Catatan Pengamatan oleh Joned Suryatmoko
Sebagai penonton saya pernah mengalami setidaknya tiga pertunjukan berbasis gagasan soal pijat, wellness, terapi ataupun sentuhan. Semuanya selalu partipatif, interaktif atau site specific. Tapi Pici-Pici tidak begitu. Karya ini seperti kedap dengan ruang dan kepenontonan yang konvensional, sekaligus eksploratif dengan caranya sendiri.
Pici-pici merupakan karya koreografer Leu Wijee dengan dua penampil yakni Leu sendiri dan Dani S. Budiman (Indonesia). Karya ini melibatkan Nagara Hada (Jepang) sebagai dramaturg dan Mio Ishida (Jepang) sebagai penata musik dan lampu. Muhammad AB (Indonesia) berlaku sebagai produser. Melibatkan juga dukungan dari Japan Foundation, Pici-pici dipentaskan selama dua hari yakni Selasa dan Rabo, 1 dan 2 Juni 2025 pk. 19.00 WIB di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta.
Karya ini merupakan salah satu dari 10 produksi karya inovasi yang mendapat dukungan dari Yayasan Kelola. Pada pengantar dari Yayasan Kelola dituliskan”Proyek ini bisa dipahami sebagai pertunjukan yang mempertontonkan mix-remix antara koreografi dan yang beresonansi dengan pijat, apakah benda-bendanya, bahasa geraknya, atau keruangannya.” Berdasar pada kunjungan saya di dua hari pertunjukan, catatan ini akan berisi gambaran singkat peristiwa pertunjukan, tanggapan atas karya itu sendiri, keterhubungan dengan publik dan ditutup dengan catatan lain.
Gambaran Pertunjukan: Pijat, Pemijat, Alat Pijat, Ruang Pijat

Lewat publikasi Pici-pici penonton diundang jam 19.00 WIB. Namun pintu gedung baru dibuka setengah jam setelahnya. Selama waktu menunggu itu penonton tidak hanya diberi waktu registrasi, namun juga disediakan ruang untuk menunggu, bercakap ditemani minuman tradisional yang disediakan di lobi gedung. Beberapa anggota Teater Gadjah Mada (TGM) UGM yang menjadi mitra produksi ini berdiri di meja registrasi, melayani pertanyaan beberapa tamu yang datang.
Gambar 1. Meja depan di lobby IFI-LIP dimana minuman tradisional disajikan dan registrasi dilakukan.
Setengah jam berlalu, sisa penonton sudah mulai tiba. Mereka ini adalah penonton yang datang selepas pukul tujuh malam karena terjebak macet di lalu-lintas Yogya saat musim liburan. Pada hari I pertunjukan saya datang pukul 19.10 WIB. Abe sudah memberi tahu bahwa pintu baru dibuka menjelang pukul 19.30 malam. Jeda setengah jam ini nantinya berguna untuk memberi justifikasi mengapa penonton yang terlambat setengah jam tidak diperkenankan masuk ke dalam gedung. Ada no late comer policy.
Saat penonton memasuki gedung pertunjukan, dua penari (Leu dan Dani) sudah ada di atas panggung, melakukan gerakan-gerakan pemanasan. Sambil sesekali berdiri, mereka tidak berinteraksi dengan penonton. Panggung dipenuhi benda-benda yang berkaitan dengan pijat, mulai dari alat pijat elektonik, minyak urut, air purifier dengan aroma khas, termasuk jepitan jemuran, kain pantai dan handuk yang dibentang di sisi kiri panggung. Satu koper berwarna perak diletakkan di sudut seberangnya, mungkin untuk menunjukkan dimana benda-benda yang bersedak itu akan disimpan dan diangkut ke Jepang, satu destinasi yang sudah direncanakan setelah Leu dan timnya menyelesaikan pementasan mereka di Yogya.
House light meredup dan pertunjukan mulai. Kedua penari yang tadinya berdiri sudah mulai duduk menindih kaki mereka di lantai panggung, satu pilihan level bawah yang akan mendominasi pertunjukan. Posisi ini juga merujuk pada posisi pemijat tradisional ketika sedang bekerja. Tanduk sapi menjadi benda pertama yang mereka aktivasi dengan cara digosok-gosokkan ke lantai panggung yang berkarpet. Menurut Leu harusnya gesekan tanduk itu memunculkan suara. Sayangnya dalam pertunjukan ini suara itu tidak muncul karena tanduk bergesekan dengan lantai berkarpet alih-alih lantai polos biasa.
Gambar 2. Posisi awal pertunjukan Pici-pici, kedua penampil di tengah dengan benda-benda di sekitar mereka.
Masih dengan posisi duduk di bawah- kedua penari mulai memainkan alat pijat elektronik mirip pistol. Keduanya menembakkan alat itu ke tubuh masing-masing termasuk paha. Sekali Leu menempelkan tembakan itu ke lehernya, membuat suara yang ia keluarkan bergetar. Ia nampak suka dengan getaran suara itu dan ingin memberi tahu Dani, tapi Dani terlalu asik dengan pistolnya sendiri. Sedikit kesal Leu lalu menembakkan pistol pijat yang ia pegang ke pinggang Dani. Yang ditembak kaget, lalu balas menembak. Keduanya lalu bermain-main dengan pistol mereka, memberi nuansa pertunjukan yang playfull. Ketika permainan mereka berpindah ke saling sentuh dan pijat, kesan bermain ini masih nampak. Pun ketika pijatan berpindah ke bagian-bagian sensitif seperti pantat dan pangkal paha, keduanya nampak seperti dua kawan yang bermain.
Sedikit obrolan muncul dengan suara pelan. Penonton tak terlalu diproyeksikkan untuk tahu. Obrolan ini berlanjut sambil mereka berjalan di pinggir panggung, dimana mereka menemukan sandal pijat dan mulai memakainya. Sakit karena tekstur pijat sandal itu, jalan keduanya jadi berjingkat. Tak berhenti di sana, keduanya mulai mengambil beberapa benda pijat di lantai dan berlagak melakukan peragaan busana. Suara voice over seorang perempuan mengucapkan salam selamat datang di peragaan busana itu terdengar dalam Bahasa Inggris. Beberapa kali kedua penampil hilir mudik di panggung peragaan mereka, baik itu dengan mengalungkan alat pijat, melilitkan handuk di pinggang dan seterusnya. Adegan peragaan ini sekaligus menutup pertunjukan mereka, yang berlangsung kurang dari satu jam. Kedua penampil lalu meninggalkan panggung.
Abe – produser pertunjukan ini- muncul dengan microphone di panggung dan mengumumkan bahwa ada jeda 15 menit dimana penonton boleh masuk ke area panggung dan mencoba alat-alat pijat. Setelahnya, akan ada “Babak Kedua” dimana kedua seniman yang berkolaborasi yakni Leu dan Nagara akan melakukan artist talk. Pada babak kedua ini keduanya saling bertukar bahasa. Nagara menggunakan Bahasa Indonesia, dan Leu menggunakan Bahasa Jepang. Namun hal ini tidak lama dan hanya terjadi di Hari I pementasan. Selebihnya Leu kembali bicara dengan Bahasa Indonesia dan Nagara dalam Bahasa Inggris, dan hal ini berlanjut hingga diskusi.
Eksplorasi: Pengetahuan Ketubuhan dan Terlibat Lewat Jarak
Seperti yang saya singgung di awal tulisan ini, pertunjukan berbasis wellness atau terapi seperti pijat seringkali dilakukan secara interaktif. Di salah satu pertujukan di Melbourne tahun 2010 yang saya kunjungi, saya mengalamai sebuah pertunjukan interaktif itu. Saya datang ke sebuah studio dimana saya antri di lobi setelah menetapkan janjian sebelumnya. Lalu saya masuk ke satu ruangan pijat dengan satu terapis, perempuan separuh baya kulit putih. Saya diajak ngobrol, dipijat, diberi headphone dengan musik yang menyejukkan- semuanya hanya untuk menunjukkan bahwa saya dan terapis itu bisa melihat siapa yang antri dan duduk di kursi di lobi depan tadi. Pijat dan praktik voyeurism (mengintip) jadi satu kelindan yang kuat, menimbulkan kesadaran yang berbeda antara yang dilihat dan melihat, dibalut kesadaran sentuhan dan kesehatan.
Gambar 3. Kedua penampil, Leu dan Dani saat curtain call di Hari II
Pici-pici bisa dianggap sebagai icip-icip versi lengkapnya yakni MassageXGossip. Ketika massage (pijat) adalah bagian dari ketubuhan, gosip mewakili budaya lisan dimana informasi dan komunikasi terjalin dalam percakapan. Dalam kajian pertunjukan dan ilmu humaniora secara umum ketubuhan dan kelisanan sering menjadi pintu masuk untuk melakukan dekolonialisasi pengetahuan yang biasanya berbasis tulisan (scriptocentrik). Dengan demikian, karya Leu ini bisa dilihat sebagai kontribusi penting melihat bagaimana praktik ketubuhan dalam pijat menyambungkan dan menghubungkan orang. Kelak dalam versi komplitnya MassageXGossip, pelisanan akan lebih dieksplorasi dan dipertemukan dengan yang ketubuhan ini. Karena tulisan ini berbasis pada Pici-pici maka yang ketubuhanlah yang akan lebih dibahas.
Dalam hal ketubuhan Pici-pici meniadakan aspek interaksi dengan penonton lewat sentuhan, sebagaimana pertunjukan lain yang saya sebutkan tadi. Interaksi ketubuhan hanya dilokalisir di panggung, dilakukan antar penampil. Keputusan ini tidak hanya eksploratif namun juga progressif karena ia sedang menghadirkan jarak bagi penonton untuk melihat pijat sebagai metode, alih-alih mengalaminya sendiri. Padanan pengalamanya adalah, saudara kita ada yang dipijat di ruang tengah rumah kita, lalu kita duduk-duduk saja di ruang itu dan melihat saudara kita ini dipijat. Kita bisa melihat ia kesakitan dan keenakan tapi kita sendiri tidak mengalaminya.
Keputusan Leu di atas saya anggap menjawab pertanyaan Nia Agustina (kurator dan pendiri Paradance) dalam diskusi. Nia bertanya mengapa dalam Pici-pici pengalaman si seniman sebagai pelanggan pijat berubah menjadi pengalaman pemijat (terapis). Bagi saya, Pici-pici justru mentransmisikan pengalaman penonton sebagai pelanggan sekalipun berjarak. Kita melihat adegan-adegan pemijatan itu namun tidak ikut disentuh. Dalam perbandingan model “pijat di rumah” yang saya ajukan, kita adalah mereka yang duduk di ruang tengah ketika saudara kita dipijat tadi. Kita merasakan lewat jarak, melihat dan dilibatkan dalam peristiwa pada ruang dan waktu yang sama dengan aktivitas pemijatan itu. Pengalaman ketubuhan yang afektif ini muncul sekalipun pertunjukan itu tidak interaktif. Bagi saya yang pernah menonton pertunjukan terapi yang interaktif, saya bisa berkomentar: Nah, ini baru! Pici-pici tidak terjebak pada yang interaktif dan partisipatoris yang hampir jadi keniscayaan dalam karya berbasis pijat atau sentuhan. Ia lebih menghadirkan nalar keterlibatan (engagement) penonton yang lebih berlapis, keterlibatan lewat jarak.
Meski begitu, pada diskusi hari I Melati Suryodarmo (seniman performans) menyayangkan kenapa jarak penonton dan penampil cukup jauh. Penonton duduk di kursinya, penampil di panggung. Jika saja penonton dibiarkan lebih dekat maka keintiman bisa lebih muncul, kira-kira begitu masukannya. Saya sepakat dengan catatan Melati karena hal itu akan mengamplifikasi nalar afeksi yang saya bangun sebelumnya. Kita mengalami pemijatan sekalipun kita hanya menonton. Jarak yang dekat akan lebih muncul, sekalipun kita tidak diperkenankan berinteraksi dengan penampil.
Erotika dan Tegangan Vernakular
Sekalipun melibatkan dua penampil pria dan terlibat kontak fisik lewat sentuhan pijat, Pici-pici tidak menyiratkan erotika atau lebih tepatnya homo-erotika. Kesan playfull lebih muncul sekalipun kontak fisik kedua penampil intensif, misal dengan memijat pangkal paha dan pantat. Ada satu adegan dimana satu penampil hampir menindih penampil lain yang tengkurap. Pada pijat sehari-hari, posisi tersebut mengindikasikan body to body massage, dimana tubuh pemijat dan pelanggan bersentuhan. Seperti bisa dibayangkan, pijat jenis ini adalah pintu masuk ke happy ending massage atau pijat plus-plus. Pijat seperti ini tentu tidak dikenali oleh mereka yang senang pijat di gerai-gerai pijat dimana pelanggan dibaringkan berderet dan masih memakai baju lengkap. Jika Leu menyebut observasinya adalah pijat dalam pariwisata, pijat plus-plus bisa jadi ada di dalamnya.
Sampai ketika tulisan ini dirampungkan, saya masih ragu apa penyebab homoerotika ini tidak muncul. Untuk sementara saya anggap hal tersebut adalah satu pencapaian kemasteran Leu mengolah tubuh dan rasa. Penyebab lain bisa jadi karena saya tahu hubungan pertemanan Leu dan Dani, dua penampil itu. Dalam satu percakapan saya denganya, Leu sendiri berpendapat homo-erotika itu dimungkinkan muncul dan tidak terhindarkan, namun juga tidak terlalu ditonjol-tonjolkan. Dari Pici-pici kita belajar bahwa penguasaan teknis (craftmanship) yang dilakukan oleh seniman yang percaya pada kemahiran (virtuosity) tidak hanya menampilkan keunggulan aspek teknis pertunjukan namun juga rasa, affect.
Bicara soal virtuosity, Pici-pici sangat berbeda dengan karya Leu sebelumnya Ridden (IDF 2024, di Teater Salihara). Ridden sangat mengedepankan teknis dan virtuosity ini, aspek yang membuat Leu cukup lama memilih-milih penari. Pada Pici-pici, virtuosity muncul dalam bentuk yang lebih subtil, terbungkus dengan keputusan-keputusan gerak yang sangat vernacular, yang sehari-hari. Penampil berjalan, berjingkat, duduk bersujud dan terlentang. Begitu “saja”! Nyaris tidak mengemukakan teknis rumit seperti Ridden. Perlu dilihat bahwa Pici-pici adalah bagian eksplorasi persiapan Leu sendiri untuk mengolah MassageXGossip. Bisa jadi gaya Leu yang penuh dengan teknik -sebagaimana Ridden– akan lebih muncul bentuk yang elaboratif nanti.
Diksusi: Obyek atau Subyek
Babak II atau sesi artist talk berisi pemaparan Leu dan Nagara terkait inspirasi karya mereka ini. Dijelaskan juga penjelajahan pijat mereka berbagai kota di Asia dan juga temuan riset pustaka yang lain. Bagian ini tentu membantu penonton mengenal Pici-pici. Saya memberikan pernyataan di sini (disclaimer) tentang kedekatan posisi saya dalam Pici-pici. Leu banyak bercerita tentang karya ini karena kami sering bertemu di studio saya di Yogya. Leu, Nagara dan Mio juga pertama presentasi lisan tentang MassageXGossip di acara Pendek Festival 2024 di Teater Utan Kayu Jakarta, dimana saya yang mengusulkan sesi itu dan saya juga yang memoderatori. Pun, saya adalah orang yang menemani Leu merumuskan proposal karya ini untuk dikirim ke Yayasan Kelola dan menjadi pemberi rekomendasi. Selebihnya, saya tidak mengikuti persiapan mereka dan tidak pernah menonton latihan. Artinya, sesi artist talk itu bisa jadi tidak informatif buat saya karena saya sudah mengetahuinya. Buat penonton, ia adalah jembatan lain melihat karya Leu, dan cara lain menghadirkan Nagara.
Gambar 4. (ki- ka) Nagara, Abe, dan Leu saat diskusi dengan penonton.
Pada Hari I, diskusi setelah artist talk ini tidak mendapatkan banyak tanggapan dan pentasnya hanya dihadiri 50-an penonton. Saya gemas dengan diskusi itu dan saya tunjuk jari, mengomentari beberapa hal yang saya tulis di atas termasuk soal homo erotika. Melati lalu menimpali. Selebihnya diskusinya dingin dan bantat. Hari II, diskusi lebih bernas dan penonton lumayan penuh. Abe sebagai moderator lebih bersiap dan proaktif meminta komentar dari beberapa orang. Ada beberapa komentar yang menarik di Hari II ini. Rangga Dwi Apriadinnur (puppetter Flying Balloons Puppet) menyebutkan bahwa benda-benda di panggung adalah subyek baginya, bukan obyek (kata ‘obyek’ muncul dari pertanyaan Abe dan provokasi saya). Komentar ini penting melihat komponen benda yang di diskusi Hari I saya sebutkan sebagai actant (obyek yang mempunyai posisi setara dengan penampil/ actor/ performer dan menggerakkan dramaturgi). Artinya, istilah bisa berbeda-beda namun pengalaman “nyawa” obyek dirasakan. Fitri Setyaningsih (koreografer) menyebut benda-benda itu sebagai subyek yang perlu diaktivasi. Meski begitu Fitri juga mengingatkan bahwa benda itu tidak semuanya diaktivasi. Pendapat kedua seniman pertunjukan di atas berbeda dengan Candrani Yulis (perupa) yang menyarankan benda-benda tersebut lebih disusun dan diaktivasi, tidak hanya diletakkan saja.
Potongan di atas menarik karena ia menggambarkan percakapan. Terlebih ia juga memberi pemetaan pemikiran seniman yang menonton dengan bertolak dari Pici-pici. Saya pribadi lebih sepakat dengan komentar Rangga dan Fitri dibanding komentar Candrani. Pengalaman pada matra yang berbeda bisa jadi memang menyusun cara pandang senimannya. Perspektif puppeteer atau koreografer tentu berbeda dengan perupa. Pertunjukan, seperti praktik Flying Balloons dan Fitri, sudah banyak beranjak melihat benda sebagai pajangan. Tatapan seperti ini diamplifikasi Pici-pici dengan sengaja menyebar benda seakan berserak dan dibiarkan saja, padahal ia menggerakkan dramaturgi pertunjukan sebagai obyek, subyek, actant atau apapun sebutannya.
Pada diskusi hari II itu pula komentar Nia Agustina seperti yang saya sampaikan di atas muncul. Ada juga komentar lain dari Agnes Christina, Otniel Tasman, Shohifur Ridho’i dan penonton lain yang secara praktik lebih dulu dari praktik Leu. Beberapa praktisi seni yang lebih senior juga hadir di Hari II semisal Nirwan Dewanto, Helly Minari, Nya Ina Raseuki, Jennie Park, Popok Tri Wahyudi, dan Besar Widodo.
Catatan Lain: Privasi Seniman
Selama latihan Pici-pici, Leu tidak ingin latihannya ditonton orang di luar timnya, termasuk Abe sebagai produser. Dan Leu tidak melakukan Gladi Bersih sebelum pentas. Artinya, Hari I pementasan adalah kali pertama juga buat Abe melihat karya itu. Kegagapannya memandu diskusi bisa jadi disebabkan oleh keterbatasannya mengunyah presentasi Pici-Pici di waktu yang segera.
Bagi saya, hal ini tidak bisa diteruskan. Seniman memang membutuhkan privasi, namun produser harus melihat persiapan. Pada kasus Pici-pici semuanya terasa aman, lebih karena kedekatan semua tim. Sebelum Pici-pici, Leu dan Abe sering berinteraksi di studio saya yang adalah Studio IDRF dimana Abe biasanya bekerja. Leu juga dikenal sebagai orang yang bekerja dengan struktur dan bisa disebut menjadi produser untuk karyanya sendiri.
Meski dalam kasus Leu kebutuhan privasi ini bisa dipahami (tanpa harus diterima), kejadian seperti ini bisa jadi tidak produktif. Produser adalah orang yang ikut bertanggungjawab pada pendana dan publik. Jika terjadi masalah dengan Pici-Pici, Abe juga harus ikut bertanggung jawab. Pada kasus seniman lainnya, bagaimana kita bisa menarik batas jika trajectory kerja mereka tidak seperti Leu dan hubungan seniman-produser juga tidak seperti Leu dan Abe.
Saran saya: di lain kesempatan produser wajib menonton latihan senimannya, dan senimannya wajib membukakan pintu. Berapa kali dan kapan pintu itu dibuka, di bagian awal, tengah atau akhir; hal itu bisa dibicarakan lebih lanjut.
Jakarta, 7 Juli 2025
