Kelola

EN

|

ID

UNTUK SENI DAN BUDAYA

EN

|

ID

KELOLA

UNTUK SENI DAN BUDAYA

Project Hingga 2023

Platform Seniman Perempuan

Kami mulai mendukung seni pertunjukan sejak tahun 2001 melalui Hibah Seni. Setelah lima tahun berjalan, Kelola mencatat, kurang dari seperempat peserta (baik pelamar maupun penerima hibah) adalah perempuan. Dari sinilah program Empowering Women Artists (EWA) hadir untuk turut mengurangi kesenjangan tersebut, dengan memberikan kesempatan bagi perempuan seniman tidak hanya untuk mengembangkan karya, tetapi juga belajar melalui residensi dan pendampingan.

Lebih dari satu dekade kemudian, program EWA berkembang menjadi Hibah Cipta Perempuan (HCP) dan berhenti pada tahun 2018. Saat itulah inisiatif untuk membentuk Women Artists’ Platform dimulai. Platform ini hadir sebagai penyedia pengetahuan sekaligus jaringan dukungan bagi seluruh penerima hibah dari kedua program tersebut. Selain itu, platform ini dirancang untuk mengidentifikasi tantangan dan persoalan yang dihadapi perempuan seniman, serta mencari cara untuk meningkatkan ketangguhan mereka melalui perspektif gender.

Sebagian sesi lokakarya difokuskan pada refleksi pasca penyelesaian program EWA atau HCP, membahas persoalan yang dihadapi sebagai seniman, tantangan yang muncul, serta apa yang mereka kerjakan saat ini. Bersama fasilitator, para peserta didorong untuk melampaui persoalan tersebut dan melihat diri mereka serta dunia dengan perspektif gender yang lebih luas. Tantangannya adalah merumuskan pendekatan baru dan perspektif alternatif untuk memahami isu gender secara lebih kritis dan kontekstual.

Lokakarya ini difasilitasi oleh dua fasilitator utama dan satu pengamat, yaitu Melati Suryodarmo, Ita Fatia Nadia, dan Alia Swastika. Pemilihan dua fasilitator dengan latar belakang berbeda dilakukan secara sengaja untuk memperkaya wawasan peserta perempuan seniman, baik dalam perspektif artistik maupun gender.

Peserta Perempuan Seniman: Ainar Tri Asita, Citra Pratiwi, Dwi Windarti, Erlinda, Gema Swaratyagita, Gita Kinanthi, Kurniasih Zaitun, Nabilla Rasul, Naomi Srikandi, Retno Sulistyorini, Sekar Alit, Siti Ajeng Sulaeman, Yola Yulfianti.

Kami bersama Dia.Lo.Gue, Ars Management, dan Eko Nugroho menghadirkan Royo-Royo #1: Wayang Bocor, sebuah proyek yang digagas Kelola untuk menggalang dana demi keberlangsungan berbagai inisiatif yang menyediakan ruang belajar, berbagi pengetahuan dan keterampilan, sekaligus membangun jaringan bagi para pelaku seni.

Rangkaian kegiatan Festival Royo-Royo meliputi:

  • Pertunjukan “Permata di Ujung Tanduk” oleh The Wayang Bocor
  • Pameran Arsip Pertunjukan “Bungkusan Hati dalam Kulkas” oleh Studio Eko Nugroho
  • Lokakarya Kreativitas bersama Eko Nugroho Art Class
  • Lokakarya Manajemen bersama Ars Management

Kami menyadari bahwa kekayaan seni pertunjukan Indonesia terletak pada pengalaman dan perjalanan para senimannya. Itulah mengapa sejak tahun 2019, kami menggagas sebuah platform bernama Loka Kelola.

Sesuai dengan maknanya (loka berarti “dunia,” “tempat,” atau “lihat”), kami ingin platform ini membuka ruang luas bagi siapa pun untuk belajar langsung dari para pelaku seni pertunjukan. Melalui Loka Kelola, kami mengajak masyarakat memahami: bagaimana seorang seniman menemukan jalan berkeseniannya, bagaimana mereka mengelola praktik kreatif mereka, dan wawasan apa yang mereka bawa untuk mewarnai perkembangan seni pertunjukan di Indonesia.

Untuk memastikan pengalaman berharga ini dapat diakses oleh semua orang, dengan cepat dan luas, kami merekam setiap sesi dalam bentuk video dan menayangkannya melalui berbagai kanal digital. Video ini tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran yang mendalam, tetapi juga sebagai dokumentasi hidup para seniman. Tentu saja, kami menambahkan teks terjemahan dalam bahasa Inggris agar jangkauan program ini meluas, sekaligus menjadi jembatan untuk memperkenalkan seniman-seniman Indonesia ke kancah internasional.

Hartati

Pada edisi perdana Loka Kelola, Hartati membagikan pelajaran berharga yang lahir dari pengalamannya sebagai penari dan koreografer, dengan sejumlah karya penting yang telah ia hasilkan.

Rangkaian Video

Loka Kelola | Hartati: Bagian I – Perkenalan
Loka Kelola | Hartati: Bagian II – Penari
Loka Kelola | Hartati: Bagian III – Koreografer
Loka Kelola | Hartati: Bagian IV – Dalam Karya
Loka Kelola | Hartati: Bagian V – Praktik

Kredit

  • Supervisor Produksi: Dewi Noviami
  • Pelaksana: Fuad Fuaji
  • Videografer: Adel Pasha, Syaiful Anwar, Micko
  • Dokumentasi: Bagasworo Aryaningtyas
  • Takarir: Dhianita Kusuma Pertiwi

Yola Yulfianti

Serial video ini menampilkan Yola Yulfianti, seorang koreografer yang membagikan pengetahuan serta wawasannya mengenai koreografi tari. Yola dikenal sebagai koreografer yang banyak bereksperimen lintas medium dan artistik.

Rangkaian Video

Loka Kelola | Yola Yulfianti: Bagian I – Inspirasi Karya
Loka Kelola | Yola Yulfianti: Bagian II – Struktur Karya Tari
Loka Kelola | Yola Yulfianti: Bagian III- Eksplorasi
Loka Kelola | Yola Yulfianti: Bagian IV – Inspirasi Karya
Loka Kelola | Yola Yulfianti: Bagian V – Manajemen Tari

Kredit

  • Supervisor Produksi: Gita Hastarika
  • Videografer: Purbo Wahyono
  • Penerjemah: Faiza Muhammad
  • Finalisasi: Dewi Noviami, Fuad Fauji, Dhianita Kusuma Pertiwi, Bagasworo Aryaningtyas, Syaiful Anwar
  • Lokasi Produksi: Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Southeast Asia Choreographers Network (SEACN) digagas untuk menyediakan platform yang menjawab kebutuhan pertemuan dan pengembangan kapasitas artistik para koreografer di Asia Tenggara. Platform ini juga bertujuan menumbuhkan serta memperkuat jejaring kerja di antara para peserta dalam produksi pengetahuan, pertukaran sumber daya, serta diskursus seputar isu-isu termutakhir dalam seni pertunjukan di Asia Tenggara. Dalam tiap penyelenggaraannya, SEACN mencakup lokakarya, diskusi, presentasi, dan kunjungan studio.

Hingga penyelenggaraan di tahun ketiga, yaitu edisi 2020, SEACN masih menjadi forum khusus bagi alumni program International Choreographers Residencies di American Dance Festival. Untuk menjangkau dan memberi kesempatan setara bagi koreografer muda di Asia Tenggara, SEACN #4 menjadi forum yang lebih terbuka

Unduh publikasi yang dihasilkan dari SEACN #3 dan SEACN #4 di sini:

Scroll to Top