Database Seniman

Otniel Tasman



BIDANG SENI




KOTA ASAL

Jawa Tengah, Indonesia

Otniel Tasman tak pernah menyangka jika sampur pemberian ibunya di kala ia kecil telah menuntunnya sebagai seorang penari profesional. Ia lahir dari keluarga kurang mampu, 25 Januari 1989 di Banyumas. Sejak Sekolah Dasar (SD) ia gemar mengikuti kegiatan seni terutama musik dan vokal. Bahkan ia pernah menyabet juara satu lomba mocopatan tingkat kecamatan Banyumas. Namun apa mau dikata, karena keterbatasan biaya, orang tuanya tak mampu untuk memasukkan Otniel di lembaga kursus musik seperti yang ia idam-idamkan. Agar Otniel tak merajuk, ibunya memberi selembar sampur. Dasar anak kecil, ia senang bukan kepalang, menari dan berjoget dengan sampur itu. Minat dalam dunia tari pun semakin tumbuh dan terus tumbuh.

Otniel adalah anak ketiga dari pasangan Andreas Homan Tasman dan Tasliyah. Namun karena ia ditinggal bapak saat masih balita, ia hanya hidup dengan ibunya. Oleh ibunya, setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), Otniel digadang-gadang menjadi pendeta pada gereja di kampungnya. Namun Otniel berontak dengan bersikeras melanjutkan studinya di Jurusan Tari SMK N 3 Banyumas (dahulu bernama SMKI) pada tahun 2004. Kerena keputusannya itu, Otniel didiamkan alias tak disapa ibunya selama satu bulan. Bahkan, keputusan masuk di sekolah tari justru menjadi bahan ejekan teman-temannya di kampung halaman. Maklum, bagi sebagian orang, laki-laki dianggap tabu untuk menjadi penari. Menari adalah domain perempuan, dengan tubuh feminin dan gerakan lentik. Otniel berupaya melawan stereotipe itu. Belajar di sekolah tari justru menjadikannya lebih dewasa dan mandiri. Ia tak lagi bergantung pada orang tuanya. Otniel mampu menghidupi dirinya dari hasil pentas tari. Bahkan di titik ini, ia seringkali membantu perekonomian keluarganya.

Selama sekolah, Otniel tergolong siswa yang pandai. Di beberapa kesempatan ia ditunjuk sebagai koreografer mewakili sekolah dan Kabupaten Banyumas pada forum dan festival seni. Terbukti, tahun 2006 ia menjadi penata tari termuda dalam Festival Kesenian Rakyat di Bali. Ia membawa karya berjudul “Lewong”. Berkisah tentang ritual pemanggilan hujan di Banyumas oleh para penari lengger. Lewat karya itu, ia mendapat simpati dan penghargaan. Otniel semakin sadar bahwa tradisi di Banyumas telah menyediakan belantara ide kekaryaan seni tak terbatas. Ia pun semakin jatuh cinta dengan kehidupan dunia lengger. Bagi Otniel, lengger adalah kesenian yang memberi warna bagi kebudayaan Banyumas. Setiap berkarya, hingga saat ini, Otniel kemudian selalu menempatkan lengger sebagai ide garap dan tema utama.

Karier profesional sebagai seorang penari justru dirasakannya saat menjadi mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 2007. Ia tergabung pada komunitas Solo Dance Studio bentukan Eko Supriyanto (dosen sekaligus mentornya). Otniel terlibat dalam banyak kolaborasi, di antaranya bersama Eko Supriyanto pada karya Refuges dan Tawur (2009), Dwi Windarti lewat Karya Mejikuhibiniu (2009), Wisnu HP lewat karta Manusia Pasir (2009), Cahwati dalam karya Ronggeng Dukuh Paruk (2010), Wahyu Santoso Prabowo lewat karya Risang Wrahatnala (2010). Terlibat dalam pementasan karya tari Mata Ati di Singapura (2010). Otniel juga mewakili Indonesia dalam Southeast Asian Young Choreolab di Malaysia (2014).

Kemampuan berkaryanya semakin matang saat mengambil mata kuliah koreografi di semester empat. Bahkan hampir semua hasil karyanya di matakuliah itu dipentaskan di luar tembok kampus seperti pada forum Tidak Sekadar Tari dan Sketsa Tari Bulan Ganjil (Taman Budaya Surakarta). Setelah lulus di Jurusan Tari ISI Surakarta tahun 2013, Otniel secara serius mengembangkan kemampuan berkaryanya. Karya tugas akhirnya yang berjudul “Barangan” -berkisah tentang lengger lanang- banyak membuat publik terhenyak. Maklum, karya itu dibangun dari proses dan penelitian yang lama. Setelah itu, kini ia banyak terlibat dalam berbagai pementasan tari dan resisdensi. Otniel Tasmas adalah koreografer tari kontemporer yang senantiasa menjadikan tradisi Banyumas sebagai pijakan karya. Tak banyak yang sepertinya, mengingat tradisi bagi sebagian orang telah dianggap membasi. Namun tidak demikian halnya dengan Otniel, tradisilah yang memberinya kehidupan.

Profil

Lengger merupakan tari pergaulan, semacam gambyong, gendrung dan tayuban. Tari-tarian itu tersebar hampir di seluruh wilayah Jawa. Kisah menjadi menarik saat yang menarikan adalah laki-laki, bukan perempuan. Laki-laki itu merias dirinya secantik mungkin, angggun dan gemulai. Tak kalah dengan wanita sesungguhnya. Gerakannya enerjik, tenaganya super, mampu bertahan dari sore hingga larut pagi. Di Banyumas dan sekitarnya, mereka biasa disebut dengan “Lengger Lanang”. Hal inilah yang melaterbelakangi ide penciptaan karya Otniel Tasman berjudul “Lengger Laut” (2014). Menyaksikan karya itu beresiko mengundang air mata. Bagaimana tidak, Otniel berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Pelaku lengger lanang selama ini banyak menerima hujatan dan cacian. Ia dianggap sebagai kesalahan budaya, laki-laki tak normal alias aneh. Namun Otniel berhasil mendekostruksi dan menghidupkan kisah itu di atas panggung. Tak tanggung-tanggung, ia membawa maestro lengger lanang bernama Dariah (88 tahun) untuk menutup akhir pementasannya. Dengan suara terbata-bata, gerakan yang tak lagi gemulai, Dariah menari dan menembang. Penonton terdiam, dan banyak di antaranya menangis tersedu-sedu bangga.

Lengger Laut adalah terminal dari karya-karya Otniel sebelumnya. Tahun 2013, ia mementaskan karya berjudul “Barangan”. Masih berkisah tentang lengger. Ia membawa nasib dan takdir penari lengger yang harus mencukupi kebutuhan hidup dengan mbarang alias ngamen dari satu pintu ke pintu rumah lain. Untuk karya ini, Otniel melakukan riset dengan membongkar mitos-mitos yang bersemayam dalam kehidupan penari lengger. Di antaranya, perjalanan kehidupan, doa dan mantra sakral yang digunakan para penari sebelum naik ke panggung serta ritual-ritual suci yang diberlangsungkan. Setahun lebih Otniel melakukan penelitian. Hasilnya, pementasan karya itu menjadi lorong kecil dalam melihat dinamika dan persoalan lengger di Banyumas. Karya Otniel ini tak jauh beda dengan temuan hasil karya ilmiah semacam tesis dan skripsi. Setiap gerak dan babak penuh kisah dengan makna dan arti baru.

Seperti episode dalam film, karya-karya Otniel senantiasa berkait dengan karya sebelumnya. Tahun 2012 ia membuat karya berjudul “Mantra”. Ia menafsirkan doa yang digunakan penari lengger menjadi karya baru yang utuh. Doa-doa itu dihidupkan dalam ujud gerak dan tetembangan berlaras slendro. Seperti melakonkan film dari novel dan puisi, karya Otniel menjadi sajian yang tak sekadar tari, namun mengajak penonton terlibat untuk menafsir ulang narasi tentang lengger. Di balik ujud tari yang lincah-energik dan glamour, suara gamelan yang ramai dengan dinamika kendang menghentak, lengger ternyata dibangun dari kehampaan dan kesunyian, dari kisah rentetan kata (doa) yang sakral dan begitu kontemplatif.

Selama kuliah, Otniel juga melahirkan karya-karya yang memukau. Di antaranya “Roh Wong” tahun 2010 dan “Angruwat” tahun 2011. Bisa ditebak, semua karya itu masih bercerita tentang lengger. Otniel memang ‘manusia lengger’, detak hidupnya tak bisa dipisahkan dari tari itu. Ia sengaja tak membuat karya tari yang muluk, dengan mengeksplorasi temuan gerak-gerak baru layaknya tari kontemporer dewasa ini. Otniel justru membumi, mengais tradisi untuk diolahnya menjadi lebih segar dan baru. Otniel sadar darimana ia berasal. Karya mencerminkan tentang siapa dirinya. Dengan mengangkat tradisi Banyumas, Otniel mencoba memperkenalkan kebudayaan panginyongan itu kepada khalayak yang lebih luas. Ia menjadi satu dari segelintir koreografer di Indonesia yang dibesarkan dari rahim tradisi.

Namun, setiap karya yang dihadirkan justru sesak kreativitas, tak semata memindah episentrum tradisi. Untuk menghidupkan penari lengger lanang misalnya –lihat karya Lengger Laut-, ia memilih para penari yang maskulin, jantan dan gagah. Alias sama sekali tidak pernah berperan sebagai wanita dalam karya tari manapun. Ia tak memilih penari laki-laki yang feminin dengan gerakan lentik. Otniel berusaha memoles dan mengkonstruksi citra feminin dari awal, bukan sengaja dibuat-buat. Oleh karena itu, kefemininan lelaki dalam karya tarinya adalah bercitarasa ala Otniel yang sesungguhnya. Otniel pernah meraih program Hibah Kelola (2014) lewat karya tari Lengger Laut, dan karya ini juga dipentaskan dalam Indonesian Dance Festival, Temu Koreografer muda di Jakarta pada tahun yang sama.

Aris Setiawan – Penulis

Karya

Lewong (2007)
Angruwat (2009)
Rohwong (2010)
Mantra (2012)
Barangan (2013)
Lengger Laut (2014)

Kontak

Otniel Tasman
Central Java
Email: otnieltasman@gmail.com\

Galeri