Program Hingga 2023
Hibah Seni
Indonesia memiliki banyak seniman berbakat yang terus berkarya, meskipun sering kali tanpa dukungan yang memadai. Untuk menjawab tantangan itu, sejak tahun 2001, kami, Yayasan Kelola, menghadirkan Program Hibah Seni. Inisiatif ini memberikan dukungan dana hibah untuk membantu seniman meningkatkan kapasitas, memperkuat kualitas, dan mengembangkan wawasan tata kelola pertunjukan seni.
Program Hibah Seni terbuka bagi seluruh seniman Indonesia. Setiap proposal pertunjukan melalui proses seleksi oleh tim pakar independen yang keanggotaannya senantiasa berganti demi menjaga objektivitas.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, kami meminta penerima hibah menyusun laporan tertulis, melampirkan dokumentasi video dan foto, serta mencatat penggunaan dana. Dengan demikian, Hibah Seni tidak hanya memberi ruang bagi pengalaman artistik, tetapi juga menumbuhkan keterampilan manajemen produksi dan keuangan—bekal penting bagi seniman untuk mengelola karya dan diri mereka secara berkelanjutan.
Kategori Hibah Seni:
- Karya Inovatif: Kami mendukung seniman (individu/kelompok) memproduksi karya baru yang menembus batas konvensional dan menjelajahi kemungkinan artistik yang segar.
- Pentas Keliling: Kami tujukan bagi seniman atau kelompok berpengalaman untuk mementaskan kembali karya terbaiknya di hadapan penonton baru, di luar wilayah domisili mereka.
- Kolaborasi: Kami mendukung seniman menciptakan karya baru yang digagas bersama dua seniman atau lebih dengan kedudukan setara dalam proses penciptaan. Kategori ini bertujuan mendorong perjumpaan dan kolaborasi kreator dari latar belakang berbeda.
(Catatan: Panggilan terbuka Hibah Seni kategori Karya Inovatif dan Karya Kolaborasi dibuka hingga 31 Januari 2020.)
Hibah Seni untuk Seniman Perempuan dan Empowering Women Artists (EWA)
Program Empowering Women Artists (EWA) kami hadirkan untuk membuka akses lebih luas bagi perempuan seniman. Keberpihakan ini kami ambil karena data menunjukkan masih minimnya jumlah perempuan penerima hibah penciptaan karya seni pertunjukan—dari seluruh penerima, perempuan hanya menempati sekitar 25%.
Sejak diluncurkan pada 2007, 12 seniman seni pertunjukan terpilih berhasil menciptakan 27 karya yang dipentaskan di berbagai kota seperti Payakumbuh, Jakarta, Yogyakarta, hingga Makassar. Tiap perempuan seniman terpilih berkesempatan mewujudkan dua karya pertunjukan dalam kurun dua tahun berturut-turut. Sebagai pembekalan, mereka juga mendapatkan akses pada lokakarya khusus yang kami rancang untuk memperkuat konsep artistik dan kemampuan manajerial, serta mengikuti residensi dan pendampingan selama proses berkarya.
Dalam tiga periode, EWA menampilkan 27 pertunjukan dari 12 perempuan seniman seperti Hartati (koreografer), Maria Tri Sulistyani (sutradara), Naomi Srikandi (sutradara), Gema Swaratyagita (komposer), dan Andara F. Moeis (koreografer). Capaian ini menegaskan pentingnya peran EWA dalam dunia seni pertunjukan yang saat itu masih didominasi oleh laki-laki.
Melanjutkan apa yang telah dirintis EWA, Hibah Cipta Perempuan kami buka melalui proses seleksi kompetitif bagi sutradara, koreografer, dan komposer. Berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta, program ini memberi kesempatan bagi perempuan seniman untuk menciptakan karya baru dengan pendampingan praktisi seni berpengalaman—sebuah proses yang kami harapkan memperkaya dan memperdalam penggarapan artistik mereka.
Hibah Cipta Perdamaian
Program ini merupakan kolaborasi dengan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia. Inisiatif ini adalah wujud diplomasi budaya antara Kerajaan Denmark dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Tujuan utama program ini adalah mendukung kegiatan seni dan kreativitas seniman di kawasan Indonesia Tengah dan Timur, dengan harapan dapat mendorong terciptanya perdamaian dan rekonsiliasi di wilayah domisili mereka.
Sejak diluncurkan pada tahun 2016, program ini awalnya berfokus pada empat provinsi: Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2018, cakupan wilayah diperluas meliputi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, serta Kepulauan Maluku (Maluku dan Maluku Utara).
Magang Nusantara
Kami menggagas program Magang Nusantara yang terbuka bagi pekerja seni Indonesia. Program pembelajaran tahunan ini bertujuan memberi kesempatan bagi para pelaku seni untuk memperdalam pengetahuan dan mengembangkan keahlian manajemen seni di lembaga-lembaga seni dan budaya mapan di Indonesia saat itu yang berperan sebagai Organisasi Tuan Rumah (OTR).
Melalui program ini, peserta magang berkesempatan merasakan langsung suasana kerja di lingkungan baru: terlibat dalam kegiatan, memahami budaya kerja, serta bekerja sama dengan para pakar di bidang seni budaya. Selain menambah pengetahuan dan pengalaman, peserta juga dapat memperluas jejaring. Seusai program, mereka diharapkan membagikan pengalaman tersebut kepada komunitas seni di daerah asal sekaligus menjalin kolaborasi baru agar ekosistem seni terus tumbuh dan berkembang.
Sejak diluncurkan pada tahun 2000, Magang Nusantara telah melahirkan lebih dari seratus alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Program ini meningkatkan kualitas sumber daya manusia seni melalui praktik kerja di organisasi budaya, di antaranya Institut Français Indonesia (IFI) Jakarta, Goethe Institut, Teater Koma, The Japan Foundation, Teater Satu, dan banyak lagi.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing tuan rumah, peserta magang belajar mengelola organisasi budaya dan sanggar, menyusun program, hingga mengelola panggung dan perfilman. Harapannya, pengalaman ini dapat dibagikan kembali kepada komunitas seni di daerah asal sekaligus membuka peluang kerja sama baru.
(Catatan: Panggilan Terbuka Magang Nusantara 2020 dibuka hingga 22 Februari 2020. OTR untuk tahun 2020 adalah Museum MACAN, Teater Satu, The Japan Foundation, Goethe Institut Jakarta, dan Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta.)