Hibah Cipta Perdamaian

Seni memiliki peran besar dalam masyarakat Indonesia. Di seluruh Nusantara, seni hadir pada kehidupan sehari-hari mulai dari sebagai penanda kelahiran, penyempurna hari-hari bahagia, hingga pengiring kematian. Di masyarakat tertentu, seni juga dipakai untuk menyiarkan kebesaran Tuhan, menandai tingginya peradaban, hingga melerai perselisihan.

Pada saat dunia global sedang memanas, dengan segala ketimpangan yang memicu kemarahan, sentimen-sentimen negatif yang sengaja dipupuk, dan kebodohan yang belum juga terentaskan, seni dituntut untuk berperan lebih nyata lagi. Seni tidak lagi cukup menjadi sebuah pertunjukan yang hanya bicara tentang seni. Meskipun, pada dasarnya, seni memang tidak pernah hanya berbicara tentang seni itu sendiri.

Hibah Cipta Perdamaian diinisiasi untuk mendukung seniman-seniman yang memiliki visi tersebut dan sudah memasukkan agenda transformasi sosial ke dalam praktik berkeseniannya, baik itu dalam bentuk tema karya, pendekatan artistik, metode partisipatif, atau dengan cara-cara presentasi yang inovatif dan disruptif. Dengan segala keterbatasan dukungan, seniman-seniman yang memiliki keberpihakan ini menghadapi tantangan besar karena wilayah domisili mereka yang memiliki permasalahan-permasalahannya sendiri. Inilah mengapa Kelola dan Kedutaan Besar Denmark membuka program ini sejak 2016 lalu.

Hibah Cipta Perdamaian menyasar provinsi-provinsi di Indonesia Tengah dan Timur yang menderita minimnya infrastruktur, terlebih lagi infrastruktur seni. Selain sebagai upaya menekan ketidaksetaraan akses, kami juga melihat pada saat infrastruktur seni minim, maka seni bisa hidup dengan dukungan masyarakat dan komunitas sebagai modal kreatifnya. Karena itulah program ini juga bertujuan untuk mendukung penguatan komunitas seni di wilayah-wilayah tersebut.

Inisiatif ini didukung oleh Kedutaan Besar Denmark untuk tiga tahun berturut-turut yaitu 2016 sampai 2018, di mana pada tiap tahun ada 10 hibah yang akan diberikan.