproduseran secara lebih lanjut.

Seni pertunjukan Indonesia tumbuh dari keberagaman praktik, cara kerja, siasat, dan konteks yang terus bernegosiasi satu sama lain. Berdasarkan pemahaman ini, enam pasangan yang terpilih tidak dimaksudkan sebagai representasi utuh atas lanskap seni pertunjukan Indonesia, melainkan sebagai ruang tumbuh yang merengkuh berbagai kemungkinan dialog di antara keragaman tersebut.

Komposisi produser-seniman terpilih merepresentasikan beragam lintasan praktik seni pertunjukan di Indonesia: setiap pasangan membawa kebutuhan, tantangan, dan titik berangkat yang berbeda. Ada yang berasal dari ekosistem yang telah membentuk medan praktik dan produksi karyanya sendiri, ada pula yang tumbuh dari wilayah-wilayah dengan infrastruktur yang masih berkembang. Sebagian memiliki rekam jejak yang kuat, sementara yang lain menunjukkan potensi percepatan ketika memperoleh dukungan yang tepat.

Melalui pendekatan kolaboratif, keproduseran dipahami bukan semata-mata sebagai kerja mengelola produksi karya pertunjukan, tetapi sebagai praktik membangun relasi. Praktik ini memungkinkan gagasan artistik terus bertumbuh, menemukan bentuk presentasinya dalam aneka situasi kepenontonan, dan membangun keterhubungan yang lebih luas.

Kami percaya, Lab Inkubasi Keproduseran Kelola tidak hanya akan menjadi ruang pengembangan bagi masing-masing pasangan, tetapi juga titik perjumpaan antartrajektori dan antarpengalaman. Dari perjumpaan ini, diharapkan lahir perluasan cara pandang terhadap praktik keproduseran sekaligus penguatan keterhubungan antara para pelaku, baik dalam satu ekosistem maupun antar ragam ekosistem seni pertunjukan di Indonesia.

13 Juni 2026,

Eka Putra Nggalu
Keni Soeriaatmadja
Rama Thaharani
Sekar Handayani
Yustiansyah Lesmana

Catatan Panel Seleksi Lab Inkubasi Keproduseran

Catatan Panel Seleksi Lab Inkubasi Keproduseran

Melanjutkan komitmen untuk turut serta dalam pengembangan seni pertunjukan di Indonesia, pada tahun ke-27 ini Kelola memilih enam pasangan produser dan seniman untuk berpartisipasi dalam proses peningkatan kapasitas keproduseran karya seni pertunjukan. Sejak tahun 2025, Kelola berfokus pada penguatan peran produser, khususnya dalam konteks keterhubungan antara para pelaku kreatif dalam ekosistem seni pertunjukan di Indonesia. Peningkatan kapasitas keproduseran ini bertujuan mengoptimalkan peran produser dalam mengelola potensi gagasan, proses kreasi, strategi produksi, serta pengembangan dan distribusi karya. Melalui upaya ini, produser diharapkan menjadi pelaku kreatif yang mampu memetakan modalitas karya sekaligus mendorong suatu karya seni pertunjukan mencapai hasil yang optimal dalam seluruh aspeknya.

Dalam program ini, Kelola secara khusus memberi perhatian pada proposal karya yang telah mulai digarap dan sedang dalam proses bertumbuh (work-in-progress). Dengan menempatkan diri sebagai ruang inkubasi lanjutan (mid-development stage), program ini diharapkan bisa mendukung pengembangan gagasan karya seni pertunjukan melalui lensa keproduseran. Fokus tersebut terutama mencakup visi artistik dan produserial, strategi pemetaan sumber daya, distribusi karya, serta pendekatan karya terhadap publik.

Proyeksi seleksi menyasar rencana karya pertunjukan yang memiliki gagasan inovatif dan kontekstual, memiliki preseden pengembangan, serta menunjukkan potensi kolaborasi yang bermutu antara produser dan seniman. Selain itu, proposal juga diharapkan memiliki imajinasi atas strategi distribusi dan pengelolaan pendanaan yang terukur. Pengalaman produser dan seniman, persebaran wilayah, gender, dan kenyataan produksi di tingkat lokal turut menjadi pertimbangan penting. Di sisi lain, pendekatan programatik ini menempatkan Kelola tidak hanya dalam kerangka akses pendanaan, tetapi juga dalam penguatan peran produser dan seniman dalam produksi pengetahuan, sekaligus menopang keterlibatannya dalam ekosistem, termasuk dalam hubungan antara karya dan penonton.

Perspektif ini mengarahkan proses seleksi pelamar agar berfokus pada relasi antara seniman dan produser dalam proses penciptaan karya. Dengan mempertimbangkan potensi artistik yang ditawarkan, baik secara teknis maupun diskursif, kolaborasi antara produser dan seniman ini bukan hanya ditempatkan sebagai pasangan duet, tetapi juga sebagai kelompok belajar (cohort) yang produktif dan saling melengkapi dengan peserta program lainnya.

Melalui serangkaian diskusi dan observasi, panel seleksi meyakini bahwa produser-seniman peserta program Lab Inkubasi Keproduseran Kelola 2026 memiliki rekam jejak yang berpotensi tumbuh secara berkelanjutan. Mereka dinilai mampu memetakan relasi kerja secara jernih dan setara, menunjukkan kesadaran terhadap sumber daya secara berkesinambungan, serta memiliki integritas untuk menciptakan karya yang berkontribusi pada produksi pengetahuan seni pertunjukan di Indonesia.

Sejalan dengan perspektif tersebut, proses seleksi tahun ini memperlihatkan lanskap praktik keproduseran yang terus bergerak dan berkembang. Panel menjumpai beragam pendekatan, pengalaman, serta cara membayangkan peran produser dalam proses penciptaan karya. Keragaman ini menunjukkan bahwa praktik keproduseran seni pertunjukan di Indonesia tidak tumbuh melalui satu jalur yang seragam, melainkan melalui berbagai pengalaman, kebutuhan, dan kemungkinan yang saling berkelindan.

Dari berkas lamaran yang masuk, terlihat bahwa tidak semua pelamar membangun trajektori praktiknya sejak awal sebagai produser. Sebagian justru menggeser perannya dari dramaturg, kurator, maupun posisi kreatif lainnya untuk memperkuat dukungan terhadap pengembangan karya pertunjukan yang mereka ajukan. Pergeseran ini tidak hadir sebagai perpindahan profesi yang sederhana, melainkan sebagai proses reflektif yang mereka artikulasikan melalui pengalaman keterlibatan sebelumnya serta arah pengembangan proyek yang ingin ditempuh.

Bagi panel, kondisi tersebut bukan merupakan kekurangan, melainkan bukti kompleksitas praktik keproduseran seni pertunjukan di Indonesia, di mana peran produser berkembang melalui perjumpaan dengan berbagai praktik kreatif yang saling memperkaya. Pengalaman lintas disiplin ini menunjukkan bahwa seorang produser tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengelola produksi, tetapi juga pemahaman yang lebih utuh tentang proses artistik, dramaturgi, kuratorial, serta dinamika penciptaan karya. Atas dasar itu, panel memandang penting untuk memberikan ruang bagi para pelamar dengan trajektori semacam ini agar dapat mengeksplorasi praktik keproduseran secara lebih lanjut.

Seni pertunjukan Indonesia tumbuh dari keberagaman praktik, cara kerja, siasat, dan konteks yang terus bernegosiasi satu sama lain. Berdasarkan pemahaman ini, enam pasangan yang terpilih tidak dimaksudkan sebagai representasi utuh atas lanskap seni pertunjukan Indonesia, melainkan sebagai ruang tumbuh yang merengkuh berbagai kemungkinan dialog di antara keragaman tersebut.

Komposisi produser-seniman terpilih merepresentasikan beragam lintasan praktik seni pertunjukan di Indonesia: setiap pasangan membawa kebutuhan, tantangan, dan titik berangkat yang berbeda. Ada yang berasal dari ekosistem yang telah membentuk medan praktik dan produksi karyanya sendiri, ada pula yang tumbuh dari wilayah-wilayah dengan infrastruktur yang masih berkembang. Sebagian memiliki rekam jejak yang kuat, sementara yang lain menunjukkan potensi percepatan ketika memperoleh dukungan yang tepat.

Melalui pendekatan kolaboratif, keproduseran dipahami bukan semata-mata sebagai kerja mengelola produksi karya pertunjukan, tetapi sebagai praktik membangun relasi. Praktik ini memungkinkan gagasan artistik terus bertumbuh, menemukan bentuk presentasinya dalam aneka situasi kepenontonan, dan membangun keterhubungan yang lebih luas.

Kami percaya, Lab Inkubasi Keproduseran Kelola tidak hanya akan menjadi ruang pengembangan bagi masing-masing pasangan, tetapi juga titik perjumpaan antartrajektori dan antarpengalaman. Dari perjumpaan ini, diharapkan lahir perluasan cara pandang terhadap praktik keproduseran sekaligus penguatan keterhubungan antara para pelaku, baik dalam satu ekosistem maupun antar ragam ekosistem seni pertunjukan di Indonesia.

13 Juni 2026,

Eka Putra Nggalu
Keni Soeriaatmadja
Rama Thaharani
Sekar Handayani
Yustiansyah Lesmana

Scroll to Top