Database Seniman

Trisutji Kamal



BIDANG SENI




KOTA ASAL

Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

Kanjeng Raden Ayu (K.R.A.) Trisutji Djuliati Kamal lahir di Jakarta pada tanggal 28 November 1936 dari keturunan keluarga ningrat di Jawa. Ayahnya keturunan Kraton Mangkunegaran sedang ibunya, BRA Nedima Kusmarkiah adalah cucu langsung dari Paku Buwono X yang menduduki tahta di kraton Kesunanan Solo hingga pada masa kolonial. Ayah Trisutji adalah seorang dokter yang bekerja untuk Sultan Langkat di Binjai, kawan dekat Paku Buwono X. Oleh sebab itu, masa kecil Trisutji berada dalam lingkungan kuat kebudayaan Jawa, Batak dan Melayu yang kemudian sangat mempengaruhi karya-karya musiknya.

Trisutji bisa dibilang lahir dalam lingkungan keluarga yang berbakat kesenian, seperti umumnya mereka yang tinggal dalam lingkungan kraton. Ayahnya, Dr. R.M. Djulham Surjowidjojo selain dokter juga adalah pemain biola dan pelukis amatir yang cukup handal. Adiknya, Diplom Ing. R.M. Tripudjo Djuliarso adalah seorang pemain biola yang kemudian menjadi pengusaha.

Sejak usia 7 tahun Trisutji sudah menunjukkan bakatnya sebagai seorang komponis. Ia belajar piano klasik di Binjai dan mulai menciptakan karya musik yang lebih serius untuk piano sejak berusia 14 tahun. Pada masa itu sangat sulit membayangkan bagaimana seorang gadis muda belia dari keluarga ningrat yang berada diperbolehkan untuk belajar keluar negeri seorang diri. Namun karena kedua orang tua Trisutji adalah orang terpelajar hasil didikan Eropa, maka Trisutji diberi kesempatan untuk belajar musik keluar negeri pada usia yang sangat muda.

Awalnya ia berangkat ke Amsterdam untuk belajar piano dan komposisi. Disana Trisutji berguru pada seorang tokoh musik abad 20 Belanda yang terkenal, yaitu Henk Badings. Kebetulan Henk Badings adalah seorang komponis Belanda yang lahir di Bandung, sehingga hubungan mereka sangat dekat. Dari Amsterdam Trisutji melanjutkan pelajaran musiknya ke Ecole Normale de Musique di Paris dan kemudian Santa Cecilia Conservatory di Rome.

Di Roma ia memiliki guru komposisi orang Rusia yang mendorongnya untuk menciptakan sebuah opera berdasarkan legenda negerinya sendiri. Opera berjudul “Loro Jonggrang” ini diciptakan pada waktu Trisutji memperdalam musik serial sehingga karya tsb merupakan perpaduan dari konsep tangganada pentatonik, dodecaphonic, dan gaya musik vokal Bel Canto Italia.

Pada tahun 1967 Trisutji kembali ke Tanah Air. Jakarta saat itu memasuki era kebudayaan yang baru di bawah pimpinan seorang gubernur yang sangat progresif, yaitu Ali Sadikin. Disana ia bergabung dengan beberapa tokoh musik muda Indonesia yang sama-sama baru kembali dari luarnegeri. Di antaranya adalah Frans Haryadi dan Iravati Soediarso. Ketiga orang ini kemudian berperan sangat penting dalam mendirikan sebuah icon dunia seni moderen Indonesia, yaitu Taman Ismail Marzuki pada tahun 1968.

Franki Raden

Profil

Trisutji dengan bekal pendidikan dan pengalamannya sebagai komponis di Eropa sangat berjasa dalam mengembangkan periode awal pertumbuhan dunia musik kontemporer Indonesia. Bersama-sama dengan Frans Haryadi, yang juga belajar pada komponis terkenal abad 20 Jerman Boris Blacher, Trisutji saat itu adalah komponis wanita pertama yang terjun secara professional ke dalam dunia musik kontemporer Indonesia. Kehadirannya dalam konteks ini merupakan sebuah titik penting dalam perkembangan sejarah kebudayaan moderen Indonesia yang saat itu di dominir oleh pria.

Ketika Institut Kesenian Jakarta berdiri di tahun 1970, Trisutji menjadi dosen musik disana bersama-sama dengan Frans Haryadi dan Iravati Soediarso. Pada masa itu dunia perfilman Indonesia mulai bangkit sehingga Trisutji juga aktif dalam membuat musik untuk film.

Mengingat dunia musik kontemporer Indonesia saat itu belum berdiri tegak, dunia perfilman adalah satu-satunya wadah bagi para komponis untuk dapat merealisir karya-karya mereka. Beberapa karya musik film Trisutji yang terpenting adalah “Apa Yang Kau Cari Palupi” (di sutradarai oleh Asrul Sani), ”Lewat Tengah Malam” (di sutradarai Syuman Djaya), dan “Jangan Ambil Nyawaku” (di sutradarai Sophan Sophian). Namun Trisutji dengan segala jaringan pendukungnya adalah salah satu dari sedikit komponis Indonesia yang dapat mementaskan karya-karyanya untuk publik, terutama yang telah diringkas menjadi karya piano. Dengan posisinya sebagai pianis saat itu ia tidak mendapat kesulitan untuk mementaskan karyanya yang penting “Gunung Agung” (1963) pada tahun 1979 di Teater Terbuka, TIM. Karya dalam bentuk ansambel kecil ini (piano, cello, flute, kendang Bali, timpani dan perkusi) merupakan titik penting dalam periode kreatif Trisutji yang berhubungan dengan penggunaan konsep tangga nada pentatonik gamelan.

Menginjak awal tahun 1990an Trisutji mulai menjalani kehidupan beragama yang sangat intens. Sepulangnya dari Mekah di awal tahun 1990an ia mulai lebih banyak meniupkan nafas Islam ke dalam karya-karyanya. Alhasil Trisutji berhasil menciptakan sebuah bentuk musik kontemporer Islam yang berakar pada budaya lokal Indonesia. Salah satu karyanya dalam periode ini yang sangat penting bagi sejarah perkembangan musik kontemporer Indonesia adalah “Persembahan” (1992) yang ia tulis untuk ansambel musik kamar dan koor.

“Persembahan” menggunakan puisi panjang Emha Ainun Najib sebagai naskah. Karya ini di pentaskan dalam rangka sebuah festival penting musik kontemporer Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta. Pada pementasan ini Trisutji menggarap “Persembahan” dalam bentuk teatrikal dengan menggunakan seorang aktor yang berdandan seperti seorang santri dan dua orang Kori yang membacakan doa secara stereofonik di balkon kiri dan kanan gedung.

“Persembahan” secara elok menggambarkan bagaimana kompleksitas permasalahan budaya di negeri ini. Didalamnya kita menemukan berbagai lapisan masalah musikal maupun budaya yang di garap oleh Trisutji dalam sebuah komposisi. Kompleksitas ini misalnya terdapat pada unsur: (1) bentuk musik yang menggabungkan gaya operatik dan qasidahan, (2) instrumentasi yang menggunakan alat musik Barat dan tradisional, (3) tangga-nada yang merupakan kombinasi antara tangga nada diatonis Barat, pentatonik gamelan dan heptatonik Timur Tengah, dan (4) idiom musik abad 20 Barat yang berbaur dengan musik Jaipongan, joget Melayu dan Islami. Pada akhirnya “Persembahan” menunjuk pada gejala yang sangat khas dalam kehidupan budaya urban Indonesia di era globalisasi ini, yaitu gejala masyarakat postmoderen yang sekaligus mengacu pada konsep kebudayaan nasional yang tertuang dalam UUD 45.

Pada tahun 1994 Trisutji mendirikan sebuah ansambel kecil yang khusus memainkan karya-karyanya. Dengan ansambelnya ini Trisutji sering berkeliling pentas di panggung internasional. Pada akhirnya Trisutji mengokohkan posisinya sebagai duta musik kontemporer Indonesia. Di usianya yang sudah menginjak angka 75 tahun ini Trisutji Djuliati Kamal tetap menjadi komponis Indonesia yang paling produktif dan aktif mementaskan komposisinya di dalam dan luar negeri. Karya-karya yang seluruhnya berjumlah sekitar 400 ini sebagian dapat di peroleh dalam bentuk CD, terutama karya-karya piano solonya dalam album yang berjudul “Complete Piano Works Series” (1951-2006).

Franki Raden

Kontak

Trisutji Kamal
Jln. MPR V/15, Cilandak Jakarta 12430 Jakarta